Kisah Mengharukan Pasien COVID-19 (Bag 1)

Syahdan Nurdin, nurterbit
·Bacaan 3 menit

VIVA -- Berbagai kisah mantan pasien Covid-19, telah diungkap sejumlah media. Dari yang berjuang sendiri melawan sepi, terisolasi dari orang terkasih, dari rakyat kecil, menteri, dokter, artis hingga presiden termasuk mereka yang nyawanya terenggut tak tertolong.

Catatan saya berikut ini sekadar melengkapi -- sekaligus bisa membuat kita bersyukur karena masih sehat -- betapa mengharukannya mereka yang terpapar oleh virus pandemi yang ganas tersebut.

Berikut pengalaman teman Imran Nasution, mubaligh, mantan wartawan, warga Kota Bekasi, yang beliau tulis di status facebooknya :

Ketika para sahabat rekan mengetahui saya terpapar Covid 19, mereka bertanya, "apa yang kau rasakan?"

Ketika itu saya belum bisa menjawab, karena saya sedang berjuang untuk melawan virus Corona yang telah mengguncang dunia.

Lima belas hari saya dirawat dan diisolasi dalam rumah sakit. Pada Ahad pertama tentu selain panas, juga menggigil dan batuk.

Awal cerita, sehabis salat Jumat, 2 Oktober 2020, badan tidak enak. Ada sedikit meriang. Namun saya anggap sakit biasa. Tapi sampai Senin 5 Oktober. Tidak juga sembuh. Saya putuskan berobat ke Puskesmas.

Di Puskesmas, aku ditanyain, "habis perjalanan jauh? Dari mana?". Saya jawab, "saya tidak bepergian jauh". Apa ada batuk? Saya jawab, "saya memang batuk dan aku pernah kena TBC saya berobat 6 bulan lamanya hingga sembuh".

Apa rasa masih normal? Bisa membedakan manis asam pahit? Masih. Penciuman? "Masih biasa," jawabku. Lalu dokter bikin resep dan obat saya ambil di apotik.

Pulang dari puskesmas, saya minum obat, ya ada prasetamol, antibiotik obat batuk. Sampai Rabu 7 Oktober tidak ada perubahan. Bahkan semakin sering panas. Pada pukul 16.00 saya berobat lagi ke praktik dokter. Karena sudah terlalu sore, puskesmas sudah tutup. Lalu aku dikasih obat.

Sekira pukul 03.00 Kamis dini hari saya tak tahan karena panas dan menggigil. Saya bangunkan istri. Setelah berembuk saya dibawa ke rumah sakit, masuk ke UGD, saya diperiksa dokter dan terus dirongsen termasuk paru-paru.

Akhirnya dokter memutuskan agar aku dirawat dan diisolasi. Jumat malam saya Swab pertama. Senin 12 Oktober, hasilnya keluar dan saya positif terpapar virus Corona.

Pikiran mulai kacau gelisah, tidak bisa tidur. Yang banyak membantu adalah perawat. Mereka sabar, dan tetap ramah. Meski mereka sedang berhadapan dengan orang orang yang terpapar covid 19.

Semua ruangan isolasi penuh. Itu saya ketahui kalau pukul 09.00 karena kami secara bergiliran berjemur sekitar 10.15 menit. Kemudian masuk ruang perawatan lagi.

Salah satu yang paling dinantikan adalah berjemur. Karena ada kesempatan menghirup udara bebas dan bisa melihat-lihat di sekitar halaman rumah sakit.

Yang paling berat, kita tidak bisa ketemu keluarga. Jika ada keperluan, misalnya pakaian kita kotor. Kita hanya bisa titip ke perawat. Nanti keluarga datang mengambil sekaligus membawa pakaian bersih. Tapi itu hanya boleh sampai ruang jaga perawat.

Dan itu juga hanya boleh sekali dalam sehari keluarga bisa datang ke rumah sakit untuk mengurus keperluan kita. Nah, perawatlah yang menyampaikan titipan keluarga ke kita di ruang perawatan.

Dengan perjuangan dan tekanan batin yang begitu dahsyat dan luar biasa. Saya sudah melewati masa sulit. Dokter telah membolehkan saya isolasi mandiri di rumah.

Terimakasih dokter, semua perawat yang baik, yang selalu setia merawat kami, yang terkadang rewel. Hanya Allah yang dapat membalas kebaikan dokter dan perawat. (Bersambung/Nur Terbit)