Kisah Pendaki Bertahan Hidup Setelah Hilang Empat Hari di Gunung Arjuno

Merdeka.com - Merdeka.com - Muhammad Naam Kurniawan (34) pernah dinyatakan hilang selama empat hari saat pendakian ke Puncak Gunung Arjuno, Jawa Timur. Warga Pandaan, Pasuruan itu tersesat dalam hutan belantara di kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) R Soeryo tanpa perbekalan.

Sebenarnya Naam bukan orang awam dalam urusan pendakian gunung, karena memang sejak mahasiswa sudah terbiasa dengan kegiatan ekstrem itu. Alumni Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang itu mengaku hobi dan rutin mendaki, baik gunung-gunung di Jawa maupun luar Jawa.

Ia pernah menginjakkan kaki di puncak Gunung Rinjani, Salak, Slamet, Merapi, Semeru, Lawu, Penangungan, Tambora dan lain-lain. Ia juga beberapa kali terlibat dalam pencarian pendaki hilang, termasuk pencarian pelari utratrail Yurbianto Lubiz di Gunung Arjuno beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, Naam terlibat dalam aksi kemanusiaan saat gempa dan gunung meletus di Gunung Rijani, Gunung Merapi serta terlibat pencarian warga asing hilang di Puncak Semeru. Ia mengaku terpanggil untuk membantu Basarnas setiap pencarian orang hilang.

Berawal dari Cari Bantuan

Meski dengan pengalaman mendaki sekian gunung itu, Naam mengaku kekuatan alam begitu besar dan tak bisa ditebak. Dirinya bahkan tersesat di Gunung Arjuno, yang tidak jauh dari tempat tinggalnya dan telah sekian kali dijelajahi.

"Saya mendaki sama teman-teman yang baru kenal di grup pendakian. Total 5 orang, sebenarnya 6 orang, tapi satu orang mendadak nggak jadi ikut," kisah Muhammad Naam Kurniawan di Pos Pendakian Gunung Arjuno-Gunung Welirang Lawang, Kabupaten Malang.

Naam dan rombongan berangkat naik Puncak Arjuno melalui Objek Wisata Alam Tambaksari Purwosari, Pasuruan. Mereka berangkat Jumat (18/3) dan tiba di Puncak Sabtu (19/3) malam. Setelah merasa cukup menikmati keindahan Puncak Arjuno, mereka berlima turun Minggu (21/3) sekitar pukul 12.00 WIB.

Awal tersesat, saat itu Naam berniat mencari pertolongan karena salah satu teman dalam rombongan terkilir dan pingsan di Puncak Ogal-Agil. Naam berinisiatif meninggalkan teman-temannya guna mencari tambahan bekal dan pertolongan.

Tinggalkan Semua Perbekalan untuk Teman

Sesaat setelah berjalan sekitar 30 menit, Naam juga baru menyadari kalau perbekalan teman-teman yang ditinggalkan tidak akan mencukupi. Sehingga seluruh bekal dan tas ditinggalkan di bebatuan, dengan harapan sebagai tambahan sambil mencari pertolongan.

"Bekal saya taruh di persimpangan bebatuan di situ, tak keluarkan semua aku cari bantuan," katanya.

Saat itu juga kepikiran untuk meminta tambahan bekal dari pendaki lain. Ia pun mengejar rombongan pendaki yang dirasakan belum jauh didahuluinya. Namun tidak ditemukan dan justru dirinya salah jalur hingga tersesat di kawasan Lalijiwo.

"Karena buat turun nggak memungkinkan caranya ya mengejar rombongan untuk minta tambahan logistik untuk tambahan besok. Cuma ya itu nggak ketemu sama mereka," katanya.

"Ngejar ada dua rombongan yang saya salip, niatnya mengejar rombongan terakhir. Dengan suasana cuaca kayak gini (hujan) saya kira nggak jadi ke puncak," ungkapnya.

Sadar Tersesat

kisah pendaki bertahan hidup setelah hilang 4 hari di gunung arjuno
kisah pendaki bertahan hidup setelah hilang 4 hari di gunung arjuno

Naam terlibat pencarian pelari yang hilang di Gunung Arjuno.©2022 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Naam dengan hanya pakaian yang menempel di tubuh baru menyadari kalau tersesat pada Minggu (21/3) sekitar pukul 14.00 WIB. Ia merasa melalui jalan lurus dan mendadak kabut tebal datang menyelimutinya. Kabut itu seperti mengempas dan mendorongnya untuk terus berjalan hingga tersadar berada di dalam hutan lebat.

"Awal mula tersesat jalan lurus, masih nggak banyak hutan di atas Plewangan jauh. Kabut tiba-tiba tebal datang dan jarak pandang sudah nggak kelihatan, nggak berpikir untuk balik atau cari jalan lain. Itu tidak kayak di bawah, kayak ada angin, nggak bisa bergerak terus tiba-tiba di lokasi kabut saja. Begitu kabut hilang berubah hutan," urainya.

Naam dalam kondisi panik, tetapi tetap berusaha menguasai diri dan sadar. Ia tetap berkeyakinan akan menemukan jalan atau bertemu dengan orang lain yang dapat membantunya.

"Saya nggak bawa bekal apa-apa. Cuma karena tekad ingin hidup, saya fokus gimana cara menemukan warga atau orang lain, intinya itu. Saya nggak bawa apa-apa, posisi nggak tahu di mana," kisahnya.

Peristiwa Aneh

Naam pun merasakan kondisi-kondisi aneh selama berada di belantara hutan. Kedatangan kabut tebal selalu menandai keanehan itu. Ia merasa di suasana hutan dengan pepohonan yang besar dan lebat, tanpa angin dan suara, serta dedaunan tidak bergerak.

Saat sore menjelang magrib, Naam merasa melihat beberapa orang dengan pakaian ala kerajaan melintas. Selain juga menemukan kerumunan pasar dan beberapa orang duduk di sebuah pendopo.

Kondisi itu dirasakan berbeda dengan alam nyata dan akan berakhir saat pagi hari menjelang subuh. Saat itu biasanya bersamaan terdengar suara burung dan gerakan dedaunan dan ranting oleh angin.

Sajak awal, Naam menyadari hal yang dialaminya itu sebagai aktivitas alam astral, sehingga memilih diam dan tidak berkomunikasi. Ia membiarkan kegiatan di sekelilingnya itu atau toh saat bertemu dalam perjalanan dibiarkan melintas saja.

Susuri Aliran Air

Naam pun selalu memanfaatkan waktunya di 'alam nyata' untuk berjalan menyusuri aliran air dengan harapan dapat bertemu orang. Pengalaman itu didapatkan saat masih aktif sebagai mahasiswa pencinta alam (Mapala).

"Dulu teman sempat tersesat di Gunung Arjuno juga, dia cerita kalau cari bekas aliran air, waktu tersesat aku teringat, akhirnya cari bekas aliran air," akunya.

Sejak menyadari tersesat, Naam selalu menjaga keyakinannya, bahwa orang akan mencarinya seperti diketahuinya selama ini ketika pendaki hilang di gunung. Ia berusaha meninggalkan tanda berupa rerumputan atau ranting, tongkat (perkimpul) sambil terus menelusuri aliran air.

"Cuma bisanya waktu cari (aliran air) di pagi hari di atas jam 10 itu sudah nggak kelihatan. Kabut tebal datang. Kalau siang jalan, nggak menemukan apa-apa cuma hutan belantara. Kalau di atas jam 10 sudah kabut mulai datang, kabut itu menutupi hutan sampai mau subuh, hutan tok itu," jelasnya.

Pilih Berpuasa

Naam mengaku tidak mengonsumsi apa pun selama tersesat dan berusaha melupakan rasa lapar dan haus. Alasannya, saat lapar dan haus dalam pikiran akan muncul halusinasi tentang makanan.

Saat itulah diyakini akan banyak 'makanan' ditawarkan makhluk alam lain, yang membahayakan. Jika dimakan, orang akan semakin nyaman dengan kehidupan alam gaib, yang pada akhirnya tidak kembali ke rumah atau kematian. Sehingga Naam pun memilih berpuasa, selain memang tidak ada makanan apa pun.

Naam memercayai juga tentang menginjak Air Mimang atau Akar Mimang. Pendaki yang menginjaknya akan mengalami kondisi dibuat berputar-putar di daerah situ. Kendati dalam pikirannya seolah telah berjalan jauh namun tetap di sekitar situ saja.

Ditemukan di Jurang

Naam akhirnya ditemukan oleh warga masyarakat yang sedang mengecek saluran air persawahannya. Naam dalam kondisi lemah dan harus digendong ke perkampungan, sebelum kemudian petugas menjemputnya.

Awalnya Naam mengaku sayup-sayup mendengar suara orang yang sedang berbincang-bincang di dalam hutan. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa orang-orang tersebut berada di alam nyata.

"Waktu hari Rabu pagi aku terdengar suara kayak orang bicara, cuma nggak langsung minta tolong, tak lihat terus daun-daun bergerak, aku diam saja dulu. Apakah benar suara manusia, baru yang kedua suara itu terdengar lagi," urainya.

"Baru kemudian minta tolong, tapi nggak ada balasan, aku diam lagi. Nggak lama terdengar suara yang sama seperti itu. Akhirnya minta tolong lagi, saya tambahi Pak. Jadi Tolong Pak! gitu ada jawaban, saya disuruh naik, saya naik. Ketika naik mereka lari menarik saya, posisi tadi di jurang," urainya.

Naam ditemukan Rabu (23/3) di Alas Sriti, Dusun Sumbul, Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Kondisinya mengalami hipotermia setelah 3 malam 4 hari berada di dalam hutan. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel