Kisah Mahasiswi Asal Nabire Kesulitan Vaksin, Berjodoh dengan PWNU DIY

·Bacaan 2 menit
Cecelia Agatha (20) mahasiswa asal Nabire Papua ini menjadi salah satu peserta vaksinasi COVID-19 di Gedung Olah Raga (GOR) Siyono Gunungkidul.

Liputan6.com, Gunungkidul - Cecelia Agatha (20) mahasiswa asal Nabire Papua ini menjadi salah satu peserta vaksinasi COVID-19 di Gedung Olah Raga (GOR) Siyono Gunungkidul. Vaksinasi Kamis (19/8/2021) itu digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) DIY.

Cecelia rela menempuh perjalanan sekitar 30 kilometer untuk mendapatkan vaksin COVID-19. Pasalnya, persoalan KTP non-DIY lah yang menjadikan kendala dirinya ketika ingin mendapatkan vaksin. Beberapa lokasi vaksinasi massal telah ia datangi, namun kuotanya selalu habis.

Kamis siang, tak hanya Cecelia, ratusan mahasiswa luar DIY yang berdomisili di Kabupaten Bantul, Sleman, ataupun Kota Yogyakarta juga menyerbu vaksinasi yang digelar PWNU DIY tersebut. Hal ini menunjukkan kesadaran vaksinasi masyarakat cukup tinggi.

Kamis pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, Cecelia berangkat dari kostnya di Bantul. Ditemani rekannya dari Papua, mahasiswa salah satu universitas swasta di Bantul ini sengaja datang ke Gunungkidul untuk ikut vaksinasi. Wanita yang telah tinggal 5 tahun di DIY tersebut rela menempuh perjalanan puluhan kilometer karena selama ini kesulitan vaksinasi.

Cecelia mengakui dirinya bersama ribuan mahasiswa luar DIY kesulitan mengakses vaksinasi di DIY. Karena yang diprioritaskan adalah penduduk lokal terlebih dahulu.

"Kalau di rumah sakit atau puskesmas yang didahulukan ya KTP DIY dulu. Vaksin massal juga demikian, kuotanya selalu cepat habis," paparnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Ketemu Jodoh dengan PWNU DIY

Padahal, ia harus segera mendapatkan kartu vaksinasi karena Sabtu pekan ini ia harus pulang ke Papua untuk mengambil berkas pendaftaran STPDN adiknya. Ia pun sudah berkeliling ke beberapa tempat vaksinasi massal, namun ditolak karena diprioritaskan KTP DIY terlebih dahulu.

Dirinya kemudian berupaya mencari informasi vaksinasi massal yang tidak memprioritaskan KTP DIY. Dan akhirnya ia menemukan kegiatan vaksinasi oleh PWNU DIY yang terbuka untuk warga baik DIY ataupun luar DIY.

"Saya ketemunya di sini. Ndak apa-apa jauh," tambahnya.

Mahasiswa asal Papua yang lain, Azizah juga rela menempuh perjalanan 30 kilometer lebih dari Sleman agar bisa mendapatkan vaksin. Ia sengaja mengantar temannya asal Bengkulu yang kesulitan mendapatkan vaksin.

"Di Sleman selalu penuh dan tidak pernah mendapatkan kuota. Kuotanya itu pasti diprioritaskan yang DIY dulu. Kalau saya sudah di kampus," tutur mahasiswa Poltekes Yogyakarta ini.

Wakil Ketua DPW NU DIY, Fahmi Ahmad Idris mengatakan, vaksinasi di Gunungkidul ini merupakan vaksinasi massal yang kedua dilaksanakan oleh PWNU DIY. Meski yang kedua, namun pelaksanaannya merupakan titik yang ketiga. Vaksinasi ini terbuka tidak terbatas pada KTP DIY saja.

"Hari ini, kami menargetkan 2.000 peserta untuk vaksinasi massal. Kami optimis tercapai. Karena animo selama ini melebihi kuota. Dan kami sudah umumkan di instagram pendaftarannya," terangnya.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel