Kisah imigran gelap bayar Rp 30 juta demi mencari suaka

MERDEKA.COM. Banyak cerita di balik ditangkapnya 106 imigran gelap dini hari tadi. Ratusan orang yang berasal dari beberapa negara ini rupanya telah tinggal di Indonesia sekitar 3 sampai 5 tahun. Mereka tinggal di penampungan yang disediakan UNCHR milik PBB di daerah Cisarua, Bogor.

Luntang lantung dan tidak jelasnya nasib mereka membuat ratusan orang ini memutuskan membayar agensi untuk mencari suaka di Australia. Mereka pun membayar makelar untuk bisa ke Australia yang disebut mereka sebagai tanah impian.

"Untuk bisa menyeberang (ke Australia) kami rata-rata membayar ke agensi (gelap) sebesar Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per orang. Tapi khusus untuk saya gratis karena selama ini saya banyak membantu mereka (sindikat penyelundupan manusia perahu)," terang salah satu imigran gelap, Husain Ahmad seperti yang dikutip Antara, Sabtu (7/9).

Husain menyebut agensi yang menjadi makelar pemberangkatan mereka adalah orang Srilanka namun tidak disebutkan namanya. Menurut Husain, makelar tersebut bekerja sama dengan orang lokal dan oknum dari kepolisian untuk memberangkatkan mereka.

Para pengungsi ini mengancam jika hidup mereka tidak kunjung berubah maka mereka akan mencoba kabur lagi.

"Apapun akan kami lakukan demi mendapat kehidupan yang lebih baik. Kalaupun sekarang ditangkap, nanti kami pasti akan mencoba kabur lagi karena kehidupan di penjara (rumah detensi imigrasi) tidak pernah jelas. Lebih baik kembali ke Bogor," ancam Thaviantharan Thusymaja Andhan, pengungsi asal Srilanka dalam bahasa campuran Indonesia-Inggris.

Kapolres Tulungagung AKBP Whisnu Hermawan Februanto sependapat soal keterkaitan oknum polisi dalam penyelundupan imigran gelap.

"Indikasinya jelas, pergerakan mereka (imigran/pengungsi) ke arah Tulungagung sebenarnya telah terdeteksi sejak dari sana (Bogor/Jakarta), tetapi kenapa tidak langsung ditangkap?" ujarnya saat memberikan keterangan pers di Mapolres Tulungagung.

Kendati begitu ia tidak menyebut siapa anggota polisi yang dimaksud, dia hanya menyentil lalainya aparat hukum di sekitar wilayah Bogor dan Jakarta. Kapolres ini menuding yang tidak mengambil tindakan preventif mencegah upaya penyelundupan tersebut sejak dini.

"Kalau melihat indikasi itu, bisa jadi memang melibatkan oknum orang dalam ataupun petugas yang membuat perjalanan para imigran itu lancar hingga ke Tulungagung," tandasnya.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.