Kisah menyedihkan Soid tukang sapu di Tangerang

MERDEKA.COM, Soid seorang tukang sapu yang telah berusia 71 tahun warga Gang Saidin, RT 02/03, Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Pamulang, Kota Tangsel benar-benar menyedihkan. Betapa tidak, meski tinggal di rumah seluas sekitar 100 meter persegi dirinya harus hidup mengurus anak dan istrinya yang lumpuh.

Ketika wartawan mengunjungi kediaman Soid, begitu masuk ke dalam rumah tersebut bau pesing mulai menyengat. Sebab, anak dan istri telah lumpuh dan lebih banyak terbaring di kasur. Ya, di rumah itu mereka hanya tinggal bertiga.

Dengan seusia tersebut, Soid praktis harus memasak dan membersihkan kotoran anak serta istrinya itu. Anak Soid diketahui bernama Namin (45) .

Dia lumpuh sejak delapan tahun yang lalu ketika mengalami kecelakaan kerja saat Namin sedang bekerja menjadi pesuruh di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sempat memiliki istri, tetapi Namin pun akhirnya ditinggal.

Sedangkan, istrinya Kinah (70) akhirnya mengalami lumpuh karena sudah berumur. Kemungkinan hal itu terjadi lantaran Kinah sering mengangkat barang yang berat.

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Soid menjadi tukang sapu di Dinas Kebersihan Kota Tangsel sebagai pekerja lepas, meskipun hanya digaji upah Rp 750 ribu.

Setegar apa Soid, ternyata dia tidak begitu mampu menanggung beban tersebut. Bahkan dia sempat frustasi dengan keadaan ekonominya dan masalah keluarganya.

"Saya pernah mau bunuh diri. Tetapi untungnya saya sadar," ujarnya, Kamis (22/11).

Dirinya berharap ada bantuan dari pemerintah dan dermawan. "Saya tetap harus bertahan, saya tetap ingin bersama anak dan istri saya," ujarnya.

Sejumlah tetangga Soid pun ikut merasakan derita yang dialami Soid. Namun, apa mereka pun tidak bisa berbuat banyak untuk membantu keluarga miskin itu.

"Mereka sekeluarga kini lumpuh, tidak ada yang bisa bekerja lagi, kasihan. Kami di sini tak bisa membantu banyak untuk menyembuhkan penyakit mereka,” kata Mbak Tarni, tetangga Soid.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.