Kisah Para Perempuan yang Menjadi Penyiksa di Kamp Konsentrasi Nazi

Mohammad Arief Hidayat, BBC Indonesia
·Bacaan 6 menit
Ravensbrück women guards
Para petugas perempuan yang berjaga di kamp Ravensbruck (foto diambil sekitar 1940)

"Dicari pekerja perempuan yang sehat, berusia 20 hingga 40 tahun untuk situs militer," demikian bunyi iklan pekerjaan yang tertera pada sebuah surat kabar Jerman pada 1944. Pekerjaan itu menjanjikan gaji layak dan tempat tinggal gratis, juga akomodasi dan pakaian.

Apa yang tidak disebutkan di iklan tersebut adalah pakaian yang dijanjikan adalah seragam Schutzstaffel (SS) Nazi. Dan situs militer yang dimaksud adalah kamp konsentrasi khusus perempuan, Ravensbruck.

Kini, barak kayu tipis bagi para tahanan di kamp konsentrasi Ravensbruck sudah lama hilang. Yang tersisa hanyalah ladang berbatu yang kosong dan menyeramkan, di lokasi yang terletak sekitar 80 km di utara ibu kota Berlin.

Pemandangan kamp Ravensbrück pada 1945
Pemandangan kamp Ravensbrück pada 1945

Namun di sana masih berdiri kokoh delapan vila indah dengan jendela kayu dan balkon. Bangunan itu adalah tipikal pondok Jerman abad pertengahan versi Nazi.

Di vila itu, para penjaga perempuan dahulu tinggal, sebagian dengan anak-anak mereka.

Dari balkon, mereka bisa melihat hutan dan danau yang indah.

"Itu adalah momen terindah dalam hidup saya," tutur seorang penjaga perempuan, beberapa dekade kemudian.

Namun, dari kamar tidur mereka, mereka juga dapat melihat kerumunan tahanan dan cerobong asap kamar gas.

Female guard Johanna Langefeld with her son and another guard`s daughter
Johanna Langefel, salah satu perempuan yang menjaga kamp konsentrasi itu, bersama putranya dan putri penjaga yang lain.

"Banyak pengunjung yang datang ke museum peringatan bertanya tentang perempuan-perempuan ini. Tidak banyak pertanyaan tentang pria yang bekerja di bidang ini," kata Andrea Genest, direktur museum peringatan di Ravensbruck, sambil menunjukkan di mana para perempuan ini tinggal.

"Orang-orang sulit membayangkan bahwa perempuan bisa sekejam itu."

Di antara para penjaga ini adalah remaja putri yang berasal dari keluarga miskin, yang terpaksa meninggalkan sekolah lebih awal dan tak banyak pilihan karir.

Pekerjaan di kamp konsentrasi berarti upah yang lebih tinggi, akomodasi yang nyaman, dan kemandirian finansial.

"Itu lebih menarik ketimbang bekerja di pabrik," kata Dr Genest.

Kebanyakan dari mereka telah didoktrin sejak awal di kelompok pemuda Nazi dan percaya pada ideologi Hitler.

"Mereka merasa mendukung masyarakat dengan melakukan sesuatu terhadap musuh-musuh Nazi," katanya.

Ravensbrück crematorium
Pembunuhan di kamp terus berlanjut hingga momen-momen pembebasan tahanan Nazi. Mayat mereka dibakar di krematorium ini.

Neraka dan kenyamanan rumah

Di dalam salah satu vila, sebuah pameran yang baru saja digelar memajang foto-foto perempuan di waktu senggang mereka.

Sebagian besar berusia dua puluhan, cantik dengan gaya rambut modis.

Sejumlah foto menampilkan mereka sedang tersenyum saat minum kopi dan kue di rumah. Di foto lain mereka tampak tertawa, saat mereka berjalan-jalan di hutan terdekat dengan anjing mereka.

Place marker for a female guard at Christmas table
Kartu Natal untuk penjaga Anna Enserer

Adegan-adegan dalam foto itu tampak polos - sampai akhirnya Anda melihat lencana SS di baju yang mereka kenakan.

Anjing berjenis Alsatian yang ada di foto-foto itu, adalah anjing yang sama yang digunakan untuk menyiksa tahanan di kamp konsentrasi.

Sekitar 3.500 perempuan bekerja sebagai penjaga kamp konsentrasi Nazi, dan karir mereka berawal di Ravensbruck. Banyak yang kemudian bekerja di kamp kematian seperti Auschwitz-Birkenau atau Bergen-Belsen.

Liberation of Ravensbrück, 30 March 1945
Para perempuan tahanan kamp Ravensbruck ketika dibebaskan pada 30 Maret 1945

"Mereka orang-orang yang mengerikan," kata Selma van de Perre yang berusia 98 tahun kepada saya melalui telepon dari rumahnya di London.

Ia adalah seorang pejuang perlawanan Yahudi Belanda yang ditahan di Ravensbruck sebagai tahanan politik.

"Mereka suka bekerja di sana mungkin karena itu membuat mereka merasa kuat. Itu memberi mereka banyak kekuasaan atas para tahanan. Beberapa tahanan diperlakukan dengan sangat buruk. Dipukuli."

Selma berjuang secara bawah tanah di Belanda, yang kala itu diduduki Nazi, dan dengan berani membantu keluarga Yahudi melarikan diri.

Pada bulan September tahun lalu, ia menerbitkan sebuah buku tentang pengalamannya, My Name Is Selma di Inggris. Tahun ini, buku itu akan dirilis di negara lain, termasuk Jerman.

Orang tua dan adik perempuan Selma meninggal dunia di kamp, dan hampir setiap tahun dia kembali ke Ravensbruck untuk turut serta dalam acara peringatan untuk menghormati para korban.

Ravensbruck adalah kamp konsentrasi khusus perempuan terbesar di Jerman. Lebih dari 120.000 perempuan dari seluruh Eropa ditahan di sini.

Banyak di antara mereka adalah pejuang perlawanan dan musuh politik, sedangkan lainnya dianggap "tak layak" bagi Nazi: kaum Yahudi, lesbian, pekerja seks dan perempuan tunawisma.

Setidaknya 30.000 tahanan perempuan meninggal di sini. Beberapa di antara mereka meninggal di kamar gas dan digantung, sedangkan lainnya meninggal karena kelaparan, penyakit yang diderita, dan kerja paksa.

Mereka diperlakukan secara brutal oleh banyak petugas perempuan - dipukuli, disiksa atau dibunuh. Para tahanan menjuluki para petugas dengan sejumlah nama, seperti "bloody Brygyda" atau "revolver Anna".

Usai perang, selama persidangan atas kejahatan yang dilakukan Nazi pada 1945, Irma Gress dijuluki sebagai "beautiful beast" (monster yang cantik) oleh media.

Perempuan muda, menarik, dan berambut pirang ini dinyatakan bersalah atas pembunuhan dan dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung.

Gambaran klise perempuan berambut pirang yang sadis dan berseragam SS kemudian menjadi sosok kultus seksual dalam film dan komik.

Tapi dari ribuan perempuan yang bekerja sebagai penjaga SS, hanya 77 yang diadili, dan hanya segelintir dari mereka yang mendapat hukuman.

Himmler visiting Ravensbrück, Jan 1941
Pemimpion SS Nazi, Heinrich Himmler, berkunjung ke Ravensbrück pada Januari 1941

Mereka menggambarkan diri mereka sebagai pembantu yang acuh - mudah dilakukan di Jerman Barat pasca perang yang patriarkal.

Kebanyakan tidak pernah membicarakan masa lalu. Mereka menikah, mengubah nama mereka dan menghilang dari publik.

Seorang penjaga, Herta Bothe, yang dipenjara karena tindak kekerasan yang menghebohkan, kemudian berbicara di depan umum.

Ia mendapat ampunan dari Inggris, setelah hanya beberapa tahun di penjara. Dalam wawancara yang jarang terjadi, yang direkam pada tahun 1999 sebelum ia meninggal, ia tetap tidak menyesali perbuatannya.

"Apakah saya membuat kesalahan? Tidak. Kesalahannya adalah bahwa itu adalah kamp konsentrasi, tetapi saya harus pergi ke sana, kalau tidak saya sendiri akan dimasukkan ke dalamnya Itu adalah kesalahan saya."

Itu adalah alasan yang sering diberikan para mantan penjaga. Tapi itu tidak benar.

Catatan menunjukkan bahwa beberapa rekrutan baru meninggalkan Ravensbruck segera setelah mereka menyadari apa tugas dan pekerjaan yang dihadapi. Mereka diizinkan pergi dan tidak mendapatkan dampak negatif apa pun.

Saya bertanya pada Selma apakah ia menganggap para penjaga ini adalah monster jahat.

"Saya pikir mereka adalah perempuan biasa yang melakukan hal-hal jahat. Saya pikir itu mungkin terjadi dengan banyak orang, bahkan di Inggris. Saya pikir itu bisa terjadi di mana saja. Itu bisa terjadi di sini jika diizinkan."

Namun begitu, ia meyakini bahwa ini adalah pelajaran yang mengerikan untuk masa sekarang.

Ravensbrück women guards
Terlepas dari kejahatan yang mengerikan, hanya sedikit dari penjaga perempuan yang dihukum setelah perang

Sejak perang, penjaga SS perempuan telah difiksionalisasikan dalam buku dan film. Yang paling terkenal adalah The Reader, novel Jerman yang kemudian menjadi inspirasi film yang dibintangi oleh Kate Winslet.

Kadang-kadang perempuan penjaga SS digambarkan sebagai korban yang dieksploitasi. Di lain waktu sebagai monster sadis.

Namun faktanya lebih mengerikan. Mereka bukanlah monster luar biasa, melainkan perempuan biasa, yang akhirnya melakukan hal-hal mengerikan.