Kisah Kitab Terlarang yang Ditulis dengan Darah Pemimpin Irak Saddam Hussein

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Bagdad - Jauh di bawah masjid Umm al-Qura di Bagdad, sebuah objek yang hanya dapat digambarkan sebagai paradoks teologis dikunci dalam lemari besi rahasia -- sebuah Qur'an yang ditulis dengan darah mantan diktator Irak, Saddam Hussein.

Dikutip dari Today I Found Out, Minggu (20/6/2021), Saddam minta dibuatkan Al-Qur'an tersebut pada 28 April 1998 dalam rangka ulang tahunnya.

Ia sendiri memeluk kembali agama Islam setelah putranya, Uday Hussein, selamat dari upaya pembunuhan pada 12 Desember 1996.

Dalam sebuah surat resmi yang diterbitkan pada 2000, Saddam menjelaskan bahwa kitab tersebut dimaksudkan sebagai ucapan terima kasih kepada Tuhan karena telah membawanya dengan aman melalui banyak "persekongkolan dan bahaya" sepanjang karier politiknya yang panjang.

"Hidup saya penuh dengan bahaya di mana saya seharusnya kehilangan banyak darah," katanya. "Tetapi karena saya hanya berdarah sedikit, saya meminta seseorang untuk menulis firman Tuhan dengan darahku sebagai rasa terima kasih."

Untuk menulis kitab tersebut, Saddam menugaskan kaligrafer Abbas Shajir Joody al-Baghdadi dan selama dua tahun berikutnya, seorang perawat megambil 27 liter darahnya yang dicampur dengan bahan kimia sehingga dapat digunakan untuk menulis.

Penulis Tidak Dapat Menolak

Ilustrasi  darah (Sumber: PIxabay)
Ilustrasi darah (Sumber: PIxabay)

Kitab itu selesai pada tahun 2001 dan digunakan untuk merayakan kemenangannya atas pasukan Koalisi dalam Perang Teluk 1990-1991.

Ia memamerkannya di tugu yang dirancang menyerupai rudal balistik Scud dan moncong senapan Kalahnikov. Paviliun yang menampung halaman-halaman Al-Qur'an ini sebagian besar tetap terkunci dan hanya dibuka untuk tamu khusus Saddam.

Sejak awal, pembuatan kitab tersebut tmemicu badai kontroversi di kalangan ulama Islam. Menurut hukum Islam atau Syariah, darah manusia dianggap najis -- apabila digunakan untuk ritual -- dan menyebut menulis Al-Qur'an dengan darah adalah sesuatu yang sangat dilarang atau haram.

Pencipta buku tersebut, Abbas al-Baghdadi, menyadari hal itu, tetapi tidak dapat menolak permintaan Saddam karena takut.

"Saya tidak suka membicarakan hal ini sekarang. Itu adalah bagian menyakitkan dari hidup saya yang ingin saya lupakan," ujarnya.

Sekarang, ia tinggal di Virgnia, Amerika Serikat (AS).

Sheikh Sammari, juru kunci kitab tersebut, mengatakan bahwa pembuatan kitab tersebut mengatakan banyak tentang karakter Saddam.

"Itu mengatakan banyak tentang Saddam. Seharusnya tidak pernah dimasukkan ke dalam museum, karena tidak ada orang Irak yang ingin melihatnya," katanya. "Mungkin di masa depan bisa dikirim ke museum pribadi, seperti memorabilia dari rezim Hitler dan Stalin."

Reporter: Paquita Gadin

Infografis Sudah Vaksinasi Covid-19? Jangan Kendor 5M!

Infografis Sudah Vaksinasi Covid-19? Jangan Kendor 5M! (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Sudah Vaksinasi Covid-19? Jangan Kendor 5M! (Liputan6.com/Triyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel