Kisah Jatuh Bangun Pengusaha Ramen di Kota Cilegon Hadapi Badai Pandemi COVID-19

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 yang menyerang hampir seluruh negara di dunia menimbulkan persoalan di berbagai aspek kehidupan. Kemunculan virus corona penyebab COVID-19 member dampak besar, terhadap dunia usaha di berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia.

Mau tidak mau, para pelaku usaha harus beradaptasi dengan suasana baru, yang tak diperkirakan sebelumnya. Baik itu usaha skala besar maupun skala rumahan, semuanya ikut terdampak.

Mereka harus mengatur langkah untuk tetap bertahan menghadapi situasi pandemi COVID-19 yang belum jelas kapan berakhirnya.

Diketahui, sejak pandemi menghantam, sektor usaha di Tanah Air tidak berjalan lancar. Daya beli konsumen ikut terdampak, menyebabkan kegiatan perekonomian lesu.

Beruntung, masih ada sebagian orang yang memilki jiwa kewiraswastaan kuat. Mereka melakukan segala cara untuk mempertahankan bisnis yang ditekuninya tetap berjalan di tengah hantaman COVID-19.

Satu di antara mereka adalah Aditia Ginanjar Pratama. Pria berusia 29 tahun ini memiliki usaha di bidang kuliner ramen bernama Eimodni yang berada di Kota Cilegon, Banten.

Eimodni lahir dari cita-cita Adit, sapaan karib pria kelahiran tahun 1991 ini, untuk mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di bidang kuliner di Kota Cilegon.

Adit melihat pangsa pasar ramen di Kota Cilegon sangat menjanjikan. Ramen memang menjadi satu di antara jenis makanan kekinian yang telah akrab di kalangan anak-anak hingga orang dewasa. Banyak yang menggemari masakan dengan bahan dasar mi tersebut.

Menu Makanan Eimodni

Menu makanan Eimodni. (Bola.com/Alfi Yuda)
Menu makanan Eimodni. (Bola.com/Alfi Yuda)

Untuk menarik lebih banyak pembeli, Adit membanderol ramen racikannya dengan harga terjangkau, yakni berkisar Rp16 ribu hingga Rp29 ribu. Selain itu, Adit sangat menjaga kualitas produknya.

Menu yang dibuat di Eimodni menggunakan bahan baku segar serta tanpa bahan pengawet. Di Eimodni, para pencinta ramen juga bisa menikmati dimsum, minuman milk tea dan thai tea yang turut menjadi menu andalan.

Eimodni buka setiap hari mulai pukul 14.00 WIB hingga 22.00 WIB.

Seperti halnya pengusaha lainnya, bisnis ramen Adit mengalami ujian ketika pandemi COVID-19 menerpa Indonesia. Adit mengungkap, ia sempat ragu untuk membuka kedai ramennya di tengah pandemi COVID-19, termasuk adanya kebijakan pemerintah daerah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Dia mengakui, pandemi memengaruhi kelangsungan bisnisnya karena pendapatan yang diperolehnya mengalami penurunan.

Protokol Kesehatan yang Diterapkan di Eimodni

Protokol kesehatan di Eimodni. (Bola.com/Alfi Yuda)
Protokol kesehatan di Eimodni. (Bola.com/Alfi Yuda)

Namun, Adit tak mau menyerah. Sambil terus menerapkan protokol kesehatan untuk kedainya, Adit mencari cara agar bisnisnya tetap berjalan dan menghasilkan keuntungan.

Melihat pola konsumsi yang berubah, pria lulusan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ini berupaya mencari metode yang tepat bagi usahanya. Ia lantas melakukan perubahan strategi, khususnya untuk menarik lagi minat konsumen.

"Dalam situasi seperti ini kami memiliki terobosan, seperti mengadakan promo membeli minimal Rp50 ribu, gratis menu pilihan hingga diskon. Efeknya yang didapat cukup efektif untuk mendatangkan konsumen kembali," ujar Adit, Kamis (31/12/2020).

"Alhamdulillah, minat pelanggan berangsur membaik karena sebagian besar orang jika mendengar kata diskon akan tergiur," tambahnya.

Di tengah pandemi COVID-19, sebagai pelaku usaha, Adit mau tidak mau harus menerima tantangan yang dihadapi.

Menurutnya, pandemi COVID-19 akan selalu memunculkan kekhawatiran baik usaha, kesehatan diri sendiri, dan kesehatan karyawan maupun pelanggan.

"Tentu, kekhawatiran akan selalu membayangi kami semua. Dalam situasi yang tak menentu, kami selalu terus berupaya menerapkan protokol kesehatan, seperti 3 M (mencuci tangan, menjaga jarak, hingga memakai masker)," tuturnya.

Ia juga telah berpartner dengan aplikasi ojek online untuk meminimalisasi kontak fisik. "Fitur ini sangat membantu untuk memudahkan pelanggan untuk mencari produk saya," kata Adit.

Kekhawatiran dan Pesan Pemiliki Usaha di Masa Pandemi COVID-19

Pemilik usaha ramen Eimodni, Aditia Ginanjar Pratama. (Bola.com/Alfi Yuda)
Pemilik usaha ramen Eimodni, Aditia Ginanjar Pratama. (Bola.com/Alfi Yuda)

Tak ingin karyawannya jatuh sakit di masa pandemi, Adit rela merogoh kantong lebih dalam demi rutin menyuplai multivitamin untuk para karyawanya.

Hal tersebut ia lakukan sebagai bentuk pedulinya kepada karyawan juga sebagai antisipasi para karyawan terpapar virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 dengan menjaga imun tubuh.

"Kami takut Eimodni jadi tempat penyebaran virus corona dan bisa menyebabkan rusaknya brand yang kami miliki. Tapi, kami yakin saja penerapan protokol kesehatan yang kami lakukan bisa meminimalisasi hal tersebut," tegas pria lulusan S2 dari S2 IPWI Jakarta ini.

Eimodni, yang berdiri pada pertengahan 2017 ini, memiliki total karyawan empat orang. "Sejak pandemi melanda, karyawan dalam keadaan sehat," ujar Adit.

"Diharapkan usaha kami bisa lebih tangguh. Saya ingin mempertahankan bisnis dan menjaga lapangan pekerjaan tetap tersedia di tengah pandemi COVID-19. Kami percaya di balik krisis, selalu ada peluang," pungkas Adit, mengakhiri pembicaraan.