Kisah Legendaris yang Tak Pernah Punah : Zlatan Ibrahimovic dan Lionel Messi Berantem, Lalu Pergi dari Barcelona

Bola.com, Jakarta - Sejauh ini, Erling Haaland tampil kinclong di Manchester City. Eks Borussia Dortmund itu menjadi predator yang sangat mengerikan di Liga Inggris dan Liga Champions 2022/2023.

Di panggung Premier League saja, pemilik paspor Norwegia itu sudah mengemas 18 gol. Termasuk sebiji golnya ke gawang Fulham beberapa waktu lalu yang berakhir dengan kemenangan 2-1.

 

Berkat Sentuhan

Erling Haaland bisa dibilang menjadi salah satu penandatangan penyerang baru tersukses pada bursa transfer musim panas 2022. Ia direkrut Manchester City dari Borussia Dortmund dengan harga 60 juta euro. Harga tersebut sukses dibalas Haaland dengan performa cemerlangnya. Pria 22 tahun itu mampu melesatkan 17 gol dan 3 assist dalam 11 penampilannya di Liga Inggris. Sementara itu, Haaland telah menorehkan 5 gol dalam 4 laga di Liga Champions. (AFP/Oli Scarff)
Erling Haaland bisa dibilang menjadi salah satu penandatangan penyerang baru tersukses pada bursa transfer musim panas 2022. Ia direkrut Manchester City dari Borussia Dortmund dengan harga 60 juta euro. Harga tersebut sukses dibalas Haaland dengan performa cemerlangnya. Pria 22 tahun itu mampu melesatkan 17 gol dan 3 assist dalam 11 penampilannya di Liga Inggris. Sementara itu, Haaland telah menorehkan 5 gol dalam 4 laga di Liga Champions. (AFP/Oli Scarff)

Sukses Haaland tersebut tentunya tak lepas dari sentuhan serta arahan sang pelatih, Pep Guardiola. Namun, nun jauh dari Italia, tak ada angin tak ada hujan, Zlatan Ibrahimovic, striker AC Milan, menasihati Haaland agar berhati-hati terhadap Guardiola.

"Bisakah Guardiola membuat Haaland lebih baik? Tergantung ego Guardiola. Apakah dia membiarkan Haaland menjadi lebih besar darinya atau tidak," kata Ibra, dilansir The Guardian.

 

Ibra Sewot?

Lho, kok Ibra sewot gitu? "Karena dia tidak membiarkan saya menjadi lebih besar," tegas Ibra. Ternyata, luka lama menguap kembali. Hal itu terjadi beberapa purnama lalu, tepatnya pada musim 2009/2010.

Saat itu, Ibra dan Guardiola masih sama-sama berada di bawah bendera Barcelona. Area ini yang satu pemain, yang satu lagi pelatih.

Ibra memesona. Sang bomber yang diboyong dari Inter Milan mampu mendulang 21 gol sepanjang musim itu. Namun, lama kelamaan, Ibra merasa kalau Guardiola menjadikannya sebagai "pelayan" bagi Lionel Messi.

 

Sejak Dulu

Penyerang Barcelona Lionel Messi berselebrasi usai mencetak gol ke gawang Real Athletic selama pertandingan Liga Spanyol di stadion Nou Camp di Barcelona pada 15 Januari 2006. Messi, yang melakukan debut di Barcelona pada 2004, telah memenangkan 10 gelar La Liga dan empat Liga Champions. (AFP/Lluis
Penyerang Barcelona Lionel Messi berselebrasi usai mencetak gol ke gawang Real Athletic selama pertandingan Liga Spanyol di stadion Nou Camp di Barcelona pada 15 Januari 2006. Messi, yang melakukan debut di Barcelona pada 2004, telah memenangkan 10 gelar La Liga dan empat Liga Champions. (AFP/Lluis

Messi memang pemain bintang dan idola fans Blaugrana. Ibra mahfum itu. Akan tetapi, dia menganggap Guardiola terlalu mengistimewakan La Pulga. Terbukti, Guardiola kerap memakai formasi 4-5-1 dengan Messi sebagai sentral serangan.

Protes Ibra sama sekali tak digubris Giordiola. Pep merespons sungut-sungut Ibra dengan membuangnya sebagai pemain pinjaman ke Milan.

 

Tetap Bersinar

Di Milan, Ibra tetap bersinar. I Rossoneri mengganjar Ibra dengan kontrak permanen. Dua musim bersama Milan, 2010-2012, si jangkung nan kekar itu mengepak 56 gol dari 85 laga di semua kompetisi.

Dia ikut mengantarkan AC Milan memenangkan Serie A 2010/2011. Mantan Direktur Pemasaran Barcelona, Marc Ingla, mencoba mengurai mengapa Giordiola sampai tega mendekap Ibra.

 

Andai Bersatu

"Messi mungkin membutuhkan lebih banyak ruang. Zlatan mengambil terlalu banyak. Ada sedikit gesekan. Saya percaya itu," kata Ingla. Bila dilihat dari pencapaian Ibra dan Messi di Barcelona, keduanya duet maut.

Lima gelar yang dihasilkan Tim Catalan kala itu adalah bukti jika keduanya pasangan serasi. Seharusnya, ketika mereka tetap bersatu, bakal semakin banyak trofi di lemari Barcelona.

Masih Sanggup Real Madrid?