Kisah Jenderal TNI Baik Hati Dihajar Habis-habisan Sama Seniornya

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Dikenal sebagai sosok yang sangat rendah hati, Jenderal TNI (Purn.) Mulyono memiliki cara berkomunikasi yang cukup hangat dengan para prajuritnya. Seperti halnya pada saat berbincang dengan juniornya, Jenderal TNI Andika Perkasa, yang menggantikan posisi Mulyono sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), tepat setahun lalu.

Dalam pantauan VIVA Militer di Youtube resmi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), diunggah sebuah video yang menunjukkan momen keakraban antara Mulyono dan Andika. Mulyono yang merupakan jebolan Akademi Militer (Akmil) 1983, adalah senior Andika yang lulus dari Akmil dua tahun setelahnya.

Tanpa terduga, Andika membuat Mulyono terkejut. Pasalnya, Andika langsung naik ke belakang kemudi untuk menyopiri Mulyono. Sepanjang perjalanan dari Lapangan Pancasila Akademi Militer, Magelang, Mulyono menceritakan pengalamannya saat menempuh pendidikan militernya.

Menurutnya, tak hanya dirinya yang memiliki banyak kenangan di Lapangan Pancasila. Tetapi, seluruh siswa yang pernah menimba ilmu di sana.

"Saya memiliki banyak kenangan di sini, di Pancasila sini. Ya, dari semua kenangan yang sifatnya lucu-lucu tetapi itu semua sedikit banyak menempa kita, dalam menghadapi tugas-tugas ke depan. Sepertinya main-main, tetapi ternyata setelah dihayati itu semua bermanfaat saat penugasan kita," ujar Mulyono.

Andika berhasil mengorek pengalaman Mulyono saat masih menjadi siswa di Akademi Militer. Mulyono pun menceritakan bagaimana ia dan rekan-rekannya diberi perintah untuk mencari seekor kodok pada malam hari.

Pria kelahiran Boyolali, 12 Januari 1961, merasakan bagaimana rasanya harus melakukan instruksi seniornya untuk mencari seekor kodok. Sementara, Mulyono tahu pasti bahwa di Lapangan Pancasila tidak akan ada seekor kodok pun.

"Pas waktu itu masa orientasi di Pancasila sini. Waktu itu kita disuruh nyari kodok, di Pancasila sini mana ada kodok. 'Dalam hitungan ketiga, cari kodok!' Hilang semua masuk ke got-got. Kemudian (instruktur bilang), 'Dalam hitungan ketiga muncul semua! Ada yang dapat? Kumpul lagi di lapangan'," kata Mulyono mengenang.

Setelah tiga kali diberi kesempatan oleh para seniornya, Mulyono pun mendengar seorang rekannya akan mengaku telah berhasil mendapatkan kodok. Menurut Mulyono, rekannya ingin berbohong agar semua terhindar dari hukuman selanjutnya.

Nahas, saat diminta maju ke depan dan menunjukkan hasil tangkapannya, rekan Mulyono itu ketahuan berbohong. Bukannya kodok yang dibawanya, melainkan ranting pinus yang dianggapnya menyerupai kodok

"(Itu terjadi) sampai tiga kali, nah yang keempat ada orang yang merasa harus ngaku saja dapat (kodoknya) supaya enggak dihukum lagi. Begitu ditanya lagi 'Siapa yang dapat?' ngaku dia. 'Angkat tangan, maju ke depan'," ucap Mulyono lagi.

"Saya pikir dia hebat sekali bisa dapat kodok. Begitu tampil ke depan ditanya, 'Mana kodoknya?' Dia bilang 'Siap ini kodoknya!' Begitu disenter, ternyata ranting pinus. Wah di situ lah, dihajar habis sama senior-senior," katanya sambil tertawa.

Selain pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Mulyono juga pernah menduduki posisi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Mulyono juga baru saja mendapatkan penghargaan tanda jasa Bintang Mahaputera dari Presiden Joko Widodo.