Kisah Anak Tuhan di Tengah Kecamuk Perang Pasifik

Radhitya Andriansyah

VIVA – Berlangsung selama 41 hari, Pertempuran Okinawa antara militer Amerika Serikat (AS) melawan Jepang disebut sebagai peristiwa paling berdarah dalam rangkaian Perang Pasifik. Bagaimana tidak, lebih dari 130 ribu nyawa melayang dalam perang di pulau kecil sebelah selatan wilayah Jepang.

Pulau Okinawa adalah sebuah pulau kecil yang memiliki luas hanya 1.201,03 kilometer persegi. Pulau ini adalah salah satu dari untaian Kepulauan Ryukyu. Pada 1 April hingga 22 Juni 1945, pulau ini berubah merah bak api neraka sedang menjulurkan lidah panasnya.

Mengutip catatan Bill Sloan dalam bukunya The Ultimate Battle, AS didukung sekutunya, Kanada, Australia, Selandia Baru dan Inggris, mengerahkan hampir 800 ribu prajurit untuk menghadapi perang ini. Sementara di sisi Jepang, New York Times mencatat jika Negara Matahari Terbit yang mengalami kekalahan telak cuma punya pasukan tak sampai 100 ribu.

VIVA Militer: Pertempuran Okinawa

Meski demikian, tak mudah bagi AS dan sekutunya untuk bisa langsung memenangkan peperangan dan menguasai Okinawa. Sebab, tentara Jepang jelas tahu betul medan yang dihadapinya. Terutama di satu bagian dari pulau itu, banyak tentara AS yang tewas tanpa perlawanan. 

Bagian dari pulau itu adalah sebuah bukit curam setinggi lebih dari 100 meter. Bukit itu dikenal dengan nama Lereng Curam Maeda (Maeda Escarpment), sementara militer AS menyebutnya Bukit Gergaji (Hacksaw Ridge).

Stripes.com menyebut, AS kehilangan sekitar 500 dari total 800 orang prajurit dalam pertempuran di Maeda Escarpment. Sementara dari pihak Jepang, ada sekitar 3000 tentara yang tewas.

VIVA Militer: Bukit Gergaji (Hacksaw Ridge) di Pulau Okinawa

Meskipun kalah jumlah, pada akhirnya pihak AS berhasil memenangkan pertempuran. Walaupun juga, tak mudah menghentikan perlawanan Jepang yang membangun banyak parit dan gorong-gorong untuk berlindung. Sementara, pasukan AS harus lebih dulu memanjat tebing curam setinggi 100 meter lebih sebelum berhadapan dengan maut.

Di Hacksaw Ridge, ada sebuah kisah heroik seorang prajurit berpangkat Kopral. Ya, dia adalah Desmond Doss, putra veteran Perang Dunia I, William Thomas Doss. Doss diketahui adalah seorang Kristiani yang sangat taat. Ajaran agama Kristen Adven Hari Ketujuh yang diimaninya, membuat Doss dikenal sebagai pribadi yang sangat baik.

Menurut catatan Historynet.com, Doss adalah seorang vegetarian dan sangat tak suka dengan tindakan represif atau kekerasan. Akan tetapi, rasa nasionalisme dan keinginannya yang besar untuk membantu sesama manusia, mengirimnya ke medan perang tanpa rasa takut. Doss menghadapi dentuman bom dan ancaman kecepatan peluru dengan keimanan yang begitu tinggi.

VIVA Militer: Tim Medis US Army di Perang Pasifik

Tekanan yang dirasakan oleh Doss tak cuma ada saat ia menginjakkan kaki di arena pertempuran. Tetapi, ia sudah mendapat ujian berat saat mengikuti pendidikan militer. Pada April 1942, Doss ditempa di sekolah militer Fort Jackson, South Carolina. Ia disiapkan untuk menjadi bagian dari Divisi Infanteri ke-77.

Dalam film berjudul Hacksaw Ridge yang disutradarai oleh Mel Gibson pada 2016, dikisahkan Doss menolak mengikuti sesi latihan menembak. Pada saat rekan-rekannya dengan bersemangat mengambil senapan, Doss memilih diam dan coba berdiplomasi dengan instrukturnya.

Sontak, sang instruktur pun bingung dan kemudian marah besar mengingat apa yang dilakukan Doss. Doss dianggap tak mematuhi perintah atasan, dan bahkan dicap sebagai pengkhianat oleh rekan-rekannya. Penolakan Doss ini tak lepas dari pribadinya yang taat kepada ajaran agama.

VIVA Militer: Desmond Doss (kanan) semasa masih bertugas di US Army

Sikap Doss ini hingga membawanya ke Mahkamah Militer AS untuk diadili. Mendengar kabar sang putra bakal diadili, William pun sampai turun tangan membantunya. Beruntung, Hakim yang bertugas saat sidang Doss adalah mantan atasan sang ayah pada Perang Dunia I.

Pada akhirnya, Doss terbebas dari hukuman dan masuk dalam Divisi Infanteri ke-77 yang diterbangkan ke Okinawa. Meski rasa takut berkecamuk layaknya seorang manusia yang berhadapan dengan maut, Doss tetap pasrah kepada Sang Khalik. 

10 Aturan Tuhan yang tertulis dalam Kitab Taurat, jadi modal Doss menghadapi perang dengan berani. Ia memilih tak memegang senjata dan bergabung di tim medis. Bisa dibayangkan, ratusan butir peluru dan bom ada di sekitarnya. 

VIVA Militer: Desmond Doss bersama Presiden AS Harry S. Truman

Malaikat maut pun bisa setiap saat mencabut nyawanya. Akan tetapi, Doss tetap tak mau memegang senjata dan membunuh sesamanya meski secara realita prajurit-prajurit Jepang adalah lawannya. Hukum keenam dalam 10 Aturan Tuhan di Kitab Taurat adalah membunuh. Ini adalah alasan terkuat Doss untuk menolak memikul senapan dan menghabisi lawannya.

Dalam buku Chapter XI Assaulting The Second Shuri Defense Ring yang ditulis oleh Burns Appleman dan Stevens Giegler, disebutkan bahwa Doss menolong sekitar 50 hingga 100 orang prajurit, termasuk anggota Divisi Infantery ke-96. Meskipun, Doss sempat terkena luka tembak yang cukup parah hingga harus dilarikan ke Kapal Induk USS Mercy untuk mendapat perawatan pada 21 Mei 1945.

Aksi heroik tak hanya dilakukan Doss di Pertempuran Okinawa. Ia juga melakukan hal yang sama saat menghadapi Pertempuran Leyte (Filipina) dan Pertempuran Guam. Berkat jasanya, Doss dianugerahi tiga tanda kehormatan dari Angkatan Darat AS (US Army).

Bukan cuma AS yang akan selalu mengingat sosok humanis dan agamais ini. Dunia Militer di muka bumi tentu akan selalu mengenang sosok Desmond Doss.