Kisah Perempuan Iran dengan Luka Bakar di Wajah dan Bangkit dari Keterpurukan

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Kecantikan perempuan bukan hanya memiliki kulit bersih, wajah tanpa noda, bertubuh langsing. Melainkan kecantikan seseorang dapat terpancar dari dalam diri. Hal ini dibuktian perempuan asal Iran bernama Marzieh Ebrahimi.

Ia mengalami tragedi tragis saat serangan di Iran, yang membuat wajahnya separuh terbakar. Namun, fisiknya tersebut mampu. Terlepas dari bekas luka di wajah dan hatinya, Marzieh Ebrahimi adalah perempuan cantik yang juga luar biasa seperti burung phoenix yang terlahir kembali.

Ia pun menjadi salah satu dari perempuan di Iran yang telah mampu mengubah keseimbangan kembali sesuai keinginannya sendiri.

Berbicara di sebuah acara di Universitas AmirKabir bertahun-tahun setelah kejadian itu, Ebrahimi mengenang: “Saya tidak pernah melihat mereka, tidak tahu seperti apa penampilannya, tidak tahu berapa umur, tidak tahu apakah mereka punya masalah dengan saya atau dengan hijab saya. Tapi saya tahu satu hal dengan sangat baik: saya ingin berbicara dengan mereka. Saya ingin melihat mereka, dan menatap mata mereka, sambil bertanya kepada mereka, 'Mengapa? Kenapa saya?’” ujarnya melansir Iranwire.com.

Melansir Iranwire.com, Marzieh mengatakan kejadian pahit itu terjadi ketika dia diserang di Isfahan pada tahun 2014 saat berusia 25 tahun. Ketika dia melirik ke kaca spion mobilnya untuk memeriksa parkirnya, dia tidak tahu perubahan arah nasibnya hanya beberapa detik lagi. Seseorang menyiramkan zat kimia yang menyerupai air keras yang mirip asam sulfat ke wajah yang menyebabkan wajahnya terbakar hingga separuh bagian.

Enam tahun lalu, setidaknya empat perempuan menjadi sasaran serangan serupa di Isfahan setelah Yousef Tabatabaei-Nejad, perwakilan dari Pemimpin Tertinggi dan Imam Jumat Isfahan, membuat pernyataan publik tentang ketidakpatuhan perempuan terhadap jilbab di sebuah acara untuk menandai Asyura.

“Memberi peringatan tidak cukup lagi. Kita harus mengangkat tongkat dan menggunakan kekuatan untuk memerangi jilbab yang buruk,” ujarnya. Kehidupan para perempuan yang diserang setelahnya berubah selamanya.

Marzieh Ebrahimi berasal dari keluarga besar. Dia adalah seorang gadis tangguh yang telah mengalami kesulitan dalam hidupnya bahkan sebelum tragedi ini terjadi. Tetapi dia juga sangat disibukkan dengan penampilannya: “Keluarga saya khawatir dengan menemukan penyerang dan khawatir saya akan mendapatkan kembali kesehatan saya. Tetapi lebih dari segalanya, mereka khawatir bagaimana saya akan menangani ini, mengingat betapa sensitifnya saya tentang wajah dan kecantikan saya.”

“Dia adalah seorang bidan di rumah sakit sebelum semua ini terjadi. Dia punya rencana. Alhamdulillah masih semangat. Tapi dia tidak sama; dia tidak menjalani hidupnya dengan semangat dan kegembiraan yang sama seperti sebelumnya,” ujar saudara laki-lakinya.

Bangkit dari bencana

Konten ini tidak tersedia karena preferensi privasi Anda.
Perbarui pengaturan Anda di sini untuk melihatnya.

Dalam beberapa bulan pertama yang menghebohkan setelah kejadian itu, orang-orang yang dekat dengan Marzieh mengatakan dia trauma. Dia terus menggulung kaca mobil ke atas meskipun di dalam kendaraan sangat panas, dan klakson klakson sepeda motor serta suara pipa knalpot membuatnya takut.

Namun, secara bertahap, Marzieh hidup kembali – dan kali ini, bukan hanya untuk dirinya sendiri. Ia menjadi suara simultan dari banyak pria dan perempuan. Dia menjadi simbol untuk melawan serangan semacam ini, setelah memutuskan bahwa daripada menjadi korban dan mengisolasi dirinya dari masyarakat, dia akan mewakili orang yang selamat. Ia memutuskan untuk membela korban dari tragedi yang pernah dirasakan.

Tahun lalu, saat menginjak usia 29 tahun, Marzieh ikut serta dalam sesi pemotretan dengan seorang fotografer muda bernama Negar Masoudi. Gambar yang dihasilkan ditampilkan dalam sebuah pameran di Forum Seniman Iran di Teheran. Dua dari gambar tersebut secara khusus menarik perhatian pengunjung dan dibagikan secara luas secara online.

Yang pertama menampilkan wajah Marzieh yang setengah terbakar di depan latar belakang hitam, dan di dalamnya dia mengenakan syal merah. Yang kedua menggambarkan Marzieh dalam gaun pengantin putih: gambar menawan yang menyampaikan harapan untuk masa depan yang lebih baik dan semangat hidup yang ada di hati Marzieh dan suaminya.

Semangat Hidup yang Tinggi

ilustrasi perempuan/Photo by Briana Tozour on Unsplash
ilustrasi perempuan/Photo by Briana Tozour on Unsplash

Bagi Marzieh Ebrahimi, motif tunggal mengikuti pameran ini adalah untuk melihat batasan atau larangan langsung yang diberlakukan terhadap jual beli zat kimia berbahaya di Iran. “Saya angkat bicara karena saya tidak ingin tetap menjadi korban,” katanya. “Saya ingin melawan. Ini adalah alasan utama yang membentuk ide untuk berkolaborasi dengan Negar Masoudi.”

Pada Mei 2019, Marzieh Ebrahimi dan tiga korban serangan asam lainnya pergi ke parlemen Iran dan berbicara dengan anggota parlemen tentang sifat terpenting dari permintaan mereka. Selama kunjungan Ebrahimi mengatakan kepada mereka:

“Atas nama empat korban dari Isfahan, saya memberitahu Anda bahwa sejauh ini kami belum menerima tanggapan [tentang penyerang kami] dan belum ada penebusan. Sudah 5 tahun sejak kejadian itu. Saya di sini bukan untuk mengeluh, tetapi untuk meminta dukungan Anda dalam meningkatkan hukuman atas kejahatan ini dan mengurangi kemungkinannya terulang kembali.”

Hidup terus berjalan bagi Marzieh Ebrahimi. Dia melanjutkan perawatannya dan sering mengunjungi orang lain yang senasib untuk menebarkan semangat hidup yang tinggi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel