Kisah Mahasiswa Indonesia di Melbourne Kesulitan Uang Saat Pandemi

Renne R.A Kawilarang, ABC Indonesia
·Bacaan 5 menit

Sri Dila Riwu, mahasiswa asal Kupang, berharap suatu hari nanti suami dan anak-anaknya bisa bergabung dengannya di Australia, setelah ia tinggal seorang diri selama setahun.

Setelah hal itu terwujud, lalu datanglah pandemi yang membuyarkan impian mereka.

Dila sedang kuliah S2 kedokteran laboratorium pada universitas RMIT di Melbourne dan hidup dari beasiswa yang diterimanya.

Setelah menjalani pendidikan selama setahun seorang diri, akhirnya suami dan anak-anaknya pun bergabung dengan Dila dan tinggal di Brunswick, suatu kawasan dekat pusat kota Melbourne.

Namun tak berselang lama sejak kedatangan keluarganya itu, pandemi COVID-19 menghadirkan persoalan baru karena hampir semua sektor harus ditutup akibat pembatasan sosial yang ketat.

"Saya stres ketika keluarga saya datang karena bertepatan dengan lockdown," katanya kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

Tadinya suami Dila berencana untuk bekerja untuk membantu menghidupi keluarga mereka. Namun rencana itu gagal karena kurangnya kesempatan kerja di masa pandemi.

Dila mengaku sangat terpukul dengan kondisi ini.

"Saya kesulitan mengurus semuanya. Tapi setidaknya suamiku sangat membantu karena dia selalu berada di rumah," katanya.

Groceries
Groceries

Sejumlah mahasiswa internasional sangat bergantung pada bantuan badan amal untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. (ABC News: Natasya Salim)

Keluarga Dila hanya mengandalkan uang beasiswa yang diterimanya dan juga makanan gratis yang diberikan oleh berbagai pihak.

Mereka pun memanfaatkan kebijakan pemerintah setempat tentang pengurangan sewa rumah selama pandemi sehingga bisa tetap tinggal di rumah mereka sekarang.

Kini Dila merasa bersyukur karena suaminya telah mendapatkan pekerjaan di sektor pertanian di daerah Cobram di pedalaman negara bagian Victoria.

Namun, Dila khawatir penghasilan suaminya tidak cukup untuk membiayai tiket pulang ke Indonesia bulan depan.

"Tiket saya ditanggung oleh program beasiswa, tapi kami masih harus membayar empat tiket lain, sementara harga tiket untuk sampai ke Kupang lumayan mahal," ujarnya.

"Kami tidak punya tabungan untuk membeli tiket," tambahnya.

"Kami masih bertahan hingga sekarang"

Kehidupan keluarga Tiyon Novaidin dan istri bersama dua anak mereka sebelumnya berjalan baik di Melbourne.

Mereka berdua memiliki pekerjaan tetap dan Tiyon sendiri sedang menyelesaikan kuliah S2 di bidang akuntansi.

Kemudian pandemi COVID-19 mengubah hidup mereka.

Suami istri ini bekerja sebagai tenaga kebersihan. Tiyon masih bekerja paruh waktu sedangkan istrinya telah kehilangan pekerjaannya.

"Semuanya terjadi begitu mendadak," katanya.

"Kami harus mengandalkan penghasilan saya untuk bertahan hidup. Selain itu, kami mendapat bantuan dari teman-teman yang peduli dan memahami kondisi kami," ujar Tiyon.

Ia datang ke Melbourne sebagai mahasiswa internasional pada Juli 2017. Istrinya menyusul dua bulan kemudian bersama putri mereka yang berusia sembilan tahun. Mereka kemudian dikaruniai seorang putra pada tahun berikutnya.

Tiyon mengaku khawatir jika pembatasan sosial terus berlanjut, hal itu akan mempengaruhi kuliahnya dan juga pendidikan putrinya.

"Kami telah meminta bantuan dari keluarga di Indonesia saat itu, tapi karena hampir setiap negara di dunia terkena pandemi, mereka juga mengalami kesulitan," ujarnya.

"Kami memberi tahu mereka tentang kondisi kami, tapi kami masih bisa bertahan hingga sekarang," kata Tiyon.

Keluarga Tiyon mendapatkan bahan makanan dan bantuan lain dari organisasi nirlaba serta teman-temannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka selama lockdown.

Tiyon juga memanfaatkan kebijakan pemerintah tentang pengurangan sewa rumah selama pandemi sehingga tetap bisa melanjutkan sewa mereka.

Sejak pekan lalu, istri Tiyon sudah kembali mendapatkan pekerjaan di sebuah restoran.

Bantuan bahan makanan gratis Mahasiswa internasional mengantri untuk mendapatkan bahan makanan gratis yang disediakan salah badan amal di pusat Kota Melbourne. (ABC News: Jarrod Fankhauser)

International students lining up
International students lining up

Selama masa pandemi di Australia, mahasiswa internasional merupakan salah satu kelompok yang paling terpukul. Banyak di antara mereka yang kehilangan pekerjaan dan tidak dapat pulang ke negaranya.

Laporan Foodbank Hunger menyebutan bahwa mahasiswa internasional dan pekerja lepas sangat rentan mengalami kerawanan pangan akibat pandemi.

Untuk itulah, Foodbank Victoria, sebuah badan amal, membuka gerai sementara khusus untuk mahasiswa internasional. Mereka dapat mengambil bahan makanan segar dan barang kebutuhan pokok secara gratis.

Gerai tersebut dibuka sejak 21 Oktober lalu dan dikunjungi oleh sekitar 500 mahasiswa per hari.

Alexa Viani
Alexa Viani

Alexa Viani dari Foodbank mengatakan mahasiswa internasional perlu mendapatkan dukungan selama masa pandemi. (ABC News: Natasya Salim)

Alexa Viani, manajer pemasaran dan komunikasi di Foodbank Victoria, mengatakan lockdown akibat pandemi berdampak besar pada mahasiswa internasional.

"Banyak industri tempat mereka bekerja ditutup. Sehingga tidak ada penghasilan," katanya kepada ABC.

Alexa mengatakan mahasiswa internasional sangat membutuhkan bantuan, karena mereka tidak dapat kembali ke negaranya, terisolasi, menganggur dan tidak memiliki jaringan yang mendukung mereka.

"Kami ingin menjaga martabat mereka dengan memberikan pilihan bagi mahasiswa yang terjebak dan kesulitan," katanya.

"Mahasiswa internasional adalah bagian dari kehidupan di pusat kota Melbourne jadi kami hanya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa kami hadir untuk mereka," tambah Alexa.

Seorang mahasiswa asal Kolombia, David Nocua, yang telah mendatangi gerai Foodbank mengatakan program ini sangat membantu ketika dia menganggur selama tiga hingga empat bulan.

Menyalurkan bantuan ke rumah-rumah

Bagi mahasiswa internasional yang tinggal di pinggiran kota Melbourne, kondisinya juga hampir sama.

Menurut Susan Hendra dari badan amal bernama 300 Blankets, pihaknya telah menerima banyak permintaan dari mahasiswa internasional tentang paket bantuan mereka.

Setiap minggu, badan amal ini menyalurkan paket bantuan yang berisi makanan seperti susu, sereal, selai, buah-buahan segar, roti, dan telur ke rumah-rumah mahasiswa internasional di luar pusat kota Melbourne.

Susan Hendra
Susan Hendra

Susan Hendra (kanan) mengantarkan paket bantuan kepada mahasiswa internasional di wilayah pinggiran kota Melbourne. (Supplied)

Kebutuhan pokok sehari-hari, menurut Susan, bukan satu-satunya permasalahan yang dihadapi mahasiswa internasional.

"Saya kira karena masa lockdown itu, orang mendambakan adanya hubungan sosial," katanya kepada ABC.

"Mereka terlihat senang bisa melihat orang lain. Jadi kami berusaha menurunkan relawan yang sama untuk menyalurkan bantuan ke rute yang sama sehingga mereka dapat membangun hubungan," tambahnya.

Menurut catatan ABC, sektor pendidikan internasional menyumbang $40 miliar setiap tahun untuk perekonomian Australia dan mendukung 250.000 lapangan kerja.

Sebagian besar kontribusi itu terlihat di Victoria, dengan pendapatan $12,6 miliar dari sektor pendidikan internasional serta mendukung 79.000 lapangan kerja tahun lalu.

Awal tahun ini, Pemerintah Federal membuat lima visa untuk memastikan kondisi mahasiswa internasional tidak menjadi lebih buruk akibat pandemi virus corona.

Perubahan itu termasuk mengizinkan mahasiswa yang belajar online di luar Australia karena COVID-19 untuk menggunakan masa studi tersebut dalam persyaratan visa kerja pasca-studi.

"Kami negara yang terbuka dengan sistem pendidikan kelas dunia dan kondisi COVID-19 terendah di dunia," kata Penjabat Menteri Imigrasi Alan Tudge pada Juli lalu.

Seorang juru bicara Pemerintah mengatakan kepada ABC bahwa mahasiswa internasional merupakan bagian penting dari sektor pendidikan dan memberikan kontribusi yang signifikan kepada masyarakat luas.

"Itulah mengapa kami memberikan dukungan melalui Dana Bantuan Darurat Mahasiswa Internasional senilai $45 juta," kata juru bicara itu.

"Kami juga telah menugaskan Palang Merah untuk memberikan bantuan keuangan, informasi, dan rujukan sebagai bagian dari program senilai $50 juta untuk mendukung mereka yang paling rentan di Victoria - termasuk para mahasiswa internasional," tambahnya.

Simak artikelnya dalam versi Bahasa Inggris di sini.