Kisah Pasutri Surabaya Sulap Limbah Tekstil Jadi Seprai Ramah Lingkungan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Surabaya - Pasangan suami istri (Pasutri) asal Surabaya, Ibrahim Syahputra dan Indah Catur Agustin, sukses menyulap limbah tekstil menjadi produk bedding (seprai) yang ramah lingkungan.

Kisah ini bermula ketika mereka mengawali usahanya menjadi penjual ulang atau reseller dengan merek Sleep Buddy Bedding di 2009.

"Kami menjual berbagai produk sprei berkualitas namum tak disangka ini menjadi pintu pembuka berkembangnya bisnis," tutur Indah kepada Liputan6.com di Surabaya, Rabu (17/11/2021).

Banyaknya permintaan dari pelanggan melalui online membuatnya memutuskan untuk membuat produknya sendiri, mulai dari sprei, bed cover, hingga kini menjual home decor.

Kuatnya tekad Indah untuk membuat produk sendiri lantaran pentingnya istirahat dengan nyenyak menggunakan sprei dan selimut serta bahan yang lembut namun harganya terjangkau.

"Rata-rata produk bedding dengan bahan yang bagus (lembut) dijual dengan harga yang tidak murah. Dari situ tercetus ide untuk bikin produk bedding sendiri dengan kualitas bahan yang lembut tapi harganya terjangkau. Setiap produk yang saya hasilkan pasti saya coba dulu. Kalau dirasa tidak nyaman ya tidak saya jual," ucapnya.

Indah mengatakan, jika sempat memiliki toko offline namun akhirnya tutup dan beralih berjualan online pada 2017.

"Dari online tersebutlah, pesanan semakin hari dituntut untuk cepat. Inilah yang menjadi alasan kami membangun sleep buddy lebih besar lagi," ujarnya.

Indah menceritakan, seiring berkembangnya usaha sleep buddy memunculkan permasalahan baru yaitu sampah. Untuk itu, mereka berdua memutuskan memproduksi produk daur ulang dari banyaknya potongan kain sprei, bantal, dan lainnya yang tidak terpakai.

"Tadinya potongan kain yang tidak terpakai hanya disimpan dalam karung atau dijual. Lama-lama numpuk karena kalau dijual juga tidak bisa cepat. Akhirnya saya berpikir untuk bisa memanfaatkan kain-kain sisa itu pada produk sleep buddy," tuturnya.

Kain-kain sisa itu, lanjut Indah, lantas diproses menjadi benang. Indah juga mengaku jika benang hasil proses kain daur ulang teksturnya tak sehalus kain katun yang biasa digunakannya.

"Jadinya dalam satu produk hanya sekitar 20 sampai 30 persen memakai kain daur ulang. Biasanya saya jadikan pinggiran atau hiasannya karena teksturnya tidak sehalus kain katun yang selama ini kita pakai," katanya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

[vidio:Kapal Tenggelam, Petugas Mulai Evakuasi Kendaraan]()

Alternatif Baru

Indah akhirnya kembali membuat alternatif material baru dengan mendaur ulang potongan kain sisa produksi untuk dimanfaatkan kembali menjadi produk kualitas tinggi dan unik seperti bedding bed sofa cushion (kain pembungkus bantal sofa), table runner (taplak meja), dan throw blanket (selimut sofa).

"Ketiga produk daur ulang tersebut kini dijual e-commerce dengan harga mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 360 ribu," ucapnya.

Indah mengungkapkan, produk daur ulang limbah tekstil membutuhkan perawatan ekstra. Indah menyarankan agar produk tidak dicuci menggunakan mesin cuci atau diberi pemutih pakaian.

“Cukup direndam pakai deterjen berbahan halus lalu dikucek sebentar dan dikeringkan pakai tangan saja,” ujarnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel