Kisah Istri Danjen Kopassus Jualan Minyak Karena Uang Belanja Kurang

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Dalam benak orang awam, yang namanya Jenderal TNI pasti dianggap punya uang banyak. Akan tetapi, tidak semua Perwira Tinggi (Pati) Tentara Nasional Indonesia hidup bergelimang harta. Banyak sosok jenderal yang dikenal sangat sederhana, membumi, dan menjadi inspirasi banyak orang.

Jangan sekali-sekali berpikir hidup mendiang Letjen TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo mewah. Ayah mertua Prersiden Republik Indonesia (RI) ke-6, Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini sangat jauh dari gaya hidup bermewah-mewahan.

Sarwo dikenal sebagai jenderal yang lurus, dan tak pernah menyalahgunakan jabatannya. Dikutip VIVA Militer dari buku "Kepak Sayap Putri Prajurit", ada sebuah pernyataan yang diucapkan oleh mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) ini.

"Pergi bawa satu kopor, pulang juga bawa satu kopor," ucap Sarwo.

Apa yang diucapkan olehnya seakan menjadi rambu bagi pria kelahiran Purworejo 25 Juli 1925 itu, untuk senantiasa menjaga kejujurannya sebagai pejabat negara. Saat masih aktif berdinas bersama Korps Baret Merah, Sarwo sangat dekat dekat dan bahkan rela membantu anak buahnya apapun masalahnya.

Siapa sangka, meski jabatannya adalah Danjen Kopassus periode 1964 hingga 1967, gaji Sarwo justru tak mencukupi untuk kebutuhan keluarganya. Seperti yang diketahui, Sarwo dan istrinya, Sri Sunarti Hadiyah, memiliki enam anak.

Selain Ani Yudhoyono, anak kelima Sarwo dan Sri kelak mengikuti jejak sang ayah. Ya, dia adalah mantan Danjen Kopassus dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI (Purn.) Pramono Edhie Wibowo.

Waktu menjadi orang nomor satu di Kopassus, pangkat Sarwo masih Kolonel TNI. Tentu saja, gaji yang diterimanya tidak sebesar perwira berpangkat Jenderal TNI. Oleh sebab itu, Sri kerap kesulitan untuk mengatur uang belanja yang kurang.

Di sisi lain, jatah makan untuk keenam orang anaknya itu sangat tidak mencukupi. Andai Sri bisa memasak daging, maka daginya dipotong kecil-kecil agar enam anaknya kebagian semua. Lalu jika beras kurang, nasinya nanti dicampur dengan jagung.

Makanya, Sri pun akhirnya berpikir keras bagaimana cara untuk menambah uang belanja. Sebab kalau mengandalkan gaji Sarwo, faktanya tidak cukup untuk belanja sehari-hari. Muncul lah ide dari Sri, untuk berjualan minyak goreng.

Peluang ini dimanfaatkan oleh Sri, karena saat itu daerah Markas Kopassus di Cijantung masih sangat sepi dan jauh dari pusat kota.

Selain berniat untuk mencari tambahan uang belanja, Sri pun punya keinginan untuk membantu para istri prajurit Kopassus. Seperti yang disebutkan tadi, daerah Cijantung masih sangat sepi di era 60an, dan pasar yang terdekat adalah Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur.

Pada akhirnya, Sri mengambil minyak goreng dari Pasar Kramat Jati untuk dijuali lagi di Kompleks Perumahan Kopassus Cijantung.

Awalnya, Sarwo tak tahu istrinya berjualan minyak goreng. Sebab, Sri sama sekali tak pernah memberi tahu suaminya. Hingga suatu hari saat Sarwo tengah libur dan menghabiskan waktu di teras rumah, ada seorang ibu yang berteriak di depan rumahnya.

"Bu Sarwo, beli minyak goreng," ucap si ibu.

Pada akhirnya, Sarwo pun tahu pekerjaan mulia yang dilakukan oleh sang istri. Sebagai kepala keluarga, Sarwo telah berhasil menularkan arti kesederhanaan kepada istri dan keenam anaknya.