Kisah Jenderal TNI Hadiahi Kepala Polisi Mayat Beku dari Hutan

Bayu Adi Wicaksono
·Bacaan 2 menit

VIVA – Dalam sejarah militer Indonesia, mungkin banyak Anda mendengar kisah-kisah menyeramkan. Tapi mungkin tidak seseram cerita Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo.

Bagaimana tidak seram, ketika menjabat Panglima Tentara Nasional Indonesia, Jenderal TNI Gatot pernah memberikan sebuah hadiah istimewa kepada dua jenderal Polri.

Hadiahnya bukan hal yang biasa, tak mayat membeku yang dibawa prajurit TNI dari dalam hutan belantara.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 2016, ketika itu Jenderal TNI kelahiran Tegal, Jawa Tengah itu telah mendapatkan kabar bahwa prajurit TNI dari Batalyon Infanteri (Yonif) Raider 515/Ugra Tapa Yudha sedang dalam perjalanan keluar dari hutan di Gunung Biru di Sulawesi Tengah.

Dikabarkan kepada Panglima TNI, bahwa Pasukan Macan Kumbang dari Brigade Infanteri (Brigif) 9/Dharaka Yudha, Divisi Infanteri 2/Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) tak cuma membawa satu mayat, tapi dua sekaligus.

Mayat dibawa dalam kondisi sudah membeku karena telah meregang nyawa sehari sebelum dibawa prajurit TNI dari dalam hutan. Mau tahu mayat siapakah yang dibawa itu?

Satu mayat merupakan orang yang paling dicari-cari kepolisian selama bertahun-tahun. Dia adalah Abu Wardah atau Syekh Abu Wardah alias Santoso. Satu lagi mayat tangan kanannya, Muchtar.

Keduanya tewas pada 18 Juli 2016, setelah ditembak mati tim Alfa 29 Yonif Raider 515/Ugra Tapa Yudha dalam penyergapan senyap di dalam hutan di Poso.

Bagi Jenderal TNI Gatot, apa yang telah diraih prajurit Yonif Raider 515/Ugra Tapa Yudha merupakan sebuah prestasi yang luar biasa. Sebab, bukan perkara mudah untuk bisa meringkus pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) itu, baik hidup atau juga mati.

Ketika itu saja, ada lebih 3.000 pasukan gabungan TNI dan polisi dikerahkan untuk memburu Santoso dalam operasi bersandi Tinombala.

Dalam dokumen VIVA Militer diketahui, sehari setelah keberhasilan itu, Jenderal TNI Gatot memberikan keterangan resmi di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur. Dalam sambutannya, beliau tak cuma mengapresiasi keberhasilan para prajurit Kostrad TNI itu.

"Saya bangga dengan tim yang pantang menyerah menghadapi situasi yang sulit," kata Jenderal TNI Gatot saat itu.

Hanya saja yang menarik, tak cuma memuji keberhasilan para prajurit TNI, tapi beliau juga menyampaikan bahwa menghadiahkan perjuangan prajurit TNI itu kepada dua jenderal polisi. Yakni Jenderal Polisi Badrodin Haiti dan Jenderal Polisi Tito Karnavian.

Sebagai bentuk fisik hadiahnya, TNI menyerahkan kedua mayat membeku yang dibawa jauh-jauh dari dalam hutan belantara kepada kepolisian untuk dilakukan identifikasi.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa ada dua jenderal polisi yang disebutkan diberi hadiah keberhasilan itu? begini ceritanya.

Jadi ketika Pasukan Macan Kumbang Kostrad TNI dikerahkan memburu Santoso, jabatan Kapolri masih dijabat Jenderal Badrodin Haiti. Dan Santoso berhasil ditembak mati Pasukan Macan Kumbang saat Jenderal Tito baru tiga hari dilantik menjadi Kapolri menggantikan Jenderal Badrodin Haiti.

"Pada saat mereka (pasukan Macan Kumbang) berangkat, Kapolri masih Pak Badrodin," kata Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.