Kisah Penderita Obesitas Turunkan 30 Kg Berat Badan, Begini Caranya

Tasya Paramitha, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Penyandang obesitas, Maria Josep, membagikan pengalamannya yang sukses menurunkan berat badan. Di bawah bimbingan Spesialis Gizi Klinik, dr. Cindiawaty Josito Pudjiadi, MARS, MS, Sp.GK, wanita itu diminta menurunkan 20-30 kilogram dari berat badannya yang semula.

Pertama-tama, dokter Cindi meminta Maria untuk melakukan tes nutrigenomik untuk mengetahui jenis diet yang cocok.

"Sebagian besar pasien saya melakukan diet gen, sehingga saya mendapatkan pedoman diet yang cocok untuk dia itu seperti apa. Kalau tidak turun-turun, apa yang mesti dikerjakan? Semuanya kita lihat dari genetik dia," ujar dokter Cindi dalam tayangan Hidup Sehat di tvOne, Jumat, 19 Februari 2021.

Cindi menambahkan, sebenarnya pemeriksaan nutrigenomik tidak semata-mata untuk penurunan berat badan saja. Tapi juga bisa menentukan olahraga apa yang cocok dan risiko penyakit yang mungkin terjadi.

"Kalau misalnya dia punya risiko diabetes lumayan tinggi, itu akan ditekankan sekali untuk menjaga karbohidratnya," lanjut dia.

Kemudian, hal lain yang perlu dikerjakan adalah berolahraga. Beberapa jenis olaharaga yang direkomendasikan antara lain, jalan cepat, sepeda atau cross training. Menurut Cindi, olahraga tersebut harus dilakukan secara rutin 3-5 kali seminggu.

"Olahraga berikutnya yang saya sarankan adalah latihan otot. Karena otot kita perlu dijaga, jangan sampai gara-gara diet otot kita turun. Kalau turun, metabolisme badan kita akan turun. Nah, itu akan menyebabkan berat badan kita tidak awet dan naik lagi berat badannya," kata dia.

Cindi menjelaskan, penurunan berat badan harus terjadi di lemak, bukan pada otot atau air dalam tubuh, agar penurunan berat badan tetap stabil dan bonusnya tubuh menjadi lebih sehat. Kemudian, perhatikan juga asupan nutrisi yang dikonsumsi sehari-hari.

"Sumber protein perlu kita penuhi. Kita konsumsi protein yang mengandung lemak yang rendah, kita batasi atau hindari makanan-makanan yang digoreng, santan dan berlemak, gula, serta segala hal yang mengandung karbohidrat sederhana," tuturnya.

Selain itu, dukung juga dengan konsumsi karbohidrat kompleks, yang bisa didapat dari nasi merah, roti gandum, dan havermut. Juga, didukung dengan konsumsi protein yang bagus, seperti ayam, ikan, tahu, tempe, dan kacang-kacangan.

"Makanan tersebut sebaiknya tidak digoreng, lebih ke arah tumis, panggang, pepes atau tim. Jangan lupa kita butuh cairan 8 gelas per hari, olahraga rutin 3-5 kali per minggu, 30 menit sampai 1 jam. Ditambah dengan konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan," pungkasnya.

Dokter Cindi turut memperingatkan, jika kita melakukan diet yang salah, hal itu dapat menurunkan imunitas atau daya tahan tubuh.