Kisah Mbah Rebi, Pemijat Tunanetra yang Kurban Sapi dari Hasil Menabung Puluhan Tahun

·Bacaan 2 menit

Wonogiri - Kondisi fisik tak sempurna tak mengendurkan semangat perempuan lanjut usia (lansia) tunanetra asal Dusun Karangtengah, Desa Jaten, Selogiri, Wonogiri, ini untuk memberi kurban sapi.

Rebi, nama perempuan lansia itu, berkurban sapi pada Hari Raya Iduladha, 20 Juli lalu. Ia membeli sapi itu dari uang yang ia kumpulkan dengan menjadi tukang pijat.

Rebi mengalami gangguan penglihatan sejak kecil. Perlahan-lahan, ia kehilangan daya penglihatan hingga akhirnya buta total sejak duduk di bangku SD.

Rebi sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat panggilan. Ia memiliki banyak pelanggan di wilayah Selogiri. Kadang kala, Mbah Rebi, sapaan akrabnya, dipanggil untuk memijat pelanggan di wilayah kota Wonogiri.

Bahkan ia juga memiliki pelanggan dari Desa Tiyaran, Bulu, Sukoharjo. Uang yang terkumpul dari bayaran sebagai tukang pijat panggilan di Wonogiri dan sekitarnya itu lah yang ia pakai membeli sapi kurban.

“Tidak mesti. Kadang dua kali-tiga kali memijat. Kadang tak satu pun pelanggan yang memanggil untuk dipijat. Namun, saya tetap bersyukur. Saya jalani dengan ikhlas dan sabar,” katanya saat berbincang dengan Solopos.com di rumahnya, Minggu (25/7/2021).

Tidak PatunganDi tengah keterbatasan fisik dan ekonomi, semangat Mbah Rebi tak surut untuk berbagi untuk sesama saat Iduladha. Mbah Rebi membeli sapi kurban senilai Rp21 juta yang disembelih pada Rabu (21/7/2021).

Warga Wonogiri itu membeli sendiri sapi kurban yang ia berikan kepada panitia hari besar Iduladha Masjid Muhammad Ibnu Sa’ad Al Zaid di desanya. Mbah Rebi menyampaikan niat berkurban saat Iduladha muncul sejak belasan tahun lalu.

Sehari Menabung Rp10 Ribu - Rp20 Ribu

Mbah Rebi duduk di sofa di rumahnya di Dusun Karangatengah, Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Minggu (25/7/2021). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
Mbah Rebi duduk di sofa di rumahnya di Dusun Karangatengah, Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Minggu (25/7/2021). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)

Ia mulai menyisihkan penghasilan dari memijat untuk ditabung setiap hari. Tak banyak uang yang ditabung karena penghasilan yang didapat juga tak menentu.

“Kadang Rp10.000 sampai Rp20.000 per hari. Saya menabung sudah puluhan tahun hingga terkumpul lebih dari Rp20 juta. Sapi kurban yang saya beli harganya Rp21 juta,” ujarnya.

Mbah Rebi tinggal sendirian di rumahnya. Sementara kerabat keluarganya tinggal tak jauh dari rumahnya. Mereka kerap menengok kondisi kesehatan Mbah Rebi yang berusia 64 tahun itu.

Senang Bisa Berkurban Sapi Dalam Kondisi SehatMbah Rebi mengaku keinginannya untuk berkurban saat Iduladha telah terealisasi. “Sampun ayem. Tak ada lagi keinginan lainnya. Saya bersyukur bisa berkurban dalam kondisi sehat,” imbuhnya.

Sosok inspiratif asal Wonogiri yang mampu membeli sapi kurban dari hasil memijat itu membuat warga setempat terenyuh dan kagum. Mereka tak menyangka keterbatasan fisik dan ekonomi tak menghalangi niat Mbah Rebi untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan.

Hal ini patut ditiru dan diapresiasi di tengah badai pandemi Covid-19. Rasa solidaritas dan empati tinggi harus terus dibangun tanpa mengenal latar belakang pekerjaan, pendidikan, dan status sosial di masyarakat.

“Saya sendiri kaget mendengar kabar Mbah Rebi membeli sapi kurban sendirian, tidak patungan. Semoga Mbah Rebi selalu sehat dan diberi umur panjang,” kata warga setempat, Ihsanul.

Dapatkan berita Solopos.com lainnya, di sini:

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel