Kisah Pedagang Bakso dan Puluhan Kucing Liar di Jalanan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Tangerang Ahmad Nurrahman pria 45 tahun asal Desa Bulakwaru, Kecamatan Tarub, Tegal, Jawa Tengah ini sangat patut dicontoh. Pasalnya, pria yang sehari-hari berjualan bakso keliling tersebut dengan sukarela menyisihkan rejekinya untuk memberikan makanan untuk kucing-kucing liar atau stray food sambil berjualan. Ahmad setiap harinya harus menyiapkan sekira 2 kg dray food (makanan kucing kering) dan 500 gram ikan.

“Setiap hari minimal 1,5 Kg dry food dan setengah kilo ikan cue potongan. 1 kg dry food saya bawa sambil berjualan, sisanya untuk yang di kontrakan. Yang di kontrakan sengaja saya kasih tambahan ikan karena Cuma lima ekor kucing saja,” kata Ahmad kepada Liputan6.com di Serpong, Senin (9/11/2020).

Biasanya, ahmad melanjutkan dia berjualan mulai sore hari hingga tengah malam. Walau berjualan keliling tapi Ahmad berjualan bakso hanya di lokasi yang ada proyek pembangunan. “Jualan keliling di proyek-proyek. Biasanya proyek bangun apartemen, mall atau perumahan. Di kawasan Serpong selalu ada proyek jadi saya jualan di sana, karena tukangnya pasti beli bakso. Mereka kalau keluar lokasi proyek jauh,” ujar dia.

Menurutnya, Sejak mulai berdagang lima tahun lalu, ia melihat lokasi proyek menjadi rumah kucing-kucing liar yang dibuang oleh orang tak bertanggung jawab. Sejak saat itulah dirinya mengaku terpanggil untuk memberi makan kucing-kucing liar tersebut. “Hampir di semua proyek, setiap saya datang kucing-kucing ini seperti tau kalau saya datang bawa makanan untuk mereka. Biasanya baru saya pukul mangkok pakai sendok mereka langsung datang. Kadang baru denger suara motor saya sudah lari-lari mereka,” ucapnya.

Akibat Pandemi Kucing Liar Banyak Mati

Pedagang Bakso beri Makan Puluhan Kucing Liar (Dewi Divianta/liputan6.com)
Pedagang Bakso beri Makan Puluhan Kucing Liar (Dewi Divianta/liputan6.com)

Namun, ada yang membuatnya murung. Sejak pandemi Covid-19 melanda banyak proyek pembangunan ditutup, demi mencegah penyebaran virus corona. “Awal-awal Corona itu banyak proyek sengaja ditutup. Jadi saya juga gak bisa masuk ke area pembangunan untuk berjualan dan kasih makan anak-anak (kucing). Dulu bisa sampai seratusan kucing saya kasih makan, sekarang paling 50 an kucing yang tersisa. Banyak kucing yang mati,” katanya bercerita.

“Kemarin saya jualan di proyek yang sempat ditutup. Empat bulan saya gak ke sana. Pas saya datang kucing-kucing yang dulu saya kasih makan langsung lari nyamperin saya. Kata tukang yang kerja di sana banyak kucing yang mati, kasian karena gak ada yang ngasih makan,” tutur dia.

Pria yang memiliki dua anak dan istri seorang pegawai negeri itu berjualan bakso tak melulu rame dagangannya terjual. Terkadang dia harus hujan-hujanan sampai larut malam bukannya pembeli yang datang malah kucing langganan yang ia beri makan yang datang. “Hujan-hujanan dagangannya masih banyak. Teriak bakso-bakso yang datang kucing-kucing liar,” ucapnya sambil tertawa.

Sementara itu, respon masyarakat jika dia memberi makan kucing liar tidak terlalu mendapat tanggapan baik. Tak jarang jika terkadang ia malah dimarahi sama warga. “Kadang ada yang marah kalau saya kasih makan kucing liar makanan. Biasanya kalau di area pemukiman pernah ada yang gak suka. Tapi saya cuek aja, Tetap saya kasih makan kucing liarnya,” ujarnya mengakhiri.