Kisah Kawanan 15 Gajah Mengembara 500 Kilometer ke Sebuah Kota China

·Bacaan 3 menit

Kawanan gajah yang berjalan sejauh 500 kilometer telah tiba di sebuah kota di China yang dihuni jutaan manusia.

Belum jelas mengapa 15 gajah itu bertolak dari bagian selatan Provinsi Yunnan ke ibu kota provinsi tersebut, Kunming.

Beberapa orang menduga kawanan tersebut dipimpin seekor gajah yang tidak berpengalaman sehingga membuat mereka tersesat. Sementara ada pula yang mengira mereka boleh jadi sedang mencari habitat baru.

Para ilmuwan mengatakan perjalanan 15 ekor gajah itu adalah pengembaraan terjauh bagi kawanan gajah liar dari habitatnya.

Surat kabar Kunming Daily melaporkan hampir 700 anggota polisi dan petugas tanggap darurat dikerahkan oleh pemerintah Kota Kunming dan Yuxi. Mereka dilengkapi 10 ton jagung, nanas, dan makanan lain.

Upaya para petugas disokong sejumlah truk dan drone yang mengalihkan kawanan gajah itu ke jalur aman.

Jangan memandang dari dekat, jaga jarak, jangan kasih jagung atau garam, dan jangan ganggu dengan petasan, demikian wanti-wanti para petugas kepada penduduk.

Yunan
Selama perjalanan, kawanan gajah itu mengembara siang dan malam melalui lahan pertanian, jalur tanah, serta jalan aspal.

Sejauh ini upaya memutarbalikkan kawanan gajah tersebut telah gagal dan para ilmuwan mungkin harus mencari tempat yang cocok untuk menampung mereka.

Para pakar satwa menilai kawanan gajah tersebut berjalan semakin jauh karena padatnya populasi manusia membuat mereka semakin takut.

Gajah Asia adalah satwa yang terancam punah. Di China, hewan tersebut hanya ada 300 ekor yang sebagian besar berada di Provinsi Yunnan.

Misteri perjalanan

Masih menjadi misteri mengapa kawanan gajah tersebut meninggalkan habitat mereka, yang diduga terletak di Cagar Alam Mengyangzi di Xishuangbanna, bagian barat daya Provinsi Yunnan.

Aparat pertama kali mengetahui pergerakan mereka setelah diberitahu penduduk lokal yang melihat kawanan gajah itu berada sekitar 100 km sebelah utara Xishuangbanna pada April lalu.

Map
Map

Jumlah kawanan tersebut awalnya dikira sebanyak 17 ekor, namun dua di antara mereka tampaknya berjalan mengarah ke tempat asal ketika mencapai kawasan Mojiang.

Laporan lainnya menyebut kawanan gajah itu semula berjumlah 16 ekor. Namun setelah dua ekor tidak lagi turut serta, seekor bayi gajah dilahirkan. Sehingga kini mereka berjumlah 15 ekor.

Ke-15 ekor gajah itu disebut terdiri dari enam betina dewasa, tiga jantan dewasa, tiga remaja, dan tiga anak.

Selama perjalanan, kawanan gajah itu mengembara siang dan malam melalui lahan pertanian, jalur tanah, serta jalan aspal. Bahkan, pada suatu ketika, mereka mengambil jalan utama menuju Desa Eshan dan menggedor pintu rumah warga.

Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan orang-orang berlarian seraya berseru "mereka datang". Adegan itu disusul oleh kemunculan sebuah mobil polisi dan para gajah, sebagaimana dilaporkan South China Morning Post.

Laporan pemerintah Provinsi Yunnan menyebut kawanan itu telah "menimbulkan masalah sebanyak 412 kali".

Salah satu cerita yang mengemuka berasal dari saluran Jimu News. Media itu melaporkan seorang pria lansia bersembunyi di kolong tempat tidur lantaran belalai gajah menembus masuk kamarnya.

Kemudian seekor gajah dilaporkan mabuk akibat minum gandum fermentasi, namun laporan ini sulit diverifikasi kebenarannya.

Soal kerugian, kawanan gajah itu disebut merusak tanaman di lahan pertanian senilai US$1 juta. Untungnya, tiada korban selama perjalanan tersebut.

Mengapa mereka pergi dari habitatnya?

Ada kelakar garing di media sosial China. Sebuah unggahan di Weibo menyebut hewan-hewan itu mungkin ingin menghadiri Konferensi Keragaman Hayati PBB di Kunming. Namun, kawanan itu datang lebih awal karena konferensi PBB berlangsung pada Oktober mendatang.

Terlepas dari kelakar, perpindahan para gajah adalah hal serius yang melibatkan hilangnya habitat serta meningkatnya perseteruan antara gajah dan petani di Yunnan.

gajah
Kawanan gajah berjalan mengambil jalan utama menuju Eshan.

Li Zhongyuan, seorang pejabat kehutanan di Xishuangbanna, mengatakan kepada Global Times bahwa makanan gajah di habitatnya telah menipis. Akibatnya para satwa mengincar tanaman pertanian seperti jagung dan tebu.

Pengembaraan 15 ekor gajah ini bisa saja diikuti kawanan gajah lainnya jika habitat mereka semakin berkurang untuk kemudian diganti dengan lahan karet dan tanaman yang ditumbuhkan untuk profit.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel