Kisah Bapak TNI AU dari Malaria, Diskriminasi Hingga Pesawat Rongsok

Febrika Indirawati

VIVA – Tanggal 9 April 1946 merupakan momen terpenting bagi TNI AU, karena menjadi dasar pembentukan dan lahirnya TNI AU.

Ketetapan itu juga sekaligus menunjuk Komodor Udara R. Soerjadi  Soerjadarma sebagai Kepala Staf Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TRI AU) yang pertama dan saat itu berkedudukan di Yogyakarta.

Berdasarkan informasi dari situs resmi milik TNI AU Sabtu 23 Mei 2020, awal mula Soerjadarma bisa berada di militer adalah ia mengikuti Akademi Militer di Breda, Belanda yang  ditempuh selama tiga tahun. Sehingga ia memiliki dasar-dasar kemiliteran dan kepemimpinan.

Setelah lulus dari Akademi Militer Breda pada tahun 1934, Soerjadarma ditempatkan di Satuan Angkatan Darat Belanda di Nijmigen, Negeri Belanda, akan tetapi satu bulan kemudian Soerjadarma dipindahkan ke Batalyon I Infantri di Magelang sampai bulan November 1936.

VIVA Militer: Para Prajurit TNI AU di Masa Kemerdekaan Indonesia

Dengan status sebagai perwira dengan pangkat Letnan Dua,  Soerjadarma mendaftarkan diri sebagai Calon Cadet Penerbang. Meski lulusan Breda, Soerjadarma sudah dua kali mencoba mengikuti tes masuk Sekolah Penerbang. Namun selalu gagal dengan alasan Soerjadarma menderita sakit Malaria.

Akhirnya berkat keuletan dan kemauan yang keras, pada tes yang ketiga Soerjadarma akhirnya dapat diterima menjadi siswa penerbang yang diselenggarakan di Kalijati.

Soerjadarma menyelesaikan pendidikan Sekolah Penerbang pada bulan Juli 1938, namun tidak pernah diberikan brevet penerbang berhubung adanya politik diskriminasi Belanda, yang tidak mengizinkan seorang pribumi untuk menjadi penerbang karena Militaire Luchtvaartdient merupakan kelompok elite Belanda saat itu.

VIVA Militer: Para Prajurit TNI AU di Masa Kemerdekaan Indonesia

Perjalanannya untuk membentuk satuan TNI AU terbilang tidak mudah, pada saat itu ia juga masih harus berjuang melawan Jepang. Karena, setelah Belanda selesai menjajah Indonesia, Jepang juga ingin menjajah Indonesia karena kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia.

Dalam membangun kekuatan udara Indonesia, Soerjadarma memanggil Agustinus Adisujtipto di Salatiga untuk ikut membantu menyusun kekuatan udara  Indonesia. Meskipun dalam keadaan serba kekurangan, namun semangat Soerjadarma dalam membangun dan menyusun kekuatan udara Indonesia tidak pernah luruh. 

Sejak memegang pimpinan AURI, Soerjadarma banyak melakukan penerbangan ke berbagai daerah di Indonesia. Ia dengan berani ikut terbang ke Yogyakarta, dari cross-country flight ke Gorda (Serang), dengan menggunakan Cureng, pesawat peninggalan Jepang.

Hal ini dilakukan untuk membuktikan kepada dunia luar, bahwa kita memiliki kekuatan udara di wilayah Nusantara. Walaupun yang digunakan adalah pesawat tua peninggalan Jepang. Namun, oleh karena didorong oleh tekad perjuangan dan semangat yang membaja, maka pesawat-pesawat rongsokan tersebut berhasil diperbaiki oleh tenaga teknisi Indonesia.

VIVA Militer: Perayaan HUT TNI AU Masa Kini

Melalui motonya “Kembangkan Terus Sayapmu demi kejayaan tanah air tercinta ini, Jadilah Perwira sejati pembela tanah air”, Soerjadarma terus mengajak perwira-perwira muda AURI untuk terus bersemangat dalam menumbuh kembangkan AURI.

TNI Angkatan Udara terlahir dari tidak ada, hingga menjadi angkatan udara paling canggih dan ditakuti di kawasan Asia Tenggara pada era tahun 1960-an merupakan wujud dari pengabdian R. Soerjadi Soerjadarma kepada negara dan Bangsa Indonesia dalam membangun dan mengembangkan Angkatan Udara Republik Indonesia.

Untuk mengenang jasa-jasanya,  pada tahun 2000, R. Soerjadi Soerjadarma dikukuhkan Pimpinan TNI AU Marsekal TNI Hanafie Asnan sebagai “BAPAK AURI”, dan diabadikan menjadi nama Pangkalan Udara (Lanud) Soerjadarma di Kalijati.