Kisah Pendiri Huawei Ren Zhengfei, Hidup Susah Hingga Gabung Militer

Merdeka.com - Merdeka.com - Ren Zhengfei, pendiri salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, Huawei Technologies, terkenal sebagai orang yang pemalu dan tidak suka menonjolkan diri. Sebagai pendiri sekaligus salah produsen perangkat keras telekomunikasi dan ponsel terbesar di dunia, Zhengfei memiliki kekayaan sebesar USD 1 miliar atau setara dengan Rp 15,7 triliun.

Namun, kesuksesan pengusaha 78 tahun ini bukanlah didapatkan dengan mudah, dia telah melalui kesulitan sebelum berhasil meraih itu semua. Dalam suatu wawancara dengan CNN, Zhengfei bercerita bahwa dalam hidupnya selalu ada kesulitan sehingga dia harus selalu bekerja keras agar bisa maju.

"Saya pikir selalu ada kesulitan. Jalan saya tidak pernah mulus ketika saya masih muda, latar belakang keluarga saya juga tidak baik. Saya harus bekerja sangat keras dalam setiap kesempatan yang sedikit tersebut," katanya.

Pria yang lahir tahun 1944 ini mengungkapkan bahwa karena berasal dari keluarga miskin, ketika masih kecil, dia tidak mempunyai banyak akses untuk mengeksplor diri. Sehingga hobi yang dimiliki hanya sebatas membaca buku, mengerjakan pekerjaan rumah dan memecahkan persamaan matematika di koran bekas.

Meski begitu, dengan dukungan orang tuanya yang seorang guru, dia berhasil berkuliah di Universitas Chongqing. Selanjutnya pada tahun 1974, dia bergabung dengan People's Liberation Army (PLA) sebagai insinyur untuk berbagai pengembangan teknologi. Karena saat itu China sedang mengalami Revolusi Kebudayaan sehingga negara itu menderita kekurangan pangan dan pakaian yang parah.

"Saat itu, terjadi kekacauan hampir di mana-mana," ujar Zhengfei.

Dia ingat bahwa jatah kain tekstil sangat langka sehingga kebanyakan orang hampir tidak punya cukup uang untuk menambal dan memperbaiki pakaian. Zhengfei dalam militer ditugaskan dalam pendirian pabrik kimia untuk membuat serat tekstil di Timur Laut China.

Tempat ini menjadi bagian dari rencana pemerintah untuk memastikan setiap warga negara memiliki setidaknya satu potong pakaian yang layak. "Saya pernah kuliah dan orang-orang seperti saya bisa berperan dalam pengembangan ini," tambahnya.

Lebih lanjut, dia bersama rekan-rekan militernya tidur di perumahan kumuh dengan suhu di bawah nol dan hanya hidup dengan memakan acar sayuran selama berbulan-bulan. Namun, dia senang saat itu, karena sementara orang-orang di tempat lain di China dikritik karena terlalu banyak membaca buku selama Revolusi Kebudayaan. Pabrik itu menjadi salah satu tempat yang aman untuk membaca.

Namun, dia mengatakan harapannya untuk menjadi letnan kolonel di PLA hancur akibat latar belakang keluarganya. Selama Revolusi Kebudayaan, ayahnya telah dicap sebagai "antek kapitalis" membuatnya sulit untuk menjadi anggota dari Partai Komunis yang berkuasa saat itu.

Namun, dengan keberhasilnya merekayasa alat yang diperlukan untuk menguji peralatan di pabrik fiber, seorang supervisor membantunya menjadi anggota partai. Tapi, dia tetap tidak pernah berhasil mencapai pangkat tinggi di militer. Pekerjaan terakhirnya di PLA adalah wakil direktur sebuah lembaga penelitian konstruksi.

Setelah keluar dari PLA, Zhengfei menghabiskan beberapa tahun bekerja di sebuah perusahaan minyak sebelum mendirikan Huawei pada tahun 1987. Sayangnya pergolakan akibat transformasi pasar China yang berjalan terlalu cepat dan infrastruktur telekomunikasi negara yang buruk menghambat kemajuan perusahaannya. Apalagi, kurangnya dukungan pemerintah, sempat membuatnya frustasi.

Sebagai perusahaan swasta di Shenzhen, sebuah desa nelayan yang baru saja ditetapkan sebagai zona ekonomi khusus di China. Huawei berjuang untuk mendapatkan pangsa pasar. Bahkan dia harus bekerja berjam-jam dan melakukan apa pun untuk mengamankan bisnisnya.

Ditambah karena saat itu, Huawei belum dapat bersaing di kota-kota besar sehingga fokusnya terbatas pada kota-kota kecil dan desa-desa di China. Di sisi lain, dia juga banyak berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan sehingga semakin mendorong Huawei untuk menciptakan teknologinya sendiri yang memungkinkannya bersaing dengan para pesaingnya yang lebih besar.

Dengan perjuangan yang luar biasa bahkan hingga mengorbankan waktunya untuk keluarga. Kerja kerasnya berbuah manis, Huawei berhasil menjadi perusahaan teknologi yang disegani oleh banyak orang. Dan kesuksesan yang didapatkan telah membawanya masuk ke urutan ke 276 dari daftar orang terkaya di China.

Reporter Magang: Hana Tiara Hanifah [azz]