Kisah Abu Nawas Sembuhkan Sakit Cintanya Sang Pangeran

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Siapa yang tidak kenal Abu Nawas, ia adalah penyair termasyhur pada masa Dinasti Abasyiah. Lahir dengan nama Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakimi, lalu oleh orang Baghdad diberi julukan Abu Nawas yang artinya bapak Ikal, julukan itu disematkan lantaran rambut Abu Nawas panjang dan ikal.

Selain dikenal dengan syairnya yang melegenda, Abu nawas juga memiliki cerita yang unik dan menakjubkan.

Dikisahkan, pangeran yang menjadi putra mahkota jatuh sakit, sudah banyak tabib yang didatangkan untuk memeriksa dan mengobati, tapi tak seorangpun yang mampu menyembuhkannya. Akhirnya raja mengadakan sayembara. Sayembara tersebut boleh diikuti oleh rakyat dari semua lapisan tidak terkecuali oleh para penduduk negeri tetangga.

Sayembara yang menyediakan hadiah menggiurkan itu dalam waktu beberapa hari terhasil menyerap ratusan peserta, namun tak satu pun dari mereka berhasil mengobati penyakit sang pangeran.

Akhirnya sebagai sahabat dekat, Abu Nawas menawarkan jasa untuk menolong putra mahkota. Baginda Raja Harun Ar-rasyid pun menerima usul itu dengan penuh harap.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Sayembara Raja

Ilustrasi ruang makan kerajaan (unsplash)
Ilustrasi ruang makan kerajaan (unsplash)

Abu Nawas sadar bahwa dirinya bukan tabib atau dokter, maka dari itu ia tidak membawa peralatan apa-apa. Tabib yang ada di istana tercengang melihat Abu Nawas yang datang tanpa peralatan yang mungkin diperlukan.

Mereka berpikir mungkinkah orang macam Abu Nawas ini bisa mengobati penyakit sang pangeran? Sedangkan para tabib terkenal dengan peralatan yang lengkap saja tidak sanggup, bahkan penyakitnya tidak terlacak.

Merasa bahwa seluruh perhatian tertuju padanya, Abu Nawas tidak begitu mempedulikannya, ia dipersilahkan memasuki kamar pangeran yang sedang terbaring, dia menghampiri sang pangeran dan duduk di sisinya. Abu Nawas dan sang pangeran saling pandang, beberapa saat kemudian setelah memeriksa keadaan pangeran, Abu Nawas malah meminta permintaan yang aneh.

Ia berkata "Saya membutuhkan seorang pria tua yang di masa mudanya sering mengembara ke pelosok negeri."

Permintaannyapun dikabulkan oleh kerajaan, orang tua yang diinginkan Abu Nawas didatangkan. Orang tua itu duduk disebelah Abu Nawas untuk memenuhi permintaannya.

"Sebutkan satu persatu nama-nama desa di daerah selatan," perintah Abu Nawas kepada orang tua itu. ketika orang tua itu menyebutkan nama-nama desa bagian selatan, Abu Nawas menempelkan telinganya ke dada sang pangeran, kemudian Abu Nawas memerintahkan agar menyebutkan bagian utara, barat dan timur.

Setelah semua bagian negeri disebutkan, Abu Nawas mohon agar diizinkan mengunjungi sebuah desa di sebelah utara. Raja pun merasa terkejut dengan permintaan Abu Nawas.

"Aku mengundang kamu ke sini bukan untuk bertamasya," kata raja

"Hamba tidak bermaksud berlibur yang mulia," jawab Abu Nawas.

"Tetapi aku belum paham," sahut raja.

"Maafkan hamba Paduka yang mulia, kurang bijaksana rasanya bila hamba jelaskan sekarang," jelas Abu Nawas.

Cinta adalah nyawa

Ilustrasi barisan unta yang sedang berjalan di gurun pasir. (dok. Unsplash/ Sergey Pesterev)
Ilustrasi barisan unta yang sedang berjalan di gurun pasir. (dok. Unsplash/ Sergey Pesterev)

Abu Nawas pun pergi selama dua hari. Saat kembali dari desa itu, ia menemui sang pangeran dan membisikkan sesuatu, kemudian menempelkan telinganya ke dada sang pangeran, lalu Abu Nawas menghadap Raja.

"Apakah yang mulia masih menginginkan sang pangeran tetap hidup?" tanya Abu Nawas.

"Apa maksud perkataanmu?" raja balas bertanya.

"Sang pangeran sedang jatuh cinta pada seorang gadis di desa sebelah utara negeri ini," kata Abu Nawas menjelaskan.

"Bagaimana kau tahu?" tanya raja.

"Ketika nama-nama desa di seluruh negeri disebutkan, tiba-tiba degup jantungnya bertambah keras saat mendengarkan nama sebuah desa di bagian utara negeri ini, tetapi sang pangeran tidak berani mengutarakannya kepada baginda," terang Abu Nawas.

Cinta itu buta, maka harus diobati kebutaannya

Ilustrasi pernikahan (iStock)
Ilustrasi pernikahan (iStock)

"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya raja.

"Mengawinkan pangeran dengan gadis desa itu, sebab cinta itu buta wahai raja, bila tidak berusaha mengobati maka ia akan mati."

Rupanya saran Abu Nawas tidak bisa ditolak, sang pangeran adalah putra satu-satunya yang merupakan pewaris tunggal kerajaan dan Abu Nawas benar. Begitu mendengar persetujuan sang raja, setelah dikawinkan dengan gadis desa tersebut, sang pangeran berangsur-angsur pulih. Sebagai tanda terima kasih, raja memberi Abu Nawas sebuah cincin permata yang sangat indah.

Penulis:

Ulwanul Askan

UIN Jakarta

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel