Kisah Perjodohan Berbasis DNA, Membantu Temukan Pasangan Ideal

·Bacaan 5 menit

Ini jelas bukan rumus jatuh cinta karena pandangan pertama. Ini adalah upaya menjalin hubungan asmara yang didasarkan pada hasil analisis DNA.

Dan makin banyak pasangan yang menggantungkan pada hasil analisis ini, untuk memutuskan apakah hubungan yang tengah dijalin layak diteruskan ke tahap yang lebih serius.

BBC berbicara dengan beberapa pasangan yang menuturkan bagaimana sains -- lebih tepatnya analisis DNA -- membantu mereka untuk makin mantap membina hubungan, dan bahkan menjadi salah faktor penentu yang membuat mereka akhirnya menikah.

`Mengubah jalan hidup`

Cheiko Mitsui
Cheiko Mitsui mengatakan dirinya mencoba bertahun-tahun untuk menemukan pasangan yang cocok.

Cheiko Mitsui sudah mencoba mencari pasangan selama hampir sepuluh tahun ketika menemukan perjodohan berbasis DNA.

Perempuan berusia 45 tahun dari Kota Hakodate di Hokkaido, Jepang, ini bercerai pada usia 35, dan mulai merasa tak ada lelaki yang mau menjalin hubungan dengannya.

Segala upaya sudah ia tempuh: cari calon melalui koneksi pertemanan, hadir di pesta-pesta, hingga mendaftarkan diri ke biro jodoh.

"Tak ada yang cocok," kata Mitsui.

Hingga kemudian ia bertemu dengan Cheiko Date, yang mengklaim sudah berhasil menemukan pasangan bagi 700 klien dalam karier 20 tahun sebagai comblang.

Apa kunci suksesnya? Date mengatakan kuncinya adalah memanfaatkan produk perusahaan Swiss, GenePartner, yang menggunakan DNA untuk membantu seseorang menemukan pasangan yang cocok.

Dr Tamara Brown, salah satu pendiri GenePartner mengatakan jodoh "ditentukan oleh dua faktor, yaitu kesamaan kimiawi dan kompatibilitas sosial".

"Agar hubungan bisa langgeng, dua faktor itu harus cocok," kata Brown.

Contoh hasil tes kecocokan genetik yang dilakukan GenePartner
Contoh hasil tes kecocokan genetik yang dilakukan GenePartner antara seorang laki-laki dan perempuan.

Proses menemukan jodoh diawali dengan tes usap dan kemudian gen-gen antigen leukosit (HLA) milik klien dianalisis.

Brown menjelaskan, HLA adalah gen yang penting bagi sistem kekebalan tubuh. Semakin banyak seseorang memiliki HLA, semakin baik respons imunnya.

Mamalia mengenali HLA ini karena mereka ingin mendapatkan bayi yang tahan terhadap penyakit. "Jadi, prinsipnya sebenarnya sederhana ... dan ini penting karena dengan begitu, spesies ini bisa bbertahan hidup," kata Brown.

Premis GenePartner dibangun berdasarkan penelitian saintis Swiss pada 1995, Dr Claus Wedekind, yang dikenal dengan penelitian "keringat kaus oblong".

Dalam penelitian ini, sekelompok mahasiswi diminta memberi nilai bau kaus oblong yang dipakai oleh beberapa laki-laki dua malam berturut-turut.

Hasilnya, para mahasiswi lebih menyukai kaus-kaus milik laki-laki yang punya HLA yang berbeda dengan para mahasiswi.

GenePartner menguji teori ini terhadap 250 pasangan yang menikah dan menemukan pola yang sama.

"Ketika Anda tertarik dengan seseorang, faktor penentunya bukan ketampanan atau kecantikan ... Anda [sebenarnya] tak tahu apa yang membuat Anda tertarik. Nah, faktor tersebut sebenarnya adalah HLA," kata Brown.

Ia mengatakan peran HLA yang membuat seseorang tertarik dengan orang lain ini bersifat "instingtif dan sangat mendasar".

Cheiko Mitsui, Cheiko Date, and suami Cheiko Mitsui
Cheiko Date (tengah) meyakini sains bisa dimanfaatkan untuk membantu seseorang menemukan jodoh yang tepat.

Bagi Cheiko Mitsui, analisis DNA sangat membantunya menemukan suami.

Mereka menikah pada September 2019 setelah berkencan selama kurang lebih satu bulan.

"Hasil analisis [memang] tidak 100% [cocok], namun nyaris sempurna ... saya memang mengharapkan hasil yang bagus, tapi hasilnya lebih baik dari yang saya perkirakan, jadi ya saya sangat bahagia," kata Mitsui.

Ia mengakui hasil tes DNA berperan besar untuk akhirnya memutuskan menikahi pasangannya.

"[Analisis DNA] telah mengubah jalan hidup saya," katanya.

Cheiko Mitsui dan suami
Cheiko Mitsui berharap makin banyak pasangan yang terbantu dengan analisis kecocokan berbasis DNA.

Namun, Dr Diogo Meyer, pakar genetika dari University of Sao Paulo, Brasil, memperingatkan bahwa klaim DNA membantu menemukan jodoh ideal "masih terlalu awal".

"Ini masih sesuatu yang kontroversial ... diperlukan studi lanjutan untuk memastikan efek HLA [terhadap keputusan seseorang untuk menentukan pasangan]," kata Meyer.

Sampel DNA
Beberapa saintis memperingatkan klaim DNA bisa membantu menemukan jodoh ideal `masih terlalu awal`.

Bagi Ami -- bukan nama sebenarnya -- analisis DNA ia harapkan bisa membantunya menemukan jodoh yang ia impikan, setidaknya membantu menemukan orang yang tepat, entah kapan.

Sejak ikut program perjodohan Cheiko Date tahun lalu, perempuan 32 tahun dari Jepang ini menjalin hubungan dengan dua laki-laki.

Ia mengatakan tes DNA "jelas membantunya" mengambil keputusan.

Ia menggambarkan dua laki-laki ini sangat baik, berpendidikan, dan sangat sopan. "Yang menarik adalah, saya bisa mengatakan kalau keduanya adalah orang yang baik ... tapi seperti ada sesuatu yang hilang, dan saya tak tahu mengapa," kata Ami.

Ia lantas berdiskusi dengan Date dan membahas tes DNA.

Disimpulkan dua laki-laki ini "hanya berada pada zoba persahabatan" alias tidak cocok untuk dijadikan suami.

"Meski saya merasa sangat nyaman dengan keduanya, sepertinya ada faktor penting yang hilang [yang membuat saya tak berani melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius]," kata Ami.

`Membantu menambah yakin dengan pasangan`

Melissa, dari Queensland, Australia, mengatakan hubungan dengan kekasihnya mengalami krisis saat ia memutuskan melakukan tes kompatibilitas.

Ia dan kekasihnya menggunakan layanan situs DNA Romance yang mengeklaim "bisa meramalkan kecocokan antara dua orang dengan menggunakan DNA".

Di masa lalu, kata Melissa, ia punya banyak pacar, tapi hubungan asmara ini selalu kandas. "Itu seperti saya membuang-buang waktu," ujar Melissa.

Lalu pada 2017 ia bertemu dengan Mez melalui aplikasi kencan Tinder.

Kencan pertama mereka terjadi di Cannes, Prancis.

"Rasanya istimewa. Saya sebenarnya gugup tapi juga ada perasaan bahwa Mez mungkin adalah orang yang saya cari selama ini," kata Melissa.

Perangkat tes DNA Romance
Users of DNA Romance are asked to submit a sample of their saliva for analysis, or can upload their raw data provided by ancestry websites

Namun, hubungannya dengan Mez tak berjalan mulus dan keduanya sempat putus sebentar.

Ketika kembali menjalin hubungan, Melissa meminta Mez ikut tes kompatibilitas genetika.

Hasilnya menunjukkan ia dan Mez cocok 98%.

"Saya tentu sangat bahagia ... ini seperti menjadi konfirmasi bahwa hubungan kami layak untuk diteruskan dan menjadi lebih serius," kata Melissa.

Keduanya kemudian menikah dan sekarang tengah menunggu kelahiran anak pertama.

Ahli genetika dari Max Planck Institute for the Science of Human History, di Jerman, Rodrigo Barquera, berpendapat gen-gen HLA "tak bisa memprediksi tingkat kesuksesan hubungan percintaan antara dua orang".

Ia mengatakan hubungan antarmanusia sangat kompleks dan tak bisa hanya diukur dari gen-gen HLA.

Melissa dan Mez
Melissa dan Mez menanti anak pertama tahun ini.

Bagi Sienna dan Rodrigo Meneses, perjodohan berbasis DNA sepertinya hal yang mustahil.

Sienna merasa Rodrigo adalah belahan jiwanya, namun karena penasaran, ia memutuskan untuk mengikuti tes kompatibilitas.

Hasilnya, ia dan pasangannya 90% cocok.

"Kami terkejut. Kami memang merasa cocok sejak awal, tapi hasil tes seakan menjadi konfirmasi bagi kami. Jadi ya tentu kami sangat senang dan bahagia," kata Sienna.