Kisah Menarik Legenda PSS M. Anshori: Nomor Punggung Keramat hingga Mes Pemain yang Horor

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Sleman - Mantan pemain PSS Sleman, M. Anshori, memiliki banyak kenangan bersama klubnya dulu. Terlebih ia tercatat selama satu dasawarsa berseragam tim Elang Jawa, periode tahun 1996 hingga 2006.

Selama 10 tahun membela tim tanah kelahirannya jelas jadi kenangan istimewa dan kebanggaan tersendiri bagi Anshori. Banyak yang ia dapatkan termasuk karier maupun hal unik lainnya selama berkostum PSS Sleman.

Anshori adalah satu di antara putra daerah potensial Kabupaten Sleman pada masanya, layaknya keluarga Seto Nurdiyantoro sebagai pesepak bola paling sukses dari Sleman.

Ia termasuk dalam generasi emas PSS saat untuk pertama kalinya mencicipi kasta tertinggi Liga Indonesia pada awal milenium baru. Anshori adalah gelandang sayap kiri PSS bersama sejumlah pemain andalan saat itu seperti M. Eksan, Seto Nurdiyantoro, Fajar Listyantoro, Kahudi Wahyu, atau trio Brasil Anderson Da Silva, Deca dos Santos, dan Marcelo Braga.

Ia menceritakan awal kariernya di PSS Sleman yang bermula dari hobi bermain bola dan masuk tim internal Sleman. Bahkan bakatnya sudah tercium ketika masuk di tim Piala Soeratin membela Kabupaten Sleman, hingga pernah masuk seleksi Timnas pada 1997.

"Awal karier saya, ikut main bola dan masuk tim internal AMS Sayegan, dari situ ada pemantau dan masuk tim Soeratin 1995. Terus menanjak ke tim senior," ungkap Anshori dalam wawancara di PSS TV pada Juni lalu.

"Sempat ke Timnas Indonesia yang megang Jalal Talebi selamanya satu bulan di Sawangan. Ada kebanggaan tersendiri anak dari kampung bisa masuk Timnas," katanya.

Nomor Punggung Keramat

Mantan pemain PSS Sleman, M. Anshori atau Bagong dalam podcast PSS TV. (Tangkapan layar kanal YouTube PSS TV)
Mantan pemain PSS Sleman, M. Anshori atau Bagong dalam podcast PSS TV. (Tangkapan layar kanal YouTube PSS TV)

Selama sepuluh tahun di PSS, banyak peristiwa menarik dialaminya. Mulai dari nomor punggung yang cukup keramat dari seorang Anshori yakni 26, ritual sebelum bertanding, hingga cerita mistis mes lama PSS yang berada dekat Stadion Tridadi.

"Nomor punggung 26, awalnya saya di kasih nomor 2, tapi saya enggak sreg, lalu minta ditambahi angka 6, jadi nomor 26 keramat bagi saya. Ritual sebelum pertandingan, berdoa minta kemudahan dalam melakoni pertandingan. Kalau malam saya minum bir biar santai, tapi enggak boleh ditiru," kelakarnya.

"Mes pemain horor juga, walau belum pernah mengalami, belum pernah sama sekali diganggu penampakan atau apa. Pengalaman lucu bersama PSS, saya habis latihan pagi pasti mancing. Dekat mes kan ada pemancingan, habis latihan langsung mancing tidak perlu balik ke mes dulu".

"Momen paling berkesan di PSS saat cetak gol lawan Pelita yang dikawal Kurnia Sandi. Saat itu kandang PSS di Stadion Mandala Krida Yogyakarta," kenang pria yang pernah dijuluki Bagong saat masih aktif bermain.

Menjadi Inspirasi

M. Anshori cukup lama gantung sepatu sebagai pemain sepak bola. Kini ia bekerja sebagai PNS di Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Provinsi DIY, untuk pengelolaan air limbah wilayah Kabupaten Bantul.

Selain itu ia memiliki usaha kecil-kecilan untuk tambahan penghasilan. Dunia si kulit bundar tak dapat lepas dari kehidupannya, dengan masih sering bermain dengan teman seangkatan atau anak-anak muda, sebagai kegiatan di waktu luang.

Bicara kariernya dulu, Anshori bisa dibilang pemain yang mengedepankan profesionalisme. Seperti pernah membuat gempar dengan menyeberang ke tim rival, PSIM Yogyakarta, kemudian harus melawan PSS yang membesarkan namanya.

"Menjadi lawan PSS di Maguwoharjo, campur aduk rasanya. Karena dulu ingin main di stadion baru itu dengan seragam PSS, tapi justru dengan tim lain. Profesional saja lah, bagaimanapun tim yang membesarkan nama dan punya ikatan batin emosional dengan suporter, walau agak renggang karena kepindahan ke tim lain," jelasnya.

Anshori bisa menjadi inspirasi bagi para generasi penerus sepak bola. Menurutnya, pemain era dulu tidak memikirkan besar kecilnya gaji, selama bisa membawa prestasi, penghargaan akan datang sendirinya. Ia berpesan setidaknya berusaha dulu mencapai prestasi terbaik, yang bakal diikuti dengan penghargaan.

"Untuk para pemain junior, harus punya semangat tinggi, harus lebih giat berlatih, menambah porsi latihan sendiri. Saya dulu latihan tidak hanya di tim dengan pelatih, jam 10-11 siang masih nambah sendiri jogging 5-10 kilometer, untuk menambah kekuatan fisik," tegas Bagong.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel