Kisah Ebi Sukore, Pemain Asing yang Meraih 2 Gelar Juara Liga Indonesia Bersama Persik

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Kediri - Persik Kediri pernah dibela pemain asing berlabel bintang maupun level semenjana dalam sejarah perjalanan klub, termasuk pada masa kejayaannya, yaitu 2003 hingga 2009. Sederet legiun impor tampil cemerlang pada era tersebut, termasuk Ebi Sukore.

Bicara soal pemain asing yang pernah membela Persik Kediri, ada sejumlah nama yang masih terngiang, seperti Bamidele Frank Bob Manuel, Juan Carlos Tapia, dan Claudio Villan, yang sukses merebut gelar pertama Persik Kediri di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, yaitu pada Liga Bank Mandiri 2003.

Tiga tahun berselang, Iwan Budianto yang menjadi manajer tim Persik membeli tiga bintang asal Amerika Selatan, yaitu Cristian Gonzales, Danilo Fernando, dan Leonardo Gutierrez, untuk melengkapi skuat The Galacticos ketika merebut gelar juara Divisi Utama Liga Djarum 2006.

Namun, di antara sosok asing tersebut, boleh dibilang Ebi Sukore merupakan satu-satunya pemain asing paling sukses dan punya hoki bagus selama berada di Persik.

Gelandang serang asal Nigeria itu jadi saksi dan pelaku utama ketika Macan Putih dua kali meraih mahkota juara. Sementara sederetan bintang lainnya hanya satu kali memberikan trofi dari dua edisi berbeda.

Cristian Gonzales boleh menepuk dada sebagai top scorer tiga kali berturut-turut bersama Persik. Danilo Fernando dan Ronald Fagundez juga pantas menjadi tandem lini tengah yang pilih tanding. Atau Leo Gutierrez yang jadi tembok kukuh di pertahanan Persik.

Namun Ebi Sukore tetaplah sosok pemain yang memiliki takdir dan keberuntungan lebih baik. Padahal, ketika pertama kali datang ke Kediri kualitasnya diragukan. Dia diajak kompatriotnya, Bob Manuel, saat masih berusia 20 tahun.

Rumor yang beredar, Ebi Sukore adalah keponakan Bob Manuel. Bobby, panggilan akrab Bob Manuel, mengajukan syarat mau bergabung dengan Persik bila Ebi juga dikontrak. Syarat ini pun disetujui Iwan Budianto.

"Pertama datang di Kediri, Ebi benar-benar masih culun. Badan kurus dan gerakannya kaku. Awal saya mainkan, dia kurang berkontribusi pada tim. Namun, setelah beberapa partai Ebi mulai bisa beradaptasi dan tampil luar biasa," kata Jaya Hartono, pelatih Persik saat juara 2003.

Ebi Sukore pun mengakui harus adaptasi dan banyak belajar ketika bergabung dengan Persik Kediri.

"Saat itu saya pertama kali keluar dari Nigeria. Jadi saya harus adaptasi dengan situasi di Indonesia. Baik soal cuaca, makanan, hingga pergaulan dengan orang lain. Apalagi waktu itu saya masih berumur 20 tahun," tuturnya.

Tampil Berbeda agar Percaya Diri

Manajer Persik Kediri pada era jaya di Liga Indonesia, Iwan Budianto, berincang dengan pemainnya, Ebi Sukore. (Bola.com/Gatot Susetyo)
Manajer Persik Kediri pada era jaya di Liga Indonesia, Iwan Budianto, berincang dengan pemainnya, Ebi Sukore. (Bola.com/Gatot Susetyo)

Ebi pun menyebut peran Iwan Budianto, Jaya Hartono, dan Bob Manuel sangat besar dalam awal kariernya di Indonesia.

"Saya mau ke Indonesia karena diajak Bobby. Dia yang berjasa membuka kesempatan emas dalam karier saya. Iwan Budianto seorang manajer yang jempolan. Coach Jaya Hartono terus sabar memotivasi saya. Teman-teman Persik juga bagian tak terlupakan dalam karier saya," ujarnya.

Pemain yang pernah berkiprah di Liga India ini punya kiat untuk mendongkrak kepercayaan diri saat membela Persik Kediri. Cara yang dilakukan Ebi Sukore cukup unik. Dia memakai sepatu yang berbeda warna dalam pertandingan.

"Agar percaya diri, saya harus tampil beda. Akhirnya saya dapat ide pakai sepatu dengan warna beda di lapangan. Ternyata trik ini bisa mengangkat performa saya," ucapnya.

Video