Kisah Haru Dokter Menghadapi Maut Melawan COVID-19 dalam Lagu Religi

Mohammad Arief Hidayat, Fajar Sodiq (Solo)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Seorang dokter di Solo menciptakan lagu bernuasa religi yang bercerita tentang perjuangannya melawan COVID-19 di ruang perawatan RSUD Dr Moewardi Solo. Lagu berjudul “Kembang Duka: yang dia ciptakan memuat kisah saat virus corona hampir merenggut nyawanya.

Khoirul Hadi, si dokter itu, yang merupakan dokter spesialis kulit, memang seorang penyintas COVID-19 yang kini getol mengampanyekan aksi donor plasma konvalesen melalui aplikasi Akdoplak. Kondisinya yang cukup parah saat itu bisa tertolong dengan terapi plasma konvalesen.

"Waktu itu saya sudah pasrah. Yang benar-benar syok ketika sebelah saya meninggal. Saat itu saya benar-benar menangis sejadi-jadinya. Di tengah menangis itu keluar darah banyak dari hidung," katanya, mengenang saat menjalani perawatan intensif di ICU RSUD Moewardi Solo.

Ia pun berpikiran darah yang keluar itu akibat pendarahan di bagian paru-paru sehingga dipastikan tidak bisa berhenti dan bisa mengakibatkan kematian. Beruntung, setelah sempat tertidur ternyata darah yang keluar bisa berhenti dan dia masih diberikan umur yang panjang.

Lantas, kisah perjuangannya yang hampir berhadapan dengan maut dia tulis dalam sebuah catatan di ponsel miliknya. Catatan itu pula yang sekarang menjadi lirik lagu berjudul “Kembang Duka”.

"Yang saya tulis di ICU itu kembang duka: kembang-kembang duka, hari ini telah berjajar di rumahnya, berwarna-warni berucap turut berduka cita. Bila ajal sudah tiba maka tidak bisa bertunda, bahkan untuk bersalat dan bersedekah hartanya. Keluarga hanya bisa berlinang air mata mengantar pergi selamanya," katanya, mencuplik lirik lagu itu.

Khoirul, yang juga pemilik klinik Be Hati, harus menjalani perawatan di rumah sakit selama 15 hari. Setelah hasil swab/PCR dinyatakan negatif, ia dibolehkan pulang untuk menjalani isolasi mandiri di rumahnya. Selama masa isolasi itu, justru ketagihan dan makin aktif menulis beberapa lirik lagu, di antaranya berjudul “Puasa”, “Zakat”, “Tahajud”, dan “Sahur”.

Dia mengatakan selama kurun waktu dua setengah bulan jumlah lagu yang dia ciptakan mencapai 12 lagu. Semua lagu bernuansa religi dan penuh pesan moral. Kemudian untuk menyanyikan lagu karyanya, ia bekerja sama dengan sejumlah musisi untuk bergabung dalam grup Assahlan yang dia gawangi.

"Saya sendiri yang menyeleksi para pemainnya dan penyanyinya. Dua belas lagu yang dikumpulkan itu menjadi album religi Assahlan. Assahlan sendiri artinya yang dimudahkan," katanya.

Pendiri Music Blast, Bayu Randu, mengaku sudah mendengarkan semua lagi dalam album itu. "Lagu religi ini dibalut dengan musik kekinian, anak muda, dan modern. Ini yang menjadikan album ini berbeda dengan lagu religi lainnya," ujarnya.