Kisah Ibu Tunanetra Dampingi Anak Sekolah Daring Selama Pandemi

Aries Setiawan, BBC Indonesia
·Bacaan 5 menit

Beberapa pemerintah daerah masih menutup sebagian besar sekolah seiring terus bertambahnya jumlah kasus positif Covid-19. Ini artinya, proses belajar mengajar tetap dilakukan secara daring.

Tidak bisa dipungkiri, kebijakan ini memberikan beban lebih kepada orang tua siswa. Lalu, bagaimana dengan orang tua penyandang disabilitas?

Popon Siti Latipah, salah satunya. Popon dan suaminya, Irvan Arimansyah, adalah pasutri tunanetra yang dikaruniai seorang anak perempuan dengan kondisi mata yang sehat.

Anak mereka, Aksa (bukan nama sebenarnya untuk melindungi identitasnya), mengenyam pendidikan di salah satu sekolah dasar di Kota Bandung. Selama belajar daring, anak usia delapan tahun ini hanya didampingi ibunya, Popon.

Bagi seorang tunanetra, mendampingi anak belajar daring bukan perkara gampang. Kondisi penglihatannya yang nol persen, membuat perempuan 34 tahun ini kebingungan menghadapi hari demi hari selama proses pembelajaran jarak jauh (PJJ). Ia mengaku mengalami tekanan psikologis.

"[Saya] merasa nggak optimal mengajar anak. Hampir tiap pagi, psikologinya sudah terganggu duluan. `Duh, hari ini ngapain yah? Materinya apa? Bisa nggak yah menyampaikannya?` Itu setiap hari mikir begitu. Ada perasaan waswas," ungkap Popon kepada Yulia Saputra, wartawan di Bandung yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Perasaan waswas muncul lantaran Popon merasa tidak optimal mengajar Aksa. Ia khawatir anaknya bakal tertinggal pelajaran, ketika sekolah kembali dibuka.

"Kalau di sekolah, kita sudah percaya ke gurunya. Paling kita tinggal mengulang. Kalau ini tanggung jawabnya ada di kita, gurunya hanya sekadar mengarahkan.

"Ada kekhawatiran, ketika [kembali] bertatap muka anak kaget dengan materi yang sekarang.”

"Di saat kita ingin memberikan yang terbaik buat anak, kita terkendala keadaan," tutur Popon yang merasa kesulitan, bahkan untuk sekadar mengajarkan anaknya membuat garis lurus.

Merasa kebingungan

Popon pernah merasa kebingungan, saat anaknya ditegur guru karena membuat tabel dengan garis yang tidak lurus.

Padahal, anaknya sudah memakai penggaris setiap membuat tabel. Setelah tiga kali ditegur, Popon mengadu ke orang tua murid lain dan disarankan membeli penggaris baru.

"Eh tahunya benar dari penggaris masalahnya. Soalnya aku sekolah, dari kelas 4 SD sampai kuliah, nggak pernah punya pengalaman pakai penggaris. Makanya bingung. Kirain penggaris kalau sudah lama, masih tetap bagus," kata Popon.

Ada terselip rasa minder dalam diri Popon ketika berbicara dengan orang tua murid lain yang nondifabel. Padahal, secara pendidikan, Popon sempat menempuh Pendidikan Luar Biasa di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Ia malah sempat menjadi guru SLB. Tapi, justru kesulitan menjadi guru bagi anaknya.

"Sangat (minder). Orang tua lain, misalnya mereka hanya (lulusan) SMA, tidak mengenal pengalaman kuliah.

"Sementara saya kuliahnya di keguruan dengan kondisi seperti ini, tidak bisa menjadi guru yang baik buat anak.

"Soalnya konsep dan metodenya beda. Jadi sempat mikir kalau yang lain tinggal lihat buku saja sudah bisa ngejelasin sama anak, kalau saya bagaimana bisa?" ucapnya.

Kolaborasi ibu dan anak, serta teknologi yang membantu

Selama delapan bulan masa PJJ, Popon dan Aksa menghadapi situasi belajar yang jauh berbeda. Sebelum pandemi, Popon menyerahkan sepenuhnya pendidikan Aksa pada gurunya di sekolah.

Kini, pendidikan si anak menjadi tanggung jawabnya.

Enam hari dalam seminggu, Aksa belajar online dengan materi pelajaran yang dikirim gurunya melalui grup Whatsapp atau aplikasi konferensi video, seperti Zoom, Google Meet, atau Cisco Webex.

Untuk hal ini, Popon bersyukur cukup familiar dengan teknologi yang ramah difabel. Seperti screen reader, aplikasi yang mengubah teks, gambar, atau foto teks menjadi suara.

Teknologi tersebut sudah lama dipakai dan dikenal Popon. Profesinya sebagai instruktur komputer bagi para disabilitas netra membuatnya paham akan teknologi informasi ini.

"Kebayang teman-teman tunanetra lain yang harus menghadapi PJJ, sementara pengetahuan teknologinya masih minim.

"Apalagi banyak juga teman-teman tunanetra nggak berkesempatan bersekolah, langsung mendapat vokasional, memijat atau musik. Nggak kebayang juga mereka kayakgimana, kasihan," ungkapnya.

Tapi masih ada kendala lain yang dihadapi Popon dan Aksa. Materi pelajaran SD, seringkali diberikan dalam bentuk gambar, yang tentu saja tidak bisa dilihat Popon.

Jangankan mengajarkan, dirinya justru yang mendapat penjelasan dari Aksa.

Matematika pelajaran tersulit

Ketika ada soal berupa gambar, Aksa yang menjelaskan seperti apa gambar yang tertera dalam buku pelajaran. Baru setelah itu, Popon bisa membantu Aksa menjawab soal tersebut.

"Seperti PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup), kan saya nggak tahu, gambarnya bagaimana. Jadi nanti dikasih tahu sama Aksa. Ngejelasinnya pelan-pelan.

"Yang dijelasin ke mama, seringnya pelajaran tematik, terus gambar. Kayak gambar kiloan (timbangan) sama misalnya gambar ayam. Ayamnya lagi apa, nanti dijelasin," tutur Aksa

Matematika memang jadi pelajaran yang sulit bagi Popon.

"Yang sama sekali nggak bisa terbayang itu proses perkalian sama pembagian (dengan cara bersusun), karena kan belum ada pengalaman ngerjain pakai (cara) itu.”

"Kalau di braille nggak ada perkalian dengan (cara) kayak gitu. Itu yang nggak punya pengalaman visual karena kan dulu belajar perkalian dan pembagian itu kelas empat, kalau sekarang kelas tiga sudah (belajar).”

"Kelas empat, saya sudah (buta) total, nggak bisa lihat," paparnya.

Setelah buta total, Popon melanjutkan pendidikan di sekolah luar biasa (SLB). Di sekolah barunya itu, Popon belajar dengan metode yang jauh berbeda.

"Kalau ke anak tunanetra harus jauh lebih konkret, pakai perabaan, kalau anak-anak nondisabilitas bisa lihat contoh dari guru. Karena sudah masuk SLB, guru menerangkannya pakai benda, misalkan dikasih lidi 20 buah, coba dibagi empat bagian sama, jadi ada berapa."

"Nah begitu cara menghitung (pembagiannya), jadi (berhitung pembagian cara nondisabilitas) nggak terbayang. Kalau penjumlahan sama pengurangan sih masih terbayang, soalnya di braillenya juga ada," ujar Popon.

Kendala lainnya

Kendala lainnya, foto. Selama PJJ, orang tua murid wajib menyetorkan dokumentasi kegiatan belajar daring anaknya, berupa foto.

"Bagi Popon relatif susah, meski dibantu dengan screen reader yang terpasang di telepon genggamnya. Sering kali hasil fotonya tidak sempurna, sehingga harus beberapa kali mengambil gambar.

"Sementara untuk foto tugas sekolah, Popon serahkan kepada Aksa. Foto dokumentasi Aksa lagi belajar itu, aku bisa. Tapi fotonya nggak sesempurna orang lain yang bisa ambil fotonya dari [angle] mana saja.

"Saya datar saja sesuai dengan panduan dan arahan dari handphone atau kadang dipaskan sama Aksa. Nanti hasilnya dilihatin ke Aksa.

"Kadang pensilnya nggak terfoto, harus diulang tiga sampai empat kali foto, sampai Aksa bilang bagus," kata Popon.

Selama PJJ ini, Popon mengaku tidak mendapat kelonggaran dari sekolah, perlakuannya sama saja dengan orang tua murid lainnya.

Meski demikian, Popon berharap, anaknya bisa bersaing dengan teman-teman sekelasnya, walaupun dibimbing oleh orang tua tunanetra.

Sejauh ini, menurut Popon, Aksa mampu mengikuti pelajaran, bahkan mendapat nilai yang cukup bagus.

"Mudah-mudahan sih dengan usaha optimal saya, setidaknya Aksa enggak di depan teman-temannya juga enggak apa-apa. Setara dengan teman-temannya juga sudah Alhamdulillah," ujar Popon.