Kisah Mengharukan Pasien Covid-19 (Bag 2)

Syahdan Nurdin, nurterbit
·Bacaan 3 menit

VIVA -- Mendengar istilah COVID-19, tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bagaimana tidak, berita tentang virus pandemi ini kan sudah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Bahkan sudah dekat sekali dengan kehidupan. Salah satunya, tetangga saya yang tinggal di salah satu komplek perumahan di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Mula-mulai hanya suami, kemudian disusul istri dan anak-anaknya. Berikut kisahnya yang dituturkan langsung oleh bersangkutan. Semoga bermanfaat :

Suami saya dirawat di rumah sakit, sedang anggota keluarga lainnya terpaksa diisolasi mandiri di rumah. Awalnya cuma datang kontrol sakit jantungnya ke rumah sakit. Eh malah dokter suruh dirawat.

Di situlah suami saya dinyatakan positif Covid-19. Namun betapa kagetnya karena begitu suami sembuh, saya yang giliran dirawat dengan penyakit yang sama.

Alhamdulillah, kami sekarang suami-istri menjadi pasien yang sudah sembuh dari COVID-19. Sebelumnya dinyatakan positif menyusul suaminya yang juga dinyatakan positif.

Tetapi meski suami dan saya sudah sembuh total, tapi kami semua : suami, istri dan anak-anak masih harus diisolasi secara mandiri di rumah. Ini dalam upaya sambil menunggu hasil Swab anak-anak kami.

Meskipun hasil Swab sudah dinyatakan negatif dari COVID-19, tapi sungguh mati, kami masih mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari tetangga dekat.

Beberapa tetangga menghindar ketika bertemu atau melihat saya. Seketika mereka langsung berputar arah melewati jalan lain menuju rumahnya. Menegur pun juga enggan. Bukan hanya tetangga dekat saja, bahkan keluarga dekat pun tiba-tiba ikut menjauh.

Itu sih masih mending ya, ketimbang orang lain. Yang ada tetangganya terkena COVID-19 malah dikucilkan, diasingkan, menolak mereka kembali, bahkan mengusir dari rumahnya sendiri dan tinggal seorang diri. Kasihan banget kan?

Mereka takut berdekatan karena dianggap bisa menularkan virus baru lagi. Stigma negatif yang seperti itu membuat kami sekeluarga mengalami diskriminasi.

Yang paling terpenting menurut saya, adalah rasa empati. Mengapa rasa empati penting? Karena saat stigma negatif muncul, itu karena rasa empati ini yang hilang dari masyarakat.

Empati itu, memahami atau merasakan apa yang orang lain alami dan apa yang mungkin orang lain pikirkan, atau bisa juga diartikan menempatkan diri pada posisi orang lain.

COVID-19 memang bisa menyerang siapa saja tanpa memandang agama, jabatan, profesi maupun status sosial ekonomi seseorang. Tidak ada orang yang mau terkena penyakit ganas ini.

Jadi, apabila di sekitar kita seperti tetangga terdekat kita ada yang terkena, maka kita bisa melakukan sikap empati dengan perilaku tolong-menolong di kehidupan sehari-hari.

Misalnya dengan membantu sebatas kemampuan masing-masing untuk meringankan beban tetangga kita, baik itu yang menjadi ODP, PDP, orang yang diisolasi mandiri, pasien positif COVID-19, dan pasien yang sudah sembuh.

Tak lupa untuk mengatur ego diri untuk berpikir di luar kepentingan diri sendiri. Dengan begitu, kita akan belajar untuk melihat kepentingan orang lain di samping kepentingan diri sendiri.

Mereka pasti saling merindukan dengan rasa was-was apakah akan bisa berkumpul kembali kepada keluarga atau tetangga mereka, dan atau berpulang pada Sang Pemilik manusia.

Yang bisa kita lakukan adalah mendoakan mereka supaya sembuh dan keluarganya diberi kesabaran. Bukan malah menstigma mereka yang sakit ataupun sudah sembuh dari penyakitnya.

Kita juga perlu dukung dan memberikan support fisik maupun mental pada mereka. Tentunya dengan tetap memperhatikan protokol yang dianjurkan pemerintah. Terutama dari orang-orang terdekat seperti keluarga dan tetangga sekitar.

Selain itu, membentuk moral yang baik, mempunyai rasa kasih terhadap orang lain. Dukungan sekecil apapun dari kita bisa memberi rasa aman dan nyaman terhadap mereka lho.

Seharusnya kita tidak perlu takut dengan kondisi tetangga kita yang sudah sembuh dari COVID-19, apalagi untuk berinteraksi dengannya.

Selama kita bisa melakukan physical distancing atau menjaga jarak, menggunakan masker, rutin mencuci tangan, dan nutrisi makanan terpenuhi, sudah cukup aman dari risiko tertular virus corona.

Selain itu, kita bisa berinteraksi dengan mereka melalui teknologi komunikasi (telepon, WhatsApp, dan sejenisnya).

Kita kan bisa selalu berwaspada dan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Bukannya malah menjauhinya. (Selesai/Nur Terbit).