Kisah Mbah Ngatemin, Senja Kala Penjaga Makam di Sayung Demak

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Demak - Usia senja lazimnya menjadi salah satu alasan bagi seseorang untuk menikmati istirahat setelah bekerja keras semasa muda.

Tapi hal itu tak berlaku bagi Mbah Ngatemin (78) seorang penjaga makam di Dukuh Setro Kidul RT 2 RW 3 Desa Purwosari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Tubuhnya yang renta dengan punggung bungkuk masih harus bergelut dengan pekerjaan berat sehari-hari.

Lepas subuh hingga pukul sepuluh, kakek beranak enam ini merawat makam, mulai dari membabat rumput yang selalu tumbuh tak beraturan hingga membetulkan nisan yang sering miring akibat terjangan air rob.

"Menawi wonten banjir rob, makame kelem sak menten (Kalau ada banjir rob, makam tenggelam segini)," ucap Mbah Ngatemin, sambil memegang leher tepat di bawah dagu, mengisyaratkan ketinggian banjir yang rutin melanda desa hingga makam yang dirawatnya.

Meski harus bekerja di medan yang sedemikian berat bagi sosok manula, tapi Mbah Ngatemin mengaku tetap menikmati tugasnya. Ia ikhlas merawat pemakaman tersebut.

"Bayarane pendak ajeng bada ngaten. Setahun pisan angsale sejuta tigangatus ewu. (Gajiannya tiap menjelang lebaran. Setahun sekali dapatnya satu juta tiga ratus ribu rupiah)," ungkapnya sambil tertawa lebar memperlihatkan giginya yang ompong.

Pemulung

Mbah Ngatemin (78) penjaga makam Dukuh Setro Sayung Demak sedang memangkas mangrove di sekitar makam. (Foto: Liputan6.com/Kusfitria Marstyasih)
Mbah Ngatemin (78) penjaga makam Dukuh Setro Sayung Demak sedang memangkas mangrove di sekitar makam. (Foto: Liputan6.com/Kusfitria Marstyasih)

Untuk menutup kebutuhan dapur dan kebutuhan lain, Mbah Ngatemin pun masih memaksakan tubuh ringkihnya untuk menyusuri jalanan untuk memungut barang bekas. Biasanya, ia mulai memulung selepas merawat makam.

Minggu pagi (9/5/2021) saat para pekerja kantoran tengah bersantai dengan keluarga, Mbah Ngatemin malah tengah berkutat memangkas brayo atau mangrove yang tumbuh di kompleks pemakaman tersebut.

Mangrove yang tumbuh di sekitar pemakaman mengurangi efek banjir rob yang tiap tahun makin tinggi dan makin meluas di wilayah Kabupaten Demak.

Meski pekerjaannya sangat berat namun Mbah Ngatemin tetap tak melupakan kewajiban sebagai umat muslim. Setiap bulan Ramadan, salat berjemaah dan puasanya selalu penuh.

Menurutnya meski hidupnya serba kekurangan tetapi tetap bahagia karena selalu bersyukur.

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel