Kisah Jenderal TNI Kopassus yang Hampir Tewas Kena Ledakan Bom

Rifki Arsilan
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ada kisah yang menarik dalam perjalanan karir militer mantan Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Letnan Jenderal TNI (Purn) Sintong Panjaitan.

Jenderal TNI lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1963 itu ternyata pernah hampir tewas kena ledakan bom yang dipasang oleh anak buahnya pada saat latihan.

Dilansir VIVA Militer dari akun youtube Puspen TNI, Kamis, 8 April 2021, Letjen TNI Sintong Panjaitan mengisahkan, insiden ledakan itu terjadi ketika dirinya masih berpangkat Letnan Kolonel dan menjabat sebagai Komandan Satuan Anti Teror (SAT-81).

Ketika itu, kata Sintong, para prajurit Satuan Anti Teror (SAT-81) tengah bersiap menyambut kunjungan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI (Purn) Makmun Murod yang akan menyaksikan demonstrasi demolisi yang dilakukan anak buahnya.

Sebelum Jenderal TNI (Purn) Makmun Murod datang, lanjut Sintong, dirinya melakukan pengecekan persiapan yang dilakukan oleh anak buahnya di lapangan. Sesampainya di lokasi, Sintong sempat marah besar kepada anak buahnya karena melihat masih banyak ranting pohon yang menjulang tinggi dan dikhawatirkan mengganggu penglihatan Jenderal TNI (Purn) Makmun Murod pada saat menyaksikan demonstrasi demolisi yang akan dilakukan oleh prajurit Satgultor-81.

"Karena saya menginginkan Bapak Kasad itu melihat dari atas agar tidak berbahaya kan. Ternyata masih banyak ranting-ranting pohon di atas itu. Akhirnya saya perintahkan untuk bersihkan itu (ranting-ranting pohon). Kemudia saya pergi dari situ," kata Letjen TNI Sintong Panjaitan mengisahkan.

Tak lama berselang kepergiannya dari lokasi, lanjutnya, bunyi suara ledakan keras. "Buuum, ternyata meledak," ujarnya.

Dia melanjutkan, situasi di lapangan pun langsung mendadak berubah. Kepanikan sangat terlihat jelas di lokasi latihan. Sejumlah prajurit Kopassus yang saat itu masih bernama Kopassandha langsung bergerak cepat memberikan pertolongan kepada sejumlah pasukan elit Kopassus yang saat itu menjadi korban ledakan. Sintong pun spontan mendatangi lokasi ledakan dan membantu evakuasi para korban.

"Nah, waktu itu datang Pak Edy Sudrajat, saya ditangkap, kau masuk ke Ambulance kata Pak Eddy kepada saya. Loh ada apa pak, kok saya disuruh ke ambulance. Itu kau lihat perut mu itu," kata Sintong menceritakan percakapannya dengan mantan KSAD ke-16, Jenderal TNI (Purn) Edy Sudrajat.

"Pas saya lihat, loh kok ada darah banyak di perut saya.
Saya tidak sadar itu. Orang di rumah pun sudah ramai, Pak Sintong kena, Pak Sintong kena. Ternyata perut saya kena," tambahnya.

Letjen TNI Sintong Panjaitan mengaku ikut terluka terkena ledakan yang belakangan diketahui telah menewaskan 11 orang anak buahnya itu, termasuk ajudan Sintong yang bernama Miskar. Syukurnya pria kelahiran Tarutung, Sumatera Utara itu selamat dari ledakan maut tersebut.

"Saya waktu kejadian itu pakai PDL, PDL kan ada pakai Kopel Rim. Kopel Rim itu kan ada besinya, nah besinya itu masuk merobek sebagian perut saya, tapi untungnya tidak masuk ke dalam perut saya semua, hanya darahnya yang banyak. Akhirnya saya dibawa ke RSPAD dan ditangani oleh dokter RSPAD ketika itu," tutupnya.

Baca: 75 Tahun Jaga Dirgantara, Ini Pesan KSAU untuk Para Prajurit TNI AU