Kisah Perempuan Bercadar Pelihara 70 Anjing yang Ditentang Ormas

Dedy Priatmojo, Muhammad AR (Bogor)
·Bacaan 3 menit

VIVA – Kisah Suhaesti Sutrisno (41), perempuan bercadar yang memelihara puluhan ekor anjing di Bogor, Jawa Barat, viral di media sosial. Hesti disorot setelah ormas setempat protes dan hendak mengusir anjing-anjing peliharaannya.

Perempuan yang akrab disapa Hesti itu memang mendedikasikan hidupnya untuk mengurus dan menjaga hewan liar tak terurus di jalanan, seperti kucing dan anjing. Ia menampung anjing dan kucing liar itu di rumah penampungan sementara atau green house di kawasan Tenjolaya, Bogor, Jawa Barat

Sejauh ini, Hesti menampung sebanyak 70-an ekor anjing liar yang telantar untuk dirawat di shelter anjing green house. Hesti mengaku anjing-anjing liar itu dirawat dengan baik, diberi makan dan divaksin rabies agar terhindar dari virus berbahaya.

Di dalam green house itu juga dilengkapi kadang-kandang dan septic tank khusus untuk membuang kotoran hewan. Sehingga tidak mencemarkan lingkungan.

Hesti memang tidak setiap harinya tinggal di Kampung Gunung Mulya, Tenjolaya. Walaupun Ia asli Kampung Gunung Mulya, tapi sehari-hari tinggal di Pamulang, Tangerang Selatan. Green house tempat menampung anjing ini pun dia bangun di lahan miliknya sendiri.

"Di Pamulang masih ada alhamdulillah, ada 39 (anjing), kalau disini (Green House Tenjolaya) ada 70," kata Hesti saat dikonfirmasi, Senin, 15 Maret 2021.

Keberadaan green house yang menampung puluhan anjing liar ini belakangan disorot warga setempat. Warga yang terganggu meminta pendampingan LSM setempat untuk memprotes keberadaan anjing-anjing yang ditampung Hesti di green house. Warga menuntut agar Hesti secepatnya mengosongkan green house dari anjing-anjing liar tersebut.

"Mereka (yang memprotes) sebenarnya pendatang, bukan orang sini, semua warga (asli) justru kaget saya diginiin," ujar Hesti.

Hesti mengakui merawat puluhan anjing liar di sebuah lahan yang tak jauh dari pemukiman warga sejak Agustus tahun lalu. Saat itu anjing yang dia tampung belum sebanyak seperti sekarang. Warga sekitar pun sebenarnya mafhum dengan keberadaan green house, sebab di kampung tersebut juga banyak anjing liar.

"Saya kebanyakan dari sini, disini kan banyak anjing liar kan, itu 47 ekor itu dari kampung sini. Belum lama juga ditawari 5 puppy (anak anjing), itu anak kecil yang jual ditawarin ke kita," ujarnya.

Ia mengelola sendiri green house dibantu enam warga sekitar untuk mengurusi anjing-anjing tersebut. Sembari mengurus anjing-anjing liar tersebut, Hesti berjualan kripik singkong. Hasil keuntungannya digunakan untuk mengurus anjing dan memberdayakan masyarakat sekitar.

"Saya cuma pedagang rumahan, semua hasil penjualan itu untuk melakukan kebaikan di kampung ibu saya ini. Baik itu untuk hewan, betulin jalanan, apapun itu semua warga kebagian dari hasil jualan itu," ungkapnya.

Sementara itu, Camat Tenjolaya, Farid Maruf membenarkan ada forum diskusi bersama pemilik green house, Hesti Sutrisno pada Kamis 11 Maret lalu, yang dihadiri jajaran Muspika Tenjolaya.

Dari pertemuan itu, disampaikan bahwa warga menolak akan aktivitas shelter anjing. Kemudian, warga dan masyarakat setempat menyebut ada fatwa MUI yang melarang kegiatan tersebut dan mendorong agar ditangani oleh Dinas Peternakan.

Hesti mengaku tak masalah dengan keberatan beberapa warga soal keberadaan green house yang berisi anjing liar yang dia pelihara. Bahkan, Ia tak gentar jika nantinya ada pihak yang akan memperkarakan ke meja hijau karena dianggap mengganggu ketentraman.

"Ya saya sih siap, kan dicek dulu sebelum diadili di pengadilan, bener enggak mengganggu atau gimananya. Saat ini pilih mengalah tapi bukan berarti kalah. Keburukan mereka bukan berarti saya balas dengan keburukan, harus saya balas dengan kebaikan, justru saya akan datang dengan kebaikan. Pada hakikatnya saya minta pengamanan green house saya enggak akan pergi dari tanah saya, dari kampung saya sendiri," tegasnya.