Kisah Irfan Jaya: Sempat Tidak Direstui Orang Tua Jadi Pesepak Bola dan Terinspirasi Tendangan Bebas Cristiano Ronaldo

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Makassar - Cepat, lincah plus piawai mencetak gol. Itulah kelebihan Irfan Jaya saat beraksi di lapangan hijau bersama timnya. Rekam jejaknya pun terbilang lumayan. Pria kelahiran Bantaeng 1 Mei 1996 ini jadi top scorer PSM U-21 di Torabika Soccer Championship U-21 pada 2016.

Semusim berikutnya, Irfan Jaya membawa Persebaya Surabaya promosi ke Liga 1 sekaligus menjadi pemain terbaik Liga 2 2017. Dua musim awal bersama Persebaya di Liga 1, progres pencapaian Irfan Jaya meningkat.

Pada musim 2018, Persebaya bertengger di peringkat lima klasemen akhir dan menjadi runner-up pada Liga 1 2019. Setelah PSSI membatalkan Liga 1 2020, Irfan Jaya memutuskan mencari tantangan baru dengan memilih menerima tawaran PSS Sleman, Maret 2021.

Di PSS, Irfan menorehkan sukses perdana dengan membawa skuad Super Elang Jawa menembus semifinal Piala Menpora 2021 kemudian mengalahkan PSM Makassar pada perebutan tempat ketiga. Pencapaian di Piala Menpora 2021 serta suasana dan kondisi tim yang baik membuat Irja, sapaan karibnya, mematok target tinggi bersama PSS di Liga 1 2021.

"Saya ingin membawa PSS bersaing di papan atas atau bertengger di peringkat tiga klasemen akhir," ungkap Irja dalam channel Youtube PSS TV.

Bagi Irja, pencapaian sementara ini merupakan buah dari kerja keras dan tekadnya untuk menjadi sepak bola bagian penting dalam hidupnya. Apalagi, pada awalnya, kedua orangtuanya tak mendukung dirinya menjadi pemain.

"Orangtua menilai sepak bola tak cocok buat saya yang berpostur kecil. Tapi, saya membulatkan tekad ingin membuktikan anggapan itu salah," cerita Irfan Jaya.

Eksekutor Bola Mati

Penggawa lincah milik PSS, Irfan Jaya (tengah). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)
Penggawa lincah milik PSS, Irfan Jaya (tengah). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Irfan Jaya mulai menimba ilmu sepak bola dengan bergabung di SSB Botta Toa Raya, Bantaeng. Berkat talenta yang dimilikinya, pada usia 13 tahun, Irja sudah berkiprah pada sejumlah turnamen antar kampung di Bantaeng dan sekitarnya.

Namanya mulai dikenal ketika membawa tim Bantaeng meraih medali emas cabang sepak bola di Pekan Olahraga Daerah (Porda) Sulawesi Selatan pada 2014. Irfan pun menjadi bagian PSM U-21 yang berkiprah di TSC U-21 2016.

Meski gagal membawa Juku Eja meraih trofi juara, Irja meraih penghargaan individu sebagai top scorer. Sukses yang membuat manajemen Persebaya menyodorkan kontrak kepadanya.

"Orang tua pun akhirnya mendukung saya berkarier di sepak bola. Mereka juga turut bangga bisa menonton aksi saya bersama Persebaya di televisi," tutur Irja.

Selain dikenal dengan kecepatanya menyisir sisi sayap sebelum melepaskan umpan untuk memanjakan para stiker, Irfan Jaya juga dikenal memiliki kelebihan dalam mengeksekusi bola mati.

Menariknya, gol pertama buat tim yang dibelanya selalu terjadi lewat tendangan bebas. Terakhir, ia melakukannya ketika menjebol gawang Madura United lewat tendangan bebas indah pada laga perdana Grup C Piala Menpora 2021.

Terkait kelebihannya itu, Irja mengaku terinsiprasi dengan aksi Cristiano Ronaldo dalam mengeksekusi tendangan bebas. Demi bisa mengikuti aksi idolanya itu, Irja terus mengasah kemampuanya dengan berlatih sendiri di luar latihan reguler timnya.

"Saya juga menjadikan Lionel Messi sebagai role model. Meski berpostur kecil, Messi bisa memperdaya pemain lawan yang bertutuh besar dengan kecepatan dan skillnya," ujar Irja yang bertinggi badan 162 cm ini.

Sumber: Youtube PSS

Saksikan Video Pilihan Kami:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel