Kisah Perjuangan Sopir Ambulans Pembawa Pasien COVID-19

·Bacaan 2 menit

VIVA – Samsuludin, (42 tahun) adalah seorang yang perawat dan sekaligus sopir ambulans yang biasa membawa pasien COVID-19 dari satu tempat ke tempat isolasi.

Setiap harinya, dia harus sudah mengambil kendaraan mobil ambulans di Rumah Sakit Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, mulai pukul 09.00 WIB. Dengan memakai pakaian Alat Pelindung Diri (APD) yang sudah sesuai standar protokol kesehatan, dia berangkat bekerja.

Begitu ada instruksi dari koordinator melalui grup Whatsapp, maka ia langsung bergegas menjemput pasien COVID-19 yang telah ditentukan. Kebanyakan menjemput pasien dari puskesmas yang ada di wilayah Provinsi DKI Jakarta terus dibawa ke Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat.

"Kita sering ngirim seringnya ke Wisma Atlet," kata Samsuludin kepada VIVA di Jakarta, Sabtu, 29 Mei 2021.

Terkadang, dia menjemput pasien positif COVID-19 dari Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kadang juga menjemput pasien corona di wilayah Pulogadung, Jakarta Timur, kemudian ke wilayah Jakarta Barat hingga ke Jakarta Pusat juga.

"Rata-rata bisa angkut 5-6 pasien COVID-19 dalam sekali jalan. Kadang bisa angkut sampai 9 kali jalan," katanya.

Bekerja sebagai sopir ambulans tentu berbeda dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang hanya bekerja sembilan jam. Tapi, Samsuludin bekerja hingga 12 jam.

Tentunya, sebagai sopir pembawa pasien corona , ia merasa ada kekhawatiran tertular dari pasien COVID-19. Meskipun sudah menggenakan APD lengkap yang sesuai dengan aturan protokol kesehatan. "Khawatir memang ada. Apalagi ini suatu penyakit yang enggak ribet nularinya," katanya.

"Kepikiran muncul kalau pilek flu itu baru kepikiran. Kalau sudah enggak enak badan dikit saya berupaya memulihkan secepatnya. Baik dengan istirahat, suplemen, saya menjaga pikiran dan tenaga juga biar enggak terlalu capek," tambahnya.

Meskipun demikian, dia merasa dengan profesi yang dikerjakannya sekarang ini turut membantu pemerintah dalam mengatasi pandemi yang melanda Tanah Air ini. Ya, walaupun bukan dengan materi dan hanya dengan tenaga.

"Alhamdulillah bisa menjadi bagian tanggung jawab kepada negara, dan Alhamdulillah masih diberikan kesehatan. Bisa melanjutkan tugas-tugas itu. Lebih merasa menjadi mengurangi beban masyarakat dengan tenaga," katanya.

Tidak lupa Smasuludin mengimbau agar masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan 3M; mencuci tangan, menggunakan masker, dan menjaga jarak.