Kisah penangkapan 'babi ngepet' di Cianjur

MERDEKA.COM, Warga Kampung Palalangon, Desa Palalangon, Kecamatan Haurwangi, Cianjur, Jawa Barat mendadak geger dengan kemunculan makhluk mistis berbentuk babi. Kawasan yang semula sepi dari lalu lalang manusia, kini ramai dikunjungi penonton yang berdatangan dari Cianjur dan daerah sekitarnya.

Fenomena penangkapan 'babi ngepet' yang dilakukan sejumlah warga itu membuat banyak orang merasa penasaran dan terus berdatangan. Bahkan, ketika matahari mulai 'bersembunyi' di ufuk timur, masyarakat terus berdatangan untuk melihat langsung makhluk jejadian yang dikurung dalam kandang kecil berukuran 1,5 x 1 meter dengan cat warna hijau.

Adalah Abah Tamim, tokoh masyarakat setempat yang turut bersama puluhan warga Kampung Palalangon berupaya menangkap 'babi ngepet' saat berkeliaran di sekitar tempat tinggalnya. Sosok hewan mistis itu pertama kali ditemukan seorang anak kecil yang berteriak memanggil orang-orang dewasa yang sedang bekerja di tengah sawa.

"Kejadiannya hari minggu pukul 12.00 WIB siang, pas banyak orang yang sedang kerja di sawah. Tiba-tiba muncul babi, langsung diburu ramai-ramai sama warga sampai hilang di semak-semak," kenang Abah kepada merdeka.com, Selasa (11/12).

Setelah dicari selama beberapa jam tidak ditemukan, warga kemudian kembali menggarap sawah yang sempat ditinggalkan saat melakukan pengejaran. Namun, lima jam kemudian, hewan tersebut kembali muncul di tengah warga. Para petani pun kembali berusaha menangkap makhluk tersebut.

"Sebelum kabur lagi, kakinya kami pukul pakai bambu. Setelah lumpuh, kami ikat kakinya dan diikat di bambu, langsung dikandangin," lanjutnya.

Oleh sejumlah warga, babi itu kemudian ditaruh di bekas bangunan yang sudah dibongkar, atau tepat di depan rumah ketua RW setempat. Terkait kedatangan sejumlah warga yang ingin melihat dari dekat, Abah Tamim mengaku tidak tahu bagaimana informasi itu lantas menyebar.

Berselang sehari usai penangkapan, aparatur Desa Palalangon dan kepolisian berdatangan untuk melihat secara langsung. Mereka lantas meminta Abah Tamim untuk menyerahkan babi tersebut untuk 'diamankan' dari pemukiman warga, namun Abah Tamim menolak permintaan tersebut.

"Sempat minta diangkat ke kantor desa, tapi nolak. Polisi juga datang mau di ambil. Mereka bilang, ini bukan hewan dilindungi jadi harus dibunuh karena dianggap hama, karena tanaman petani bisa habis," tuturnya.

Abah Tamim mengaku tidak tega membunuh makhluk yang diduga jejadian tersebut, bahkan ia berencana merawat dan memeliharanya. "Itu (babi) akan dipiara kalau betul-betul babi biasa," ucapnya.

Tidak hanya itu, jika memang babi tersebut sesuai dengan dugaannya, dia berharap sosok di dalamnya datang menemui Abah Tamim untuk meminta maaf. Itu pun jika sosok tersebut merasa malu menemuinya langsung akibat banyak orang yang ingin melihat langsung.

"Kalau memang itu jadi-jadian, mudah-mudahan ada langkahnya (rezekinya) ke sini. Kalau malu banyak orang, datang ke saya 4 mata," katanya.

Ketika ditanya mengapa diduga hewan tersebut merupakan 'babi ngepet', Abah Tamim mengatakan, ketika akan diburu babi tersebut sempat menegok ke belakang dan berlari mundur. Jika dibandingkan dengan babi hutan pada umumnya, hewan jenis ini tidak bisa menengok, apalagi berjalan mundur.

"Berdasarkan cerita orang yang pernah berburu babi, kalau babi hutan itu enggak bisa nengok ke belakang, apalagi jalan mundur," pungkasnya.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.