Kisah Mengerikan Pekerja Piala Dunia 2022 Qatar Bikin Kroos Bersuara

Zulfikar Husein
·Bacaan 1 menit

VIVA – Gelandang Real Madrid dan juga Timnas Jerman, Toni Kroos mengkritik tajam negara tuan rumah Piala Dunia 2022 Qatar setelah beberapa tim Eropa memprotes tentang kondisi negara tersebut.

Pada Februari lalu, muncul sebuah kabar menggemparkan soal Qatar yang sedang mempersiapkan perhelatan empat tahunan itu.

Guardian melaporkan, para pekerja yang mempersiapkan prasarana Piala Dunia 2022 mendapatkan perlakukan yang mengerikan. Ada banyak pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi.

"Saya pikir pemilihan Qatar sebagai tuan rumah bukanlah hal yang baik. Alasan pertama adalah kondisi para pekerja, kemudian fakta bahwa homoseksualitas dihukum di sana. Banyak pekerja Qatar, dan orang asing, bekerja tanpa istirahat, di suhu yang bisa mencapai 50 derajat," kata Kross dilansir NDTV.

"Mereka terkadang menderita kekurangan makanan atau air minum, yang merupakan kegilaan dalam suhu tersebut. Mereka tidak memiliki perlindungan medis dan ada sejumlah kekerasan terhadap para pekerja ini. Ini adalah poin yang sama sekali tidak bisa diterima," sambungnya.

Kroos menjadi pihak yang kesekian kali, yang memprotes pemilihan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia. Sebelumnya, protes itu muncul dari Belanda, Jerman, Belgia dan Norwegia.

Semua memprotes dengan mengenakan kaos bertuliskan "Hak Asasi Manusia" atau "Sepakbola mendukung perubahan" sebelum berlaga di kualifikasi Piala Dunia selama seminggu terakhir ini.

Sementara itu, menanggapi tuduhan tersebut, Otoritas Qatar bersikeras telah melakukan lebih dari negara mana pun di wilayah tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja.

Pihak FIFA juga telah memberikan pernyataannya terkait masalah tersebut. Mereka tak memberikan indikasi akan memindahkan pergelaran Piala Dunia 2022 ke negara lain.

"Dengan langkah-langkah kesehatan dan keselamatan yang sangat ketat di lokasi, frekuensi kecelakaan di lokasi konstruksi Piala Dunia FIFA menjadi rendah jika dibandingkan dengan proyek konstruksi besar lainnya di seluruh dunia," bunyi pernyataan FIFA.