Kisah Kesuksesan Bhayangkara FC: Dari Kloningan Persebaya hingga Menjelma Jadi Tim Raksasa Bertabur Bintang di BRI Liga 1

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Bhayangkara FC bakal menjadi satu di antara tim unggulan di BRI Liga 1 2021/2022. Tim berjulukan The Guardians ini bertabur pemain bintang dan menjadi tim raksasa sejak beberapa tahun terakhir.

Di bawah naungan pelatih Paul Munster, Bhayangkara FC punya materi pemain mentereng, disesaki nama besar dan berkualitas. Bhayangkara FC berpotensi mengulang sukses menjadi kampiun seperti pada musim 2017.

Namun, menengok ke belakang, tim ini berdiri dan berjalan dengan diiringi banyak kontroversi. Tidak sedikit pihak yang menyebut Bhayangkara FC adalah tim yang sering nomaden alias doyan berpindah markas.

Proses berdirinya Bhayangkara FC di persepakbolaan nasional beberapa tahun lalu juga kontroversial. Embrio atau cikal bakal Bhayangkara FC bermula dari klub Persikubar Kutai Barat yang berubah nama menjadi Persebaya Surabaya, hingga adanya dualisme Persebaya kala itu.

Setelah Persikubar bertransformasi menjadi Persebaya, mereka tampil di kasta Divisi Utama musim 2010 bahkan menjadi juara pada 2013 dengan mengalahkan Perseru Serui di Stadion Manahan Solo. Alhasil Persebaya promosi ke kasta tertinggi.

Lima tahun memakai nama Persebaya, tim ini kemudian berganti nama jadi Persebaya United pada medio Agustus-September 2015. Pada September 2015, Persebaya United berubah nama jadi Bonek FC yang bertahan hanya satu bulan. Klub itu kembali berganti nama menjadi Surabaya United sampai April 2016.

Merger dan Muncul Nama Baru

Ekspresi pemain Bhayangkara Solo FC, Evan Dimas Darmono (kanan), jelang laga melawan Borneo FC Samarinda, dalam pertandingan Babak Penyisihan Piala Menpora 2021 di Stadion Kanjuruhan, Malang. Senin (22/3/2021). (Bola.com/Arief Bagus)
Ekspresi pemain Bhayangkara Solo FC, Evan Dimas Darmono (kanan), jelang laga melawan Borneo FC Samarinda, dalam pertandingan Babak Penyisihan Piala Menpora 2021 di Stadion Kanjuruhan, Malang. Senin (22/3/2021). (Bola.com/Arief Bagus)

Tahun 2016 menjadi momentum berakhirnya era Persebaya Surabaya yang sempat lama melekat. Pada April 2016 sebelum berlangsungnya turnamen Piala Jenderal Soedirman, Surabaya United merger dengan PS Polri.

Merger antara kedua tim itu memunculkan nama baru yakni Bhayangkara Surabaya United dan berkompetisi di Indonesia Soccer Championship (ISC) - A, sebuah turnamen setelah PSSI dibekukan oleh FIFA. Bhayangkara Surabaya United tetap bermarkas di Surabaya dan Sidoarjo.

Setahun bermarkas di Sidoarjo, tim ini lantas kembali berganti nama menjadi Bhayangkara FC (BFC) dan secara resmi boyongan ke Bekasi, Jawa Barat pada 2017. Bhayangkara FC menunjuk Simon McMenemy sebagai pelatih dan menggunakan Stadion Patriot sebagai home base.

Nama Bhayangkara FC sudah paten hingga sekarang dan langsung membuktikan diri menjadi tim terbaik dengan menjuarai Liga 1 musim 2017. Pada musim kompetisi 2018, BFC kembali pindah ke Jakarta dengan berkandang di Stadion PTIK, hingga akhir musim 2020.

November 2020, Bhayangkara FC berganti markas untuk kesekian kalinya. Yakni dengan boyongan ke Solo, Jawa Tengah. Mereka mengubah nama menjadi Bhayangkara Solo FC dan berkandang di Stadion Manahan, bersanding dengan klub Persis Solo yang masih bermain di Liga 2.

Sayangnya kompetisi Liga 1 sempat berulangkali mengalami penundaan, membuat Bhayangkara Solo FC belum sempat tampil di rumah barunya. Tampaknya nama Bhayangkara FC kembali paten, setelah dalam Kongres PSSI bulan Mei 2021, PSSI belum menerima pengajuan soal perubahan nama klub tersebut.

Menatap BRI Liga 1

Bhayangkara FC - Evan Dimas, Adam Alis, Hargianto (Bola.com/Adreanus Titus)
Bhayangkara FC - Evan Dimas, Adam Alis, Hargianto (Bola.com/Adreanus Titus)

Bicara kekuatan tim, secara umum Bhayangkara FC tak mengalami perubahan dan tetap merupakan tim besar. Mayoritas pemain sudah lama menjadi andalan sejak beberapa musim terakhir.

Pemain-pemain saat era kejayaan Timnas Indonesia U-19 warisan Indra Sjafri banyak ada di tim ini dan menjadi kerangka utama. Bhayangkara FC tetap menjadi klub yang berkarakter dan selalu menempati posisi papan atas di setiap musimnya.

Deretan pemain berkelas ada di tim ini, baik itu mempertahankan pemain lama maupun mendatangkan rekrutan anyar. Mulai dari penjaga gawang Awan Setho Raharjo yang dipastikan menjadi kiper utama, setelah hengkangnya Wahyu Tri Nugroho ke Persis Solo.

Kemudian di barisan belakang terdapat nama Putu Gede Juniantara, Indra Kahfi, Ruben Sanadi, serta rekrutan anyar Hansamu Yama pranata. Pertahanan Bhayangkara FC bakal bertambah kuat dengan kembalinya Anderson Salles.

Bergeser ke lini tengah ada nama-nama besar yang pernah tampil di level Timnas Indonesia. Mulai dari Adam Alis, TM Ichsan, Sani Rizki, Muhammad Hargianto, Andik Vermansyah, Arthur Bonai, Renan Silva, Lee Yoo Joon, serta bintangnya Evan Dimas Darmono.

Barisan depan Bhayangkara FC tidak kalah pamornya. Ada bomber utama Ezechiel N'Douassel asal Chad yang sulit tergantikan. Kemudian ada nama Dendy Sulistyawan, serta pemain naturalisasi Osas Saha.

Dengan status sebagai tim besar, juara edisi 2017 dan selalu menembus posisi empat besar pada musim 2018 dan 2019 adalah bukti tim ini sangat konsisten. Bhayangkara FC jelas mengusung target tinggi di BRI Liga 1.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel