Kisah Nurhazizah, Mahasiswi yang Besar di Panti Asuhan hingga Sukses Raih Sarjana

Merdeka.com - Merdeka.com - Tak ada manusia yang bisa memilih dari orang tua mana dia akan dilahirkan. Tapi setiap manusia bisa memilih tujuan hidup seperti apa yang dia inginkan. Ungkapan ini selaras untuk menggambarkan sosok wisudawan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Nurhazizah Nasution, yang diwisuda dua hari lalu, Rabu (24/8).

Perempuan itu lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,35 atau berpredikat sangat baik dari Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry. Dia bersama 1.848 wisudawan lainnya diwisuda pada Semester Genap Tahun Akademik 2021/20022.

Nurhazizah lahir di Trumon, Aceh Selatan pada 30 April 1998 silam. Anak kedua dari pasangan Taufik Nasution (Alm) dan Jabidah ini berhasil meraih gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan (S.IP) dalam rentang waktu lima tahun.

Kisah perempuan asal Kota Meulaboh, Aceh Barat ini bukan karena mampu menyelesaikan studi dengan predikat sangat baik, namun perjalanan hidup serta proses mencapai gelar sarjana itulah yang menjadi inspirasi. Dan kisahnya patut diteladani oleh mahasiswa manapun, termasuk yang bernasib setali tiga uang dengan Nurhazizah.

Manusia memang tak bisa mengubah takdir Tuhan, namun bisa mengubah nasib. Nurhazizah telah membuktikan itu.

Tinggal di Panti Asuhan

Meski terlahir dari keluarga miskin dan dibesarkan di panti asuhan, tapi untuk sukses dan menyandang gelar sarjana, semua manusia memiliki peluang yang sama.

Lulusan Prodi Ilmu Perpustakaan ini menceritakan masa kecilnya sangat sulit dilalui dan sudah terbiasa hidup susah. Sewaktu umur 4 tahun ia sudah menjadi anak yatim.

“Setelah ayah meninggal, kehidupan ekonomi keluarga kami sangat memprihatinkan, bahkan untuk makan saja susah. Saya bersama abang dan adek tinggal dengan nenek, karena mamak saat itu pergi tanpa kabar,” kata Nurhazizah tegar.

Dua tahun setelah ayahnya meninggal, kondisi keluarganya saat itu makin terperosok ke jurang kemiskinan.

Dia kemudian dititip di panti asuhan SOS Childrens Village Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Sejak itu, ia harus hidup di panti dan pisah dari keluarga, lantaran sang nenek tak punya biaya menyekolahkannya.

Nurhazizah kemudian disekolahkan oleh SOS Childrens Village Meulaboh melalui SOS Social Center, sebuah program penguatan bagi keluarga, penyuluhan kesehatan, dan konsultasi psikologi.

Setelah menamatkan sekolah dasar di SD Negeri 5 Meulaboh, Nurhazizah melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 3 Meulaboh dan SMK Negeri 3 Meulaboh.

“Usai tamat di SMK Negeri 3 Meulaboh, pihak yayasan menawarkan dua pilihan bagi anak-anak yang tinggal di panti, mau melanjutkan kuliah ke jenjang D-III atau kerja,” kenangnya.

Saat itu Nurhazizah memilih untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi dan memilih Prodi Diploma Tiga (D-III) Ilmu Perpustakaan pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Nyaris Berhenti Kuliah

Namun setelah berada di fakultas itu Nurhazizah kembali dibuat bingung dan nyaris frustasi. Pasalnya, saat ia baru menyelesaikan semester lima di Prodi Diploma III Ilmu Perpustakaan, prodi tersebut berdasarkan kebijakan Menteri Agama RI harus ditutup.

“Saat proses perpindahan dari D3 ke S1 Ilmu Perpustakaan, saya harus berhenti kuliah karena tidak mungkin melanjutkan tanpa ada beasiswa dari yayasan SOS Childrens Village. Sesuai kesepakatan awal, hanya membantu biaya kuliah hanya 6 semester untuk jenjang Diploma,” tuturnya.

Dia sempat kebingungan bagaimana nasibnya di kemudian hari. Akhirnya, ia memantapkan diri dengan tekad bahwa semua orang berhak untuk sukses dan meraih gelar sarjana walaupun tanpa dukungan orang tua.

Nurhazizah pontang-panting mengumpulkan sedikit demi sedikit uang dari hasil keringatnya sendiri selama di Banda Aceh. Beruntung, orang di sekelilingnya, terutama teman, menaruh empati pada perempuan itu.

“Alhamdulillah saat kuliah UKT saya bayar 900 ribu, tidak pernah mendapatkan beasiswa dari pihak lain. Dukungan kawan-kawan terdekat sangat membantu saya untuk bisa selesai kuliah,” kenangnya

Bagi Nurhazizah yang kini telah menyandang gelar sarjana, status sosial maupun ekonomi bukanlah halangan untuk meraih kesuksesan.

“Jangan minder, apapun status dan latar belakang kalian. Jalani, syukuri dan ikuti proses. Karena proses untuk mencapai kesuksesan setiap orang berbeda,” tutupnya. [fik]