Kisah Guru Berhati Mulia, Pembimbing Tangan Mungil Anak-Anak Sikka

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Sikka - Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Restorasi di RT 37 RW 09 Patisomba, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menggratiskan biaya sekolah bagi 34 anak siswa dengan orangtua tidak mampu.

Ke-34 siswa tersebut merupakan warga di sekitar sekolah yang orangtuanya punya permasalahan ekonomi sehingga tidak mampu menyekolahkan anaknya di sekolah berbayar.

"Saya prihatin," ungkap pendiri PAUD Restorasi, Remigius Nong saat ditemui Liputan6.com.

Remigius mengatakan, para guru dan tenaga tata usaha sekolah di PAUD tersebut juga mendayagunakan relawan dan warga di sekitar lingkungan sekolah.

"Banyak yang mengira sekolahnya merupakan milik salah satu partai politik padahal dinamakan PAUD Restorasi agar ada perubahan baik untuk siswa, guru, dan orangtua murid," katanya.

Para relawan guru yang mengajar di PAUD Restorasi juga tidak menerima gaji. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, pihak sekolah memberikan bibit sayuran untuk ditanam dan dijual. Dengan begitu mereka pun akan mendapatkan pemasukan untuk membiayai kehidupan keluarganya.

PAUD Restorasi sudha berdiri sejak 2017.

Sejak tahun 2017/2018 sekolah ini didirikan, ia melihat banyak anak usia Sekolah Dasar (SD), Sekolah Manengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Manengah Atas (SMA) di lingkungannya lebih banyak bermain dan menonton sinetron daripada belajar.

Dirinya pun membuat bimbingan belajar untuk siswa SD jam 16.00 sampai 17.00 Wita, SMP jam 17.00 hingga 18.00 Wita, dan SMA pukul 18.00 sampai 19.00 Wita dan banyak anak yang mengikutinya tanpa dipungut bayaran.

"Setahun berjalan para relawan banyak yang mendapat pekerjaan sehingga tinggal saya sendiri. Akhirnya saya membuat taman baca di mana buku-buku saya bawa di motor dan bila melihat banyak anak-anak berkumpul saya berhenti dan mengajak mereka membaca," ungkapnya.

Setelah taman baca berjalan, Remi berpikir untuk mendirikan PAUD meskipun sekolahnya sampai saat ini belum mendapatkan izin operasional, tetapi tetap berkaktivitas seperti biasa dan bertahan selama 3 tahun.

Ia tawarkan konsep menabung, setiap harinya satu orang murid menabung sebanyak Rp1.000 dan uang tabungannya dihitung setahun sekali disaksikan orangtua murid dan uangnya dipergunakan membeli seragam sekolah.

"Untuk seragam guru dan perlengkapan sekolah saya meminta sumbangan dari teman-teman. Ada yang menyumbang pensil dan perlengkapan lainnya sementara uangnya buat beli seragam sekolah. Para murid pun uangnya wajib setiap hari yang diberikan orangtua digunakan untuk ditabung," ungkapnya.

Sementara itu, Maria Wilhelmina Lenga salah seorang guru mengaku pernah berkuliah di sebuah universitas di Pulau Jawa, tetapi tidak menamatkan kuliah dan dirinya pun tertarik mengajar di sekolah itu.

Meski tidak dibayar, Helmy sapaannya mengaku senang mengajar di sekolah ini karena konsep pembelajarannya berbeda, yakni lebih menekankan pendidikan karakter guna mendidik anak-anak agar mandiri dan disiplin serta berperilaku baik.

"Kami diberikan bibit sayuran untuk ditanam dan sayurannya kami jual untuk menambah penghasilan. Meski tidak dibayar saya betah mengajar di sekokah ini agar anak-anak sejak dini mendapatkan pendidikan yang baik," pungkasnya.

Simak juga video pilihan berikut: