Kisah 4 Orang Terombang-ambing di Tengah Samudra Pasifik, Hanya Berbekal Air Hujan dan Kelapa

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah kapal yang mengangkut 12 orang menuju Kepulauan Carteret, Papua Nugini mengalami kecelakaan. Delapan orang penumpang di antaranya dilaporkan tewas, sementara empat sisanya ditemukan mengapung di perairan Samudra Pasifik.

Melansir laman Travel+ Leisure, Sabtu, 15 Februari 2020, kapal tersebut berangkat dari Buka, Bougainville, Papua Nugini sebelum Hari Natal, tepatnya 22 Desember 2020, untuk menghabiskan liburan di Kepulauan Carteret. Namun, di tengah jalan, kapal tersebut terbalik. 

Empat korban selamat tragedi nahas di Samudra Pasifik itu ditemukan sebulan setelahnya, yaitu 23 Januari 2020. Keempat orang tersebut terdiri dari seorang perempuan beserta anak berusia sekitar 12 tahun, lelaki 20-an tahun, dan lelaki diketahui bernama Dominic Stally. 

Sebagai salah satu yang selamat, Dominic tak menceritakan secara detail peristiwa tersebut karena masih emosional. Ia mengatakan, saat kapal terbalik, beberapa orang berusaha berenang dan membalikkan perahu. Tapi, ada yang tidak kuat, hingga kemudian tewas. 

Mereka yang selamat berusaha mencoba membantu yang lain, namun gagal. "Kami tidak bisa melakukan apapun dengan mayat mereka. Kami akhirnya harus meninggalkan mereka di tengah laut," ujar Dominic. 

Ia menambahkan, saat sudah di atas kapal di tengah Samudra Pasifik, sepasang suami-istri sebelum meninggal menitipkan bayi mereka ke Dominic. Tapi, beberapa saat kemudian, bayi tersebut turut menghembuskan napas terakhir.

"Saya benar-benar minta maaf. Tapi, tak ada lagi yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan keluarga tersebut," ucapnya. 

 

Bertahan dengan Air Hujan dan Kelapa

Ilustrasi kelapa. (dok. Josch13/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)

Setelah beberapa lama terombang-ambing di tengah laut, Dominic menyakini ada beberapa perahu nelayan yang lewat. Namun, mereka terlampau jauh untuk melihat kapal yang mereka tumpangi. 

Akhirnya, pada 23 Januari 2020, mereka ditemukan kapal nelayan dekat Kaledonia Baru. Di sana, mereka beristirahat dan diberi asupan makanan. Setelah itu, mereka diturunkan di Honiara, Ibu Kota Kepulauan Solomon pada 8 Februari 2020. 

Dominic menambahkan, mereka berempat bertahan dengan makan daging kelapa dan meminum airnya, meski mereka pun tak tahu pasti dari mana kelapa tersebut datang. Selain itu, mereka menampung air hujan dengan mangkuk yang digunakan untuk mengeluarkan air dari kapal. 

Semua yang selamat dilaporkan mengalami dehidrasi dan saat ini sedang menjalani perawatan. (Tri Ayu Lutfiani)

 

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Sebuah kapal pesiar Diamond Princess berlabuh di Pelabuhan Yokohama pada saat kedatangan di Yokohama, dekat Tokyo, Selasa, (4/2/2020). (Kyodo News via AP)