Kisah Para Pencari Sinyal di Desa Terpencil Sikka

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Sikka - Sinyal telekomunikasi untuk sambungan internet belum sepenuhnya dirasakan warga desa terpencil di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Mereka masih kesulitan mendapatkan sinyal. Kondisi ini sangat dirasakan warga di Desa Napu Gera, desa Para Bubu, Desa Kowi, dan Desa Wolo Desa, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, NTT.

Secara geografis, wilayah Kabupaten Sikka merupakan daerah perbukitan. Kondisi ini membuat sinyal belum bisa dirasakan secara merata oleh masyarakat.

Di tengah banjir arus informasi, menjadi sangat ironis ketika melihat lima Desa di kabupaten Sikka ini, sudah puluhan tahun masih kesulitan mengakses internet, akibat tidak ada jaringan.

Hal ini tentu sangat menyulitkan banyak warga di tengah era digital. Seperti yang dialami para pendamping desa dari Kemendes PDTT, yang bertugas di desa yang tidak memiliki jaringan internet. Mereka dituntut beraktivitas berbasis online, tetapi lokasi desa dampingan masih jauh dari jangkauan internet.

Ancis Karwayu, pendamping desa Napugere di wilayah Kecamatan Mego, kepada Liputan6.com, Rabu (5/5/2021) mengatakan, saat ini dirinya sedang melakukan pandataan SDGs, dan sistem pendataannya melalui online. Dibentuk lah kelompok kerja (pokja). Semua data yang ditulis dalam bentuk manual akan dimasukkan dalam bentuk aplikasi online.

"Kami kesulitan mengirim data SDGs, di desa Napugere tidak memiliki jaringan internet, sehingga ia dan perangkat desa Napugera harus berjalan puluhan kilometer untuk mencari sinyal internet sehingga bisa dikirim melalui internet dalam bentuk aplikasi online,” ungkapnya.

Tak Dapat Akses Internet Bakti

Warga, perangkat desa dan pendamping desa sedang mencari sinyal di daerah yang bisa masuk jaringan internet. (Liputan6.com/ Dionisius Wilibardus)
Warga, perangkat desa dan pendamping desa sedang mencari sinyal di daerah yang bisa masuk jaringan internet. (Liputan6.com/ Dionisius Wilibardus)

Dia mengatakan, jaringan internet dari Badan Aksesibilitas Teknologi dan Informasi (Bakti) hanya masuk di sekolah dan puskemas, sedangkan untuk desa-desa sendiri belum memiliki jaringan internet.

"Saat ini masyarakat di 5 desa kecamatan Mego, sangat membutuhkan jaringan internet, sebab semua program pelaporan pertanggungjawaban keuangan desa harus melalui sistem aplikasi online," dia mengatakan.

Lebih lanjut, ia menambahkan, saat ini masyarakat di 5 desa kecamatan Mego sangat membutuhkan jaringan internet. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 semua sekolah menggunakan sistem belajar online yang membutuhkan akses internet.

Ia mengharapkan kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam hal ini Kemenkominfo untuk bisa memperhatikan kebutuhan masyarakat terhadap jaringan internet.

Sementara Gerfasius Sari, perangkat desa Napugera, Kecamatan Mego, mengatakan saat ini warga desa Napugera sangat membutuhkan jaringan internet, di desanya tersebut sama sekali tidak memiliki jaringan telepon maupun internet.

Dia mengatakan sebagai perangkat desa, dia membutuhkan akses internet untuk mengirim data desa atau laporan keuangan desa. Dia bersama pendamping desanya terpaksa menempuh puluhan kilometer menuju kota Maumere untuk bisa mengirim data desa atau laporan keuangan melalui jaringan internet.

“Sudah puluhan tahun warga desa Napugera tidak memiliki jaringan internet maupun jaringan telepon. Bukan hanya warga desa Napugera saja yang membutuhkan jaringan internet, tetapi masih ada 4 desa di kecamatan Mego yang saat ini masih sangat membtuhkan jaringan telepon maupun jaringan internet," dia menandaskan.

Simak video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel