Kisah Hayatul Fauzi, Legenda Hidup Perkesa Guru Brylian Aldama

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Sidoarjo - Kompetisi sepak bola Galatama maupun Liga Indonesia, pernah diramaikan oleh Perkesa Sidoarjo, yang kemudian beberapa kali bertransformasi karena pindah markas.

Tim ini awalnya lahir di Jakarta pada tahun 1978, dengan nama Perkesa 78. Perkesa punya sejarah sebagai tim yang doyan berpindah-pindah dan berganti nama. Setelah dari Jakarta hijrah ke Sidoarjo, Jawa Timur pada tahun 1980, sehingga berubah nama menjadi Perkesa Sidoarjo.

Kemudian pindah homebase di Yogyakarta, dengan berkandang di Stadion Mandala Krida, dengan nama menjadi Perkesa Mataram dan Mataram Putra pada tahun 1987 hingga 1997. Hingga puncaknya pindah ke Cirebon menjadi Mataram Indocement dan menjadi jejak terakhir klub.

Terdapat satu diantara mantan penggawa klub tersebut yang punya cerita panjang. Adalah Hayatul Fauzi, pria asli Sidoarjo yang begitu lama mengabdi untuk Perkesa hingga tim itu bubar setelah fase terakhir di Cirebon.

"Saya merasa dituakan karena paling lama, saya melihat figur bang Iswadi Idris (mantan pelatihnya di Perkesa). Dia sosok yang jujur, tegas, disiplin. Menjadi alasan saya setia di tim itu," katanya mengawali cerita dalam kanal YouTube Omah Balbalan belum lama ini.

"Terlambat lima menit saja dihukum seperti push up hingga potong gaji. Untuk itu saya ikuti cara dia. Pertama ikut Perkesa Sidoarjo 78, saya ikut seleksi termasuk pindah ke Yogyakarta tahun 1987, diarahkan oleh Iswadi Idris bahkan beliau ikut mengurus surat kepindahan sekolah," bebernya.

Lama pensiun sebagai pemain, Hayatul kini masih beraktivitas di lapangan hijau sebagai pelatih di SSB Gelora Putra Delta (GPD). Ia melahirkan pesepak bola, di antaranya Dave Mustaine (Arema), Hendro Siswanto (Arema), dan Brylian Aldama yang kini meniti karier di Kroasia.

10 Tahun di Yogyakarta

Hayatul Fauzi, legenda Perkesa Sidoarjo. (Youtube Omahbalbalan)
Hayatul Fauzi, legenda Perkesa Sidoarjo. (Youtube Omahbalbalan)

Meski asli dari Sidoarjo, Hayatul Fauzi banyak belajar sepak bola di Surabaya. Namun, sebelum bergabung di satu di antara klub internal Persebaya, ia langsung direkrut Perkesa Mataram dan diboyong ke Yogyakarta.

Selama satu dasawarsa bermain di tim Kota Gudeg, ia punya banyak kenangan manis, termasuk harus menyesuaikan lidah di Yogyakarta dalam menikmati makanan.

"Sepuluh tahun di Yogyakarta ya kerasan meski makanan kurang cocok dengan lidah orang Jatim. Tapi, lingkungan dan masyarakat begitu ramah dan kekeluargaannya erat," lanjut dia.

"Jadi senang gudeg dan makanan manis khas Jogja. Lama-lama menyesuaikan".

"Tampil di Mandala Krida seperti rumah sendiri. Selalu teringat saat-saat main di tempat itu, terutama beberapa pentolan suporter Perkesa Mataram," ucapnya.

Laga Paling Dikenang

Kota Yogyakarta bisa dibilang menjadi tempat terlama yang ia singgahi selama berkarier di sepak bola. Waktu yang tidak sebentar, ia pun punya kenangan istimewa di atas lapangan.

Ia menceritakan ada dua pertandingan paling spesial selama memperkuat Perkesa Mataram Yogyakarta. Ia juga diberikan tugas sebagai kapten tim saat ditangani oleh Sinyo Aliandoe.

"Dua pertandingan itu adalah di era Galatama lawan Semen Padang, lawan Nil Maizar dan saya bek kanan bisa cetak gol. Kemudian juara Piala HB X edisi pertama lawan Petrokimia Putra," kenangnya.

Hayatul Fauzi pun ikut manis dan getirnya bermain untuk Perkesa Mataram dan juga Mataram Indocement ketika tim itu harus terdegradasi tahun 1997. Ia merasa ikut bertanggung jawab dan tetap bertahan hingga tim itu pindah ke Cirebon, kemudian sempat promosi kembali, hingga akhirnya bubar.

"Promosi tahun 2000 kemudian degradasi lagi, karena skuadnya kurang mumpuni, saya pulang ke Sidoarjo dan ditawari main di Persida tahun 2007," jelasnya.

Video