Kisah di Antara Tiga Cinta, Dua hati, Satu Ikatan

Dian Lestari Ningsih, NaylaAulia

VIVA – Allah SWT menciptakan bumi beserta isinya dengan rupa yang sangat elok, sehingga seringkali manusia berdecak kagum bahkan terheran-heran dibuatnya. Selain keindahannya tersebut, ia juga menciptakan keindahan yang sangat unik, keindahan satu ini tak dapat dicecap oleh kelima indra manusia.

Melainkan hanya bisa dirasa oleh hati dan akal sehat. Ialah cinta, suatu lafaz yang sering diagung-agungkan para anak adam hawa. Dari lafaz ini nantinya muncul adanya rasa tertarik antara laki-lai dan perempuan, hingga munculnya tujuan untuk mengikatnya dalam satu mahligai nun suci, mahligai pernikahan.

Berbicara soal pernikahan, memang tidak ada habisnya. Walaupun pernikahan merupakaan dambaan sebagian besar manusia, nyatanya ia tetap saja tak lepas dari berbagai problematika kehidupan. Mempersiapkan prosesi pernikahan memang tergolong mudah, cukup menyewa wedding organizer, maka jadiah pernikahan super indah yang tak terlupakan.

Namun, kehidupan setelahnya itulah yang tidak bisa dikatakan mudah, karena saat waktu itu tiba hanyalah suami dan istri saja yang bisa menjadi wedding organizer  dalam rumah tangga mereka, membangun sakinah, merajut mawaddah serta menyempurnakannya dengan rahmah.

Pernikahan tidak hanya soal bersatunya cinta sepasang kekasih semata, ia lebih suci dan lebih mulia dari itu semua. Di dalamnya ada komitmen besar yang harus dipikul oleh kuda belah pihak secara merata. Dibutuhkan kerjasama antara keduanya untuk membangun rumah tangga impian mereka.

Pada umumnya, pernikahan terdiri dari dua anggota, satu suami dan satu  istri, namun nyatanya ada pula rumahtangga yang beranggotakan satu suami dan beberapa istri. Hal ini biasa disebut dengan poligami. Kata poligami berasal dari bahasa Yunani polygamie, poly berarti banyak dan gamie berarti laki-laki.

Maka, poligami berati laki-laki yang beristri lebih dari satu dalam ikatan pernikahan. Poligami sendiri bukan lagi hal baru di kalangan umat manusia, sejarah mencatat bahwa poligami sudah ada sejak lama, bahkan sebelum islam datang.

Meskipun begitu, poligami masih menjadi obrolan hangat hingga kini, pro kontra poligami menjadi momok utama hangatnya perkara ini hingga saat ini. Dilihat dari sudut pandang perempuan, mayoritas mereka menolak mentah-mentah poligami, kekhawatiran akan tidak adanya keadilan menjadi alasan utama mereka.

Pembolehan poligami dengan kata kunci keadilan, merupakan pembahasan yang cukup menarik. Makna kata adil dalam surat an-Nisaa’ ayat 3 masih diperdebatkan oleh para ahli tafsir. Islam sendiri memperbolehkan adanya poligami, namun bukan berarti poligami menjadi wajib dalam setiap hubungan pernikahan.

Poligami ibarat pintu darurat, hanya bisa dilewati jika adanya alasan penting di dalamnya, seperti halnya kesulitan mendapatkan keturunan dari istri pertama, dan sebagainya. Praktik poligami merupakan rukhshah (keringanan), bisa dilakukan hanya dalam keadaan darurat dan benar-benar mendesak.

Kebolehan itu masih disyaratkan laki-laki mampu berbuat adil terhadap istri-istrinya. Adapun dari perspektif gender, poligami timbul sebagai pengaruh dari sifat yang ada dari laki-laki terhadap perempuan, keturunan, sensualitas dan dominasi kaum laki-laki belumlah cukup menciptakan adat (kebiasaan) poligami.