Kisah Anak Kebun Riau Bertugas Jadi Anggota Paskibraka di Istana Merdeka

Liputan6.com, Jakarta Heri tak lagi mampu membendung butiran air yang memenuhi pelupuk kedua matanya. Seketika, kulit pipinya yang termakan usia mulai basah dengan sendirinya saat menyaksikan anak perempuannya yang merupakan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) berdiri gagah di hadapan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Bangga, haru, bahagia, bercampur aduk dalam sukacita kala melihat putri tercinta berdiri di hadapan orang nomor satu di Indonesia saat menjadi salah satu dari 68 anggota Paskibraka yang dikukuhkan di Istana Merdeka, Senin, 16 Agustus 2021.

Dwita Okta Amelia Herdian. Gadis 16 tahun itu adalah putri pasangan Heri (51) dan Nurdiana Ritonga (44). Keduanya merupakan karyawan Perkebunan Sawit Nusantara V, unit kebun Sei Intan di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau.

Tepat hari ini, Selasa (17/8/2021), Dwita, begitu gadis itu akrab disapa, menyedot jutaan pasang mata seluruh rakyat Indonesia. Ia menjadi salah satu pasukan pengibar Sang Saka Merah Putih di halaman Istana Merdeka.

Kepada wartawan, karyawan Pabrik Kelapa Sawit itu mengaku tak pernah menyangka Dwita bakal menjadi perwakilan Provinsi Riau untuk ambil bagian dalam momen bersejarah tersebut. Terlebih lagi, Dwita berasal dari SMA Negeri I Kunto Darussalam, sebuah sekolah yang awalnya jauh dari perhitungan, namun mampu mengalahkan ratusan peserta sekolah favorit nan unggulan.

"Saya mendukung. Teman-teman di kantor juga memberikan doa. Tapi tidak pernah saya berani membayangkan dia akan berada di sana. Berdiri mengibarkan bendera di Istana Merdeka," kata ayah Dwita dengan mata berkaca-kaca dilansir Antara.

Hal itu tak lain karena Dwita dikenal anak yang nyaris jarang keluar rumah sepulang sekolah. Tapi, satu yang pasti, Dwita anak berprestasi. Melahap semua pelajaran dan ekstrakurikuler di sekolahnya dengan mantab.

Heri telah mengabdi di perusahaan perkebunan milik negara PTPN V sejak 1991. Namun, dia mengatakan Agustus 2021 inilah yang menjadi momen paling besar pernah ia rasakan. Selain Dwita mengharumkan nama keluarga, ia akan menancapkan 30 tahun masa kerjanya di bulan kemerdekaan ini.

Heri mengisahkan, perjalanan Dwita yang bercita-cita menjadi anggota Polri tersebut untuk menjadi bagian Paskibraka di Istana Merdeka cukup panjang.

"Saat itu dia bilang ke saya, meminta doa saya dan ibunya untuk ikut seleksi Paskibraka. Dia ingin sekali menjadi bagian pengibar bendera di Jakarta," ujarnya.

Perjalanan panjang Dwita hingga ke Jakarta diawali dari tingkat paling bawah, tingkat kecamatan. Satu per satu tahapan di jalani dengan tekun dan doa. Hingga akhirnya, nama siswa kelas Xl MIPA 1 itu muncul untuk lanjut ke tahapan seleksi kabupaten. Terdapat ratusan siswa yang mengikuti seleksi itu.

Ia terpilih untuk lanjut seleksi tingkat provinsi di Pekanbaru. Bendera perjuangan kembali dikibarkan dengan ratusan pelajar terbaik Bumi Lancang Kuning ini.

Sempat khawatir akibat pandemi Covid-19, Heri pun ikhlas melepas putri kesayangannya dari desa ke kota. Seleksi di Pekanbaru berlangsung selama empat hari, sejak 19 Mei hingga 22 Mei 2021. Pada hari terakhir, teleponnya berdering, terdengar isak tangis nun jauh di ujung gawai. Dwita terpilih untuk berada di Istana Merdeka mengibarkan Merah Putih di hadapan Kepala Negara.

Dia mengaku sempat tidak percaya. "Saya bangga sekali. Teman-teman di tempat kerja juga begitu bangga. Ada anak kebun yang berhasil lolos ke tingkat nasional," ujarnya.

Anak kebun adalah istilah yang akrab disematkan kepada para anak karyawan PTPN V.

Dwita Bangga Jadi Paskibraka

Sementara itu, Dwita mengaku menjadi sebuah kehormatan bagi dirinya menjadi Paskibraka di Istana Merdeka. Menurut dara yang mudah tersenyum itu, Paskibraka bukan hanya sekedar mengibarkan bendera. Tetapi tentang disiplin, fisik, pengetahuan, dan mental.

"Dengan terpilihnya saya menjadi perwakilan Provinsi Riau yang berarti saya diberi tanggung jawab dari para ibu dan bapak di Dinas Pemuda dan Olahraga Riau, kakak pelatih serta yang bersangkutan untuk menjadi perwakilan Provinsi Riau," tutur Dwita sebelum terbang ke Jakarta, akhir Juli 2021 lalu.

Gubernur Riau, Syamsuar berharap Dwita dan Hervy Shendyka, dua pemuda terbaik yang mewakili Riau ke Istana Merdeka dapat membanggakan kedua orang tua, membawa nama baik daerah, dan menambah wawasan.

"Yang terpenting ikhtiar, tetap jaga kesehatan, selalu jaga kekompakan, dan juga jaga nama baik daerah. Semoga sehat selalu, ibadah jangan lupa, tiba waktunya salat, salat," ujar Syamsuar.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel