Kisah-kisah Flores dalam Gambar  

TEMPO.CO, Maumere -- Sebanyak 20 pewarta foto menampilkan karya esai foto mereka pada acara puncak Gambara Photo Award 2012 Flores Bangkit, Minggu malam 28 Oktober 2012. Lomba ini digelar komunitas budaya visual Gambara. Dua puluh fotografer dari seluruh Indonesia ini berburu foto esai di 20 titik lokasi di Flores, sejak 21 sampai 24 Oktober 2012. Uniknya, para peserta lomba ini selama beberapa hari mesti tinggal di rumah penduduk dan membuat esai foto selama di sana.

Dua puluh titik itu antara lain: Golo Bilas, Komodo; Tado Nampar Mancing, Sano, Nggoang; Bulan, Ruteng; Wangkung, Reo; Watunggene, Kota Komba; Kota Ndora, Borong; Kelitei, Aimere; Manubara, Tololela, Jerebuu; Nata Gene, Boawae; Tendatoto, Wolowae; Nggela, Wolojita; Tou Timur, Kota Baru; Masabewa, Paga; Nita, Nita; Timu Tawa, Talibura; Bama, Demon Pagong; Karawatung, Solor Barat; Oringbele, Witihama, Adonara; Jontona, Ileape Timur; dan Hingalamamengi, Omesuri.

Kebanyakan 20 esai foto mengungkap Flores dari kacamata kemiskinan, masyarakat tertinggal, sekolah yang hampir rubuh, akses pendidikan yang sangat minim, anak-anak yang pergi sekolah dengan telanjang kaki, kesehatan masyarakat seperti malaria serta kelahiran bayi, juga budaya Flores yang beragam dan keindahannya.

Klaas Stoppels, fotografer asal Belanda yang sudah tinggal di Indonesia selama belasan tahun mengaku terenyuh saat menginjakkan kaki di Hingalamamengi, Omesuri. Ia melihat kondisi masyarakat yang tertinggal."Saya agak emosional waktu memotretnya," kata pria yang fasih berbahasa Indonesia ini. Ia mengabadikan anak-anak dan sekolah dari rumah kayu yang kecil ke dalam fotonya.

Djoko Wibowo kebagian di wilayah pesisir Bulan (Cancar), Ruteng. Di desa nelayan ini, ia menemukan anak berusia 12 tahun yang jadi nelayan bersama saudaranya. Foto esainya berkisah tentang anak tersebut, yang bernama Valdo. Anak ini tinggal bersama neneknya. Ibunya TKI di Malaysia. Ayahnya di Kalimantan. Bertahun-tahun tak ada kabar dari keduanya. Valdo yang tidak sekolah, bekerja demi Rp 200 ribu agar adiknya bisa mengenyam pendidikan. "Dari lima bersaudara, hanya adiknya yang paling kecil yang sekolah," ujarnya sambil menahan tangis saat menjelaskan foto-fotonya.

Aditia Noviansyah menceritakan warisan budaya Suku Tabo di Nampar Mancing, Sano Nggoang dalam bentuk visual. Di sana, ternyata banyak benda-benda bersejarah yang tidak mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata setempat. "Saya mempresentasikan cerita kepala suku generasi ke-13 dari Suku Tabo ke dalam bentuk visual," ujarnya.

Lasti Kurnia lain lagi. Ia mengangkat permasalahan ibu dan anak di Nata Nage, Boawae. Dalam esai fotonya, ia menceritakan ibu yang melahirkan di Puskesmas, padahal orangtuanya adalah dukun bayi. Malah, ibunya yang dukun bayi yang mengantar anaknya melahirkan di Puskesmas. Ternyata, dukun bayi berkurang perannya dalam proses kelahiran menjadi pada masa kehamilan saja. Tak cuma masalah kesehatan, Lasti juga menampilkan adat kelahiran bayi di tempat itu. Ketika bayi lahir, dukun akan memotong ujung kaki ayam untuk diambil darahnya sedikit, lalu menaruh darah itu di dahi bayi dan di tangannya. "Kalau tidak melakukan, kepercayaannya si dukun akan mengalami kebutaan," ujarnya.

Esai foto Maulana Surya Tri Utama tak kalah menarik. Tampak seorang perempuan berjilbab tengah mengajar di kelas yang di dinding atasnya terpasang salib. Di Wangkung, Reok (Reo), Maulana menemukan sekolah Islam dan Katolik. Namun mereka bekerja sama mengadakan pertukaran guru untuk menambah ilmu murid-muridnya. "Flores adalah tempat Bung Karno diasingkan dan melahirkan butir-butir Pancasila. Ternyata nilai-nilai Pancasila itu masih dirawat sampai sekarang," Maulana berujar. Ia menjuluki masyarakat lokal ini sebagai para perawat Pancasila.

Direktur Gambara, Trisakti Simorangkir mengatakan ke-20 peserta ini hasil seleksi dari sekitar 10 ribu foto yang kemudian disaring menjadi 6 ribu foto yang masuk saat pendaftaran dibuka. Selama tinggal di rumah penduduk, "Fotografer didampingi orang lokal," kata Sakti.

Flores menjadi pilihan lokasi tahun ini, dua tahun sebelumnya Gambara menyelenggarakan lomba yang sama di Nias. Kenapa Flores? Karena kondisi Indonesia bagian timur memang tertinggal jauh perkembangan ketimbang Indonesia barat dan tengah.

Oscar Motuloh, Ketua Dewan Juri mengatakan fotografi menjadi perwakilan mata proyek sosial yang menyatakan realitas Indonesia. Gambar-gambar ini diharapkan berbicara mengenai kondisi Flores yang sebenarnya dan menarik perhatian dunia. "Jadi di foto-foto itu ada narasi kuat tentang kondisi realitas sosial," kata Oscar.

NIEKE INDRIETTA

Berita Lainnya:

5 Hal Unik di Pasar Geliting Maumere

6 Tempat Menarik di Maumere

LIma Wisata Bahari Maumere

Basmi Malaria di Flores dengan Lagu 

Ke Inggris, SBY Dapat Gelar Ksatria

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.