Kisah Anton Medan Tolak Bantuan saat Dia Membangun Pesantren

Mohammad Arief Hidayat, Zahrul Darmawan (Depok)
·Bacaan 1 menit

VIVA – Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ramdhan Effendy alias Tan Hok Liang, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Anton Medan, meninggal dunia pada Senin, 15 Maret 2021.

Sejak bertobat dari dunia kejahatan dan memutuskan menjadi seorang mualaf, Anton dikenal kerap berbuat kebaikan. Ia tak pernah membeda-bedakan orang sekalipun pada narapidana.

Pria yang wafat pada usia 64 tahun itu dikenal kerap membagikan pengalaman spiritualnya pada banyak orang, termasuk pada mereka yang berada di balik jeruji besi. Sebagai mantan narapidana, tentu ia tahu benar rasanya berada di bui.

“Beliau semasa hidup senang berbuat kebaikan, terutama kerap membantu para narapidana di lapas seluruh Indonesia dalam pemberian pembekalan rohani untuk dapat berubah menjadi orang yang lebih baik setelah bebas nanti,” kata Syamsul Bahri Radjam, salah satu kerabat di rumah duka, di area Pondok Pesantren At-Taibin, Pondok Rajeg, Cibinong, Kabupaten Bogor.

Sejak memutuskan memeluk Islam, Anton Medan fokus pada agama. Bahkan ia mendirikan Pondok Pesantren At-Taibin pada 2002. Pesantren itu dibangun dari uang tabungannya sendiri, hasil usaha peternakan dan percetakan yang dia miliki.

“Meski ada beberapa orang yang ingin membantu bahan material, ditolak sama beliau. Maksudnya beliau ini ingin berusaha dengan berkorban terlebih dahulu,” katanya.

Di mata keluarga, Anton Medan adalah sosok orang yang memegang prinsip kuat. Ia berwasiat pada anak-anaknya agar menjalani kehidupan tidak takut untuk tidak populer.

Anton Medan meninggalkan istri Erisa Apsari (39 tahun) dan tujuh anak. Ia meninggal dunia karena sakit gula di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bogor, sekira pukul 15.05 WIB. Jenazah akan dimakamkan pada Selasa, 16 Maret.