Kisah Pasangan 50 Tahun Terpisah, Bertemu Kembali Akibat Covid-19

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Covid-19 tak melulu merugikan dan membuat kita terpuruk. Pandemi ini justru membuat banyak orang bersyukur, hingga menemukan hal yang baru termasuk menyoal percintaan.

Seperti Betty Conner, perempuan berusia 71 tahun ini merasa lebih muda ketika pandemi Covid-19. Hal tersebut dikarenakan ia bertemu teman semasa SMAnya bernama Peter Nickless yang tinggal di Baja California.

Betty mengenal Peter hampir sepanjang hidupnya. Tapi butuh Covid-19 dulu untuk menyadari betapa Peter berharga untuknya. Hampir setengah abad ia menyadari hal tersebut.

Mereka satu sekolah SMA bersama di Richmond, Virginia, pada akhir 1960-an, ketika dia berkencan dengan sahabat Peter dan Peter berkencan dengan sahabatnya. Peter adalah salah satu kapten tim sepak bola di Sekolah Menengah Atas Huguenot. Betty aktif di klub servis, sedikit pendiam dan pemalu.

Setelah lulus, mereka kehilangan kontak. “Terakhir kali saya pikir saya melihatnya di pesta Malam Tahun Baru pada tahun 1967. Saat itu, semester pertama kuliah,” kenang Betty melansir smh.com.au.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah, mereka berdua memulai karir, menikah dan bercerai. Namun, setelah 50 tahun berlalu, mereka berdua bertemu di Facebook. Mulai dari situlah komunikasi antara mereka berdua terjalin. Selain Facebook, mereka pun rutin menelepon satu sama lain hingga pesan email.

Komunikasi tersebut menyarakan Betty jika Peter adalah pria yang menawan, cerdas, dengan selera humor yang bagus. Saat pandemi, hubungan mereka justru lebih erat.

Peter mengiriminya catatan Hari Valentine. Beberapa minggu kemudian, dia mengucapkan selamat ulang tahun padanya.

Menyatakan perasaan di tengah pandemi

ilustrasi pasangan orang tua/copyright unsplash/Clarisse Meyer
ilustrasi pasangan orang tua/copyright unsplash/Clarisse Meyer

Kemudian, ketika karantina pada pertengahan Maret, Betty mengkhawatirkan keselamatan Peter. Dia memutuskan sudah waktunya untuk memberi tahu dia bagaimana perasaannya. Dia memiliki sedikit harapan bahwa pengakuannya akan berujung bahagia.

Berusia lansia, mereka berada dalam kelompok usia berisiko tinggi untuk COVID-19, dan mereka masing-masing memiliki kehidupan aktif. Namun, Betty pun tetap mengirimkannya email dengan subjek: “The Teen-Age Betty in Me Confesses.”

“Aku tidak berencana untuk benar-benar menyukaimux tapi akhirnya aku menyukainya. Aku mencoba untuk tidak terlalu menyukaimu, tapi itu lebih sulit dari yang aku kira. Dan ketika menyukai seseorang, mengkhawatirkan keselamatan mereka. Tolong, tolong lakukan karantina ini dengan serius. Saya tahu betapa santai dan tidak cemas dirimu tidak seperti saya. Berhati-hatilah. Sementara itu, saya akan berusaha untuk mengurangi rasa menyukaimu, jadi tidak akan berpikir saya hama, sakit, gila, aneh, dll. !,” tulisnya.

Betty mengakhiri catatannya dengan mengatakan bahwa dia adalah seorang "realis", jadi dia tidak menyimpan mimpi besar tentang salah satu dari mereka yang mencabut hidup mereka untuk bersama. Setelah membaca pesan tersebut, Peter pun tidak menganggap dia hama, sakit, gila atau aneh. Justru sebaliknya.

“Saya menjadi lebih dekat dengannya melalui percakapan kami di telepon, dan cinta serta kasih sayang saya terbangun melalui itu. Aku akan datang padanya,” kata Pater.

Berhubungan kembali di usia 70-an berbeda dengan menjalin ikatan di masa remaja. Peter pun mendatangi Betty. Mereka langsung merasa bahwa sedang memulai babak baru bersama.

“Saya pikir itu sangat membantu bahwa kami berteman - dan mengenal satu sama lain seperti itu, dan kemudian ini perlahan berkembang dan kami menemukan kesamaan yang kami miliki, tentang bagaimana kami memandang kehidupan,” kata Betty.

Mereka merasa beruntung telah menemukan koneksi selama masa yang sulit ini.

#elevate women