Kisah Getir Bayi Kaina, Penderita Jantung Bocor Berjuang Bartahan Hidup

Liputan6.com, Pekanbaru - Bayi Kaina terbaring lemas di salah satu ruangan Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Ahmad Pekanbaru. Di hidung anak pasangan Ferdi Seprianto dan Rina Anggraini berusia 8 bulan ini menempel selang bantuan pernapasan.

Bayi Kaina lebih banyak menangis. Rina selalu mengelus kepala anak perempuannya itu agar terlelap lagi. Sesekali, Rina membetulkan tali infus yang menempel di pergelangan tangan bayi mungilnya itu.

Kaina sudah beberapa hari dirawat di sana. Dia divonis dokter mengidap jantung bocor sejak usianya menginjak empat bulan. Dibutuhkan Rp200 juta lebih untuk mengoperasi Kaina agar sembuh.

"Kata dokter kemungkinan sembuh sangat besar jika dioperasi, tapi mau dicari ke mana uang sebanyak itu," kata Ferdi yang sehari-harinya bekerja sebagai guru di sekolah swasta ini, Kamis siang, 13 Februari 2020.

Pria 25 tahun ini menyebut keluarganya memang peserta BPJS. Hanya saja, biaya perawatan selain operasi termasuk obat tidak semuanya ditanggung.

Menurut Ferdi, operasi memakai BPJS perlu antrean hingga enam bulan ke depan atau bisa sampai setahun lebih. Sementara, bayi Kaina harus dioperasi segera karena kondisinya kian memburuk.

"Menurut dokter ini harus cepat dioperasi, makanya saya membutuhkan uluran tangan dermawan, kalau enggak cepat bayi saya tidak tertolong," jelas Ferdi.

Kondisi terakhir, kata Ferdi, bayi penderita jantung bocor ini kian memburuk. Dokter memang sudah memberi obat tapi jalan satu-satunya agar Bayi Kaina sembuh adalah operasi.

Dikira Sakit Biasa

Bayi Kaina, penderita jantung bocor dirawat yang kini dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Ahmad Pekanbaru. (Liputan6.com/M Syukur)

Ferdi menjelaskan, dia bersama istrinya tinggal di Jalan Kasah, Gang Selempayo Nomor 134, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. Awalnya, Bayi Kaina lahir secara normal dan terlihat seperti anak pada umumnya.

Memasuki usia empat bulan, pertumbuhan Bayi Kaina tidak berjalan terus. Dia lebih banyak menangis dan membuat Ferdi mulai risau dengan kondisi anaknya.

"Memang saat itu ada benjolan tak begitu besar di dada. Sebagai orang awam, saya tidak tahu apa itu," katanya.

Ferdi lalu membawa anaknya ke Puskesmas terdekat. Petugas medis di sana merujuk ke Eka Hospital hingga akhirnya dokter di sana memvonis Bayi Kaina mengalami jantung bocor.

"Saya kaget, saya selama ini tidak pernah dengar nama penyakit itu. Ternyata anak saya mengalaminya," terang Ferdi.

Sejak divonis itu, Bayi Kaina sering bolak-balik ke rumah sakit. Di Eka Hospital, ada delapan kali anaknya dirawat hingga akhirnya dirujuk ke RSUD Arifin Ahmad.

"Kata dokter operasinya hanya bisa di Jakarta, biaya Rp 200 juta. Memang ditanggung BPJS tapi obat tidak. Dari mana saya mendapatkan ongkos ke sana dan membeli obat," kata Ferdi.

Jika ada donatur ingin membantu, imbuh Ferdi, bisa menghubungi nomor 0852-7818-9849.

 

Simak video pilihan berikut ini: