Kisah Grup Lawak Bagito Kritik Orde Baru di Depan Presiden Soeharto

Donny Adhiyasa
·Bacaan 2 menit

VIVABagito dikenal sebagai salah satu grup lawak legendaris Tanah Air yang pernah berjaya pada era 80an hingga awal 2000an silam. Dengan kiprah panjangnya di panggung komedi, grup yang terbentuk tahun 1983 itu pun telah kenyang pangalaman dalam menyuguhkan karya lawakannya tersebut.

Dan ternyata, salah satu pengalaman paling mengesankan bagi grup yang beranggotakan Mi'ing, Didin dan Unang tersebut tak lain adalah saat tampil langsung di hadapan mantan Presiden Soeharto.

Hal tersebut pun pernah diungkapkan Miing dalam penuturannya dalam konten video di channel YouTube Gofar Hilman berjudul 'Buka-bukaan Miing Bagito #NGOBRAK'.

Sebagai grup lawak yang kerap membawakan materi bertemakan kritik sosial dan politik, ternyata Bagito justru sempat panik ketika hendak tampil di hadapan sosok penguasa Orde Baru tersebut.

"Ini ngomongin soal mengkritik pemerintah bang, pernah nggak sih bang ngelawak depan Presidennya langsung?" tanya Gofar pada Miing.

"Behhh, pernah.. pernah!" sahut Miing tegas.

Meski dapat tawaran melawak langsung di depan Presiden Soeharto, Bagito ternyata sempat mendapat penolakan karena lawakannya sering kali mengkritisi pemerintah.

"Karena mereka tahu Bagito nakal, takutnya kepleset lidah di hadapan presiden tidak baik," jelas Miing.

Dan ternyata beberapa hari sebelum tanggal momen menggung tersebut, mereka bahkan sudah dihubungi oleh pihak dari protokol presiden untuk menjelaskan lawakan-lawakan yang tak boleh dilontarkan di depan presiden.

"'Oke ambil kertas sama pensil, tidak boleh ini, tidak boleh ini yaa.. Jangan bicara ini, jangan bicara ini ya'.. Wah, kalau begitu kami pidato saja pak," ungkap Miing.

"Terserah kalian menterjemahkannya," tandas Miing menirukan petugas protokoler presiden yang menelpon tersebut.

"Dan itu gue ceritain di depan pak Harto" tegas Miing. "Ketawa nggak bang?" tanya Gofar. "Ketawa dong," jelas Miing.

"Bapak presiden, perkenalkan nama saya Miing pak.. saya orang Betawi yang populasinya tinggal sedikit, tergusur atas nama pembangunan," ujar Miing.

"Saya baru pulang pak, dari Mall Pondok Indah.. Alhamdulillah itu dulu kuburan engkong saya dulu tanahnya di situ. Sekarang kuburan saya jadi adem, makasih pak sudah dibangun. Cuma waktu saya doa di bawah, begitu Aamiin sudah di atas.. ehh nggak taunya saya ziarah di tangga jalan, itu pak Harto tertawa," kata Miing.

"Mohon izin kami boleh bercanda-bercanda di sini pak? Terima kasih bapak sudah tersenyum.. Kalau bapak berkenan tersenyum, itu adalah ibadah untuk bapak. Senyum itu pak Harto," lanjut Miing.

"Kalau bapak berkenan tertawa itu amal zariah untuk bapak. Sebab kalau kami bicara disini bapak diam saja, kanan kiri bapak tidak berani apa-apa.. itu gerrr.. Ibu Tien itu gue lihat kerudungnya 2 kali jatuh, hehe," ungkap Miing kepada Gofar.