Kisah Pasangan Muda yang Siap Menampung Korban Banjir

Musibah banjir melumpuhkan Jakarta sejak Rabu (16/1). Gelombang pengungsi pun tak terelakkan. Anak-anak, balita, dan wanita berdesak-desakkan dengan korban lainnya di ruang-ruang penampungan di sejumlah lokasi evakuasi. Kondisi ini menyentuh hati Yanita Moerdani dan istrinya, Erica Amanda Rheta, warga Pesanggarahan, Jakarta Selatan.

Pasangan muda ini menawarkan rumah miliknya untuk dijadikan tempat pengungsi bagi anak-anak dan wanita. Tawaran itu ia sampaikan melalui Twitter di akun @DannySatria, bahkan ia mencantumkan nomor handphone yang bisa dihubungi.

Gayung bersambut, sudah ada sejumlah orang menanyakan soal tawaran baiknya itu. “Rumah kami open house bagi pengungsi terutama anak-anak, balita, dan wanita. Kami ingin mereka bisa tinggal lebih nyaman dan nggak kedinginan,” kata pria berusia 28 tahun ini.

Tidak hanya menawarkan bantuan lewat Twitter, Danny dan sang istri, Erica, juga menyambangi posko di wilayah Grogol—tepatnya di daerah Satria dekat Citraland, Jakarta Barat yang banjirnya cukup tinggi.

Danny berusaha menawarkan langsung kepada pengungsi yang mau tinggal di rumahnya. “Ketika jemput bola ke posko, susah juga meyakinkan kalau kami siap membantu. Tapi ada juga yang minta tolong sekaligus dievakuasi,” ujarnya.

Di sinilah Danny mengalami kendala. Pasalnya, ia hanya punya sepeda motor. Tak mungkin baginya mengevakuasi warga.

Akhirnya, melalui Twitter pula Danny mengajak teman-temannya yang mungkin bersedia membantu mengevakuasi para korban banjir. “Jika ada yang mau bantu mengevakuasi, saya akan sangat senang. Karena saya hanya punya motor, itupun tadi sempat naik gerobak saat ke posko. Saya sudah share ini ke Twitter,” tuturnya.

Danny yang baru mengundurkan diri dari pekerjaannya di Fremantle Media, memiliki dua rumah di kawasan Pesanggarahan, Jakarta Selatan. Kedua rumahnya bebas banjir. “Rumah pertama ada tiga kamar, dan rumah kedua juga tiga kamar dalam kondisi kosong. Tadinya mau membuka usaha. Tapi berhubung belum terpakai, silakan ditempati. Jadi kalau ada pengungsi tinggal menggelar karpet atau tempat untuk tidur,” ujar Danny.

Ia juga siap menyediakan makanan untuk para pengungsi di rumahnya. “Ya, Insya Allah saya siapkan makanannya sekaligus. Kami ikhlas melakukannya semampu kami,” katanya.

Niatnya, Jumat esok, Danny masih akan keliling ke posko untuk menawarkan bantuan. Pasangan muda ini tidak takut tawarannya akan direspons orang-orang berniat jahat. “Wah, kalau itu Wallahualam, niat saya baik. Kami juga tak punya barang-barang berlebihan,” tuturnya.

Apa yang membuat Danny mau bersusah payah menawarkan bantuan?

“Saya punya pengalaman nggak enak sebagai korban banjir. Ketika itu saya masih kuliah, dan kamar kos saya di Grogol terendam banjir,” kata alumnus Universitas Esa Unggul. Oleh karena itu ia bisa merasakan penderitaan para korban banjir. “Selagi bisa berbagi dan berbuat untuk orang lain, kenapa tidak?” tambahnya. “Banjir adalah tanggung jawab kita semua. Ketimbang kita saling menyalahkan atau sekadar prihatin, berikan yang kita bisa lakukan,” ujarnya.(Marmi Panti Hidayah)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.